Kemenparekraf Dorong Pemulihan Pariwisata Melalui Pemanfaatan Teknologi di Masa Pandemi

Terkini.id, Kupang – Sebagai salah satu sektor yang mendapat dampak paling besar dalam masa pandemi Covid-19 adalah industri pariwisata. Kebangkitan sektor pariwisata harus menjadi salah satu prioritas lantaran memiliki rantai industri yang cukup panjang.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) bersama penyedia ekosistem smart city Qlue, siap mendorong pemulihan industri pariwisata di masa pandemi Covid-19 melalui pemanfaatan teknologi digital.

President Qlue Maya Arvini mengatakan, faktor keamanan dan keselamatan kini menjadi fokus utama wisatawan dalam melakukan perjalanan untuk berwisata. Hal itu sejalan dengan situasi Indonesia yang belum sepenuhnya aman dari penyebaran virus Covid-19.

Baca Juga: Tak Ada Provinsi Luar Jawa-Bali Berstatus PPKM 3-4, Menko Airlangga:...

“Karena itu, pemanfaatan teknologi menjadi aspek krusial dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat yang ingin berwisata,” terangnya.

Bagi pelaku industri pariwisata sendiri, ungkap Maya, teknologi juga memegang peranan penting untuk mengaktifkan kembali geliat bisnis. Hal itu bertujuan meraih kepercayaan masyarakat yang kini mulai ramai menyasar daerah dengan daya tarik wisata.

Baca Juga: Keluarkan SE PPKM Level 2, Pemkot Kupang Beberkan Aturan yang...

Menurutnya, dengan teknologi akan memberikan rasa aman yang lebih baik bagi wisatawan lantaran bisa menjangkau aspek operasional yang lebih luas namun tetap efisien dari sisi pengeluaran.

“Kawasan wisata saat ini sudah semakin ramai dan kembali bergeliat. Pemanfaatan teknologi memungkinkan untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan, salah satunya dengan teknologi people counting dan vehicle counting,” imbuh Maya dalam diskusi publik bertajuk ‘QlueTalk Road to Indonesia Smart Nation: Reaktivasi Industri Pariwisata dengan Pemanfaatan Teknologi Indonesia’ yang digelar secara daring, Senin 29 November 2021.

Pasalnya, dengan teknologi deteksi akan semakin cepat yang memungkinkan pemangku kepentingan untuk merespons situasi secara lebih baik dan akurat.

Baca Juga: Satgas Ingatkan Patuhi Prokes, Ungkap Keterisian BOR Pasien Covid-19 Mulai...

Ia memaparkan, berdasarkan data dari Department of Economic and Social Affairs United Nations, demografi pariwisata global saat ini didominasi kelas milenial yang berada dalam rentang usia 18-34 tahun, atau sekitar 51 persen dari total turis potensial di seluruh dunia.

Segmen ini, sebut Maya, merupakan wisatawan yang sangat akrab terhadap pemanfaatan teknologi. Dijelaskan, semua hal akan terkait aspek digital sehingga akan sangat berdampak pada destinasi wisata.

“Di Indonesia sendiri, terdapat 82 juta orang yang masuk dalam kategori wisatawan milenial ini. Kemenparekraf mencatat, selama pandemi Covid-19 terjadi perubahan perilaku wisatawan dibanding kondisi sebelum pandemi terjadi,” bebernya.

Sementara itu, Direktur Komunikasi Pemasaran Kemenparekraf Diah Paham dalam kesempatan yang sama menambahkan, perubahan perilaku tersebut berupa kecenderungan berwisata dengan kelompok yang lebih kecil, periode liburan yang lebih lama namun frekuensi yang lebih sedikit, lokasi yang lebih dekat dengan tempat tinggal, dan pertimbangan penerapan protokol kesehatan (prokes) di tempat wisata.

Perubahan perilaku itu, sebut Diah, membuat pemerintah mendorong pelaku usaha untuk lebih menyesuaikan diri agar dapat lebih efektif menjalankan usaha.

Ia mengungkapkan, salah satu cara yang efektif untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat adalah dengan pemanfaatan teknologi informasi. Penggunaan teknologi juga diyakini akan meningkatkan preferensi wisatawan sekaligus menjadi daya tarik sendiri.

“Kemenparekraf mendorong semua aspek pariwisata dilengkapi teknologi informasi, seperti digital payment dan digital tourism yang memanfaatkan teknologi virtual reality atau virtual tour. Jadi kuncinya adalah adaptasi, inovasi, dan kolaborasi. Pemanfaatan teknologi digital ini merupakan aspek tak terpisahkan dari semangat reaktivasi industri pariwisata di Indonesia,” imbuh Diah.

Adapun Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum ASPPI Agus Pahlevi mengatakan, penyempurnaan metode kerja yang kolaboratif ke arah digital semakin krusial dalam pengembangan industri pariwisata Indonesia di era new normal ini.

Pasalnya, Agus beralasan penggunaan aspek digital akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap destinasi wisata karena akan membangun persepsi, daya tarik wisata itu sudah dikelola secara baik dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.

“Kami dari asosiasi juga selalu mendorong pelaku usaha pariwisata untuk go digital demi meningkatkan daya tarik wisatawan. Hal itu akan mempercepat adaptasi industri yang menunjukan, era normal baru di sektor pariwisata dapat didukung teknologi informasi. Kolaborasi dalam berinovasi diperlukan untuk mencapai pariwisata yang berkualitas,” tegasnya.

Serupa yang disampaikan narasumber sebelumnya, Founder dan CEO Qlue Rama Raditya menegaskan teknologi informasi menjadi aspek vital dalam revitalisasi industri pariwisata yang mulai kembali bergerak setelah hampir dua tahun terdampak pandemi Covid-19.

“Proses digitalisasi ini akan memberikan nilai tambah yang signifikan dalam upaya meningkatkan manajemen tata kelola destinasi wisata, yang menyesuaikan tren dan kebutuhan masyarakat akibat pandemi,” jelasnya.

Menurut Rama, implementasi teknologi informasi yang dilakukan pihaknya juga sudah masuk ke sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Ia mengungkapkan, sejumlah pelaku usaha pariwisata seperti Hotel Mandarin Oriental Jakarta dan Mall Grand Indonesia telah memanfaatkan solusi teknologi untuk mendeteksi suhu tubuh dalam menerapkan protokol kesehatan.

Ia menambahkan, acara tour Komoidoumenoi yang diinisiasi komika Pandji Pragiwaksono juga memanfaatkan teknologi pihaknya dalam mendukung kegiatan tersebut.

“Pada banyak aspek industri selama pandemi, digitalisasi melalui pemanfaatan teknologi informasi membuat operasional usaha bisa tetap berjalan secara adaptif. Karena itu, industri pariwisata harus berinovasi pada dunia digital untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat yang ingin berwisata,” kata Rama.

Untuk itulah, pihaknya berkomitmen mendukung penuh para pelaku usaha karena sektor pariwisata ini merupakan salah satu indikator perbaikan ekonomi masyarakat.

Bagikan