Memaknai Pengorbanan Para ‘Pahlawan’ di Masa Pandemi Covid-19

Terkini.id, Kupang – Kemerdekaan adalah hasil dari perjuangan para ‘pahlawan’ yang telah berjuang tanpa pamrih, meninggalkan keluarga yang dicintai, melepaskan keegoisan dan kesenangan-kesenangan pribadi, hanya demi satu tujuan dan tekad yang mulia, agar bangsa dan negara tercinta Indonesia bebas dari belenggu penjajahan.

Hal itu disampaikan Penyuluh Agama Buddha Kota Kupang Widya Dharmma Palla dalam siaran mimbar agama Buddha yang rutin dibawakannya setiap pekan pada Rabu pagi pukul 06.30 Wita di Radio Swara Timor 90.1 FM, Jalan Hati Mulia V, Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pada Rabu 1 Desember 2021 lalu, Widya memang mengangkat topik mengenai ‘pahlawan’ guna mengaitkannya dengan Hari Pahlawan yang jatuh setiap 10 November di Indonesia.

Baca Juga: Tak Ada Provinsi Luar Jawa-Bali Berstatus PPKM 3-4, Menko Airlangga:...

Dengan mengusung tajuk ‘Implementasi Rasa Syukur dan Terima Kasih pada Masa Pandemi Covid-19’, Widya mengungkapkan ‘pahlawan’ yang dimaksudnya dalam masa pandemi adalah semua individu maupun komunal yang memiliki kepedulian yang besar terhadap penuntasan kasus virus corona, khususnya para tenaga kesehatan (nakes) di Tanah Air.

“Sampai saat ini, negara kita sudah lama merdeka karena para pahlawan bangsa berhasil melawan para penjajah. Namun, saat ini negara kita dan negara-negara lainnya memiliki masalah yang sama yaitu sedang berjuang melawan virus Covid-19 yang saat ini melanda dunia,” imbuhnya.

Baca Juga: Keluarkan SE PPKM Level 2, Pemkot Kupang Beberkan Aturan yang...

Menurutnya, virus Covid-19 ini sudah hampir dua tahun lamanya telah menyebabkan munculnya berbagai masalah bagi negara di dunia. Banyak orang yang harus kehilangan pekerjaan dan tidak sedikit orang meninggal dunia akibat destruksi dari virus tersebut.

“Orang-orang yang menjadi korban juga berasal dari para tenaga kesehatan. Ketika bangsa kita dijajah, para pahlawan berjuang merebut kemerdekaan. Saat ini ketika negara terserang virus covid-19, maka kita semua elemen masyarakat harus mendukung pemerintah dan para tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan, semua berjuang bersama untuk menyelesaikan masalah ini, dan mereka juga adalah pahlawan,” tegasnya.

Sejatinya, sebut Widya, virus Covid-19 saat ini menyebabkan semakin banyak korban. Hal ini juga disebabkan karena masih banyaknya masyarakat yang kurang peduli terhadap protokol kesehatan (prokes).

Baca Juga: Satgas Ingatkan Patuhi Prokes, Ungkap Keterisian BOR Pasien Covid-19 Mulai...

“Ketika masih banyaknya orang yang lalai terhadap aturan, maka menjadi gambaran bahwa banyak orang yang tidak menghargai jasa dari orang-orang yang berjuang menangani masalah ini. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah yang seharusnya diperbuat?” katanya

Widya menambahkan, di alam kehidupan yang nyata ini, kalau mau mengakuinya dengan sejujurnya, sebenarnya terdapat dua tipe manusia yang sungguh sukar diketemukan yaitu seseorang yang punya inisiatif melakukan kebaikan (pubbakari) dan seseorang yang tahu rasa terima kasih terhadap kebaikan orang lain (katannukatavedi).

“Dalam Anguttara Nikaya I:87, Sang Buddha mengatakan ‘Para bhikkhu, kedua jenis individu ini adalah jarang di dunia ini. Siapakah dua ini? Seseorang yang berinisiatif dalam menolong orang lain dan seorang yang bersyukur dan berterima kasih. Kedua jenis individu ini adalah jarang di dunia ini’. Nah, itulah dua jenis individu dalam perspektif agama Buddha,” jelasnya.

Widya memaparkan, dalam kehidupan ini harus diakui tidak banyak orang yang memiliki sifat seorang pubbakari. Umumnya, seseorang baru akan melakukan sesuatu (menolong), terutama sekali kepada saudaranya atau seagama, sesuku dan sealiran dengannya, jika suatu hari kelak memberikan manfaat (imbalan) bagi dirinya.

“Sulitnya seseorang memiliki sifat pubbakari ini, umumnya lantaran kuatnya keegoisan dan kemelekatan yang membelenggu batin seseorang,” katanya.

Widya menambahkan, Sang Buddha menyatakan ‘Orang yang dicengkeram keinginan yang dipenuhi racun keduniawian, kesedihannya akan terus berkembang biak, bagaikan rumput birana yang berkembang subur’.

Menurutnya, sabda Buddha yang dikutip dari Dhammapada, Tanha Vagga XXIV: 335 itu, adalah pedoman bagi umat Buddha untuk mengimplementasikan kebaikan bersama.

“Oleh karena itu, kita perlu menumbuhkan kesadaran diri atau memiliki inisiatif untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik (pubbakari). Dalam masa pandemi Covid-19 ini, perbuatan baik itu misalnya adalah mematuhi kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah seperti mematuhi protokol kesehatan 5M, mengikuti vaksinasi, dan hal-hal lain terkait kemaslahatan kesehatan dan keselamatan kita bersama,” urai Widya.

Ia menjabarkan, manusia yang disebut sebagai pubbakari adalah mereka yang memiliki inisiatif untuk berbuat baik dan rela berkorban demi kebahagiaan orang lain tanpa diiringi kemelekatan ataupun imbalan sedikit pun.

“Dalam kondisi saat ini, memiliki sifat pubbakari adalah sangat penting. Hal ini sebagai cara untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Orang-orang memiliki inisiatif yang baik dalam mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah, yang manfaatnya selain menolong diri sendiri juga menolong orang lain,” tegas Widya.

Pasalnya, jika tidak mengindahkan apa yang diamanatkan pemerintah maka dampak dari Covid-19 tidak hanya berhubungan dengan masalah kesehatan, namun juga ekonomi.

“Banyak orang-orang yang harus kehilangan pekerjaan sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-sehari. Oleh karena itu, ini menjadi kesempatan yang baik untuk membantu mereka tanpa mengharapkan imbalan,” imbuh Widya.

Lebih lanjut, pria kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menghabiskan pendidikannya di Malang, Jawa Timur ini mengatakan umumnya orang-orang sulit untuk menghargai dan berterima kasih terhadap kebaikan orang lain.

“Yang sering menjadi alasan mengapa seseorang bersikap seperti itu karena mereka hanya melihat kejelekan orang lain,” bebernya.

Widya mengungkapkan peribahasa menyinggung sebagian orang yang ‘ngeyel’ terhadap protokol kesehatan.

“Ini ibarat ‘gajah di pelupuk mata tidak tampak, tetapi semut di seberang lautan tampak jelas’. Sudah menjadi kebiasaan bahwa seseorang lebih mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi kesalahan diri sendiri sulit untuk dilihat. Seseorang dapat menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain seperti menampi dedak tetapi ia menyembunyikan kesalahan-kesalahannya sendiri seperti penjudi licik, yang menyembunyikan dadu berangka buruk,” ungkapnya.

Menurut Widya, memiliki rasa terima kasih (katannukatavedi) terhadap kebaikan orang lain, seperti menghargai apa yang telah dilakukan pemangku kepentingan dan tenaga kesehatan demi kebaikan masyarakat itu sendiri adalah hal yang sangat penting.

 “Kita perlu merenungkan, saat ini sulit menemukan orang yang sempurna. Dalam kondisi sekarang ini sebagai manusia, sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada orang-orang yang berjuang dalam menangani masalah di negara kita termasuk kasus-kasus Covid-19 yang terjadi saat ini,” imbaunya.

Wujud terima kasih yang sewajarnya, sebut Widya, yang patut dilaksanakan manusia berbudi pekerti baik adalah mematuhi anjuran protokol kesehatan dari pemerintah dan ikut serta mendukung negara dan bangsa ini melalui tindakan-tindakan positif lainnya.

“Misalnya, kita jaga kondisi tenteram dalam masa pandemi Covid-19 dengan tidak menyebarkan hoaks atau kabar bohong yang justru bisa memperkisruh masyarakat itu sendiri,” pesannya.

Oleh karena itu, Widya menegaskan jika setiap individu harus berusaha menyokong dan membantu setiap kebijaksanaan dan program pemerintah.

“Ini agar cita-cita luhur untuk meraih keadilan dan kemakmuran yang merata bisa terealisasikan. Ini wujud dari ungkapan terima kasih yang seharusnya diterapkan,” tutupnya.

Bagikan