Kondisi Kasus Covid-19 di NTT Cukup Terkendali Diikuti Level PPKM yang Rendah

Terkini.id, Kupang – Saat ini Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengedepankan kolaborasi lintas sektor dalam penanganan pandemi virus corona. Saat ini pula, sedang dilakukan persiapan dalam pelaksanaannya. Ditambah kondisi kasus di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang cukup terkendali dengan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang juga rendah.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Satgas Penanganan Covid-19/Kepala BNPB melalui Juru Bicara/Koordinator Tim Pakar, Wiku Adisasmito dalam konperensi pers bersama secara virtual terkait Evaluasi Program Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) dan Optimalisasi Anggaran Tahun 2021 yang juga disiarkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa 26 Oktober 2021.

Wiku menjelaskan, dari lima kabupaten/kota, empat berada di level satu dan satu kabupaten/kota berada di level dua. Selanjutnya, cakupan vaksinasi yang cukup tinggi yaitu di Mataram 92,74 persen, Lombok Barat 56,37 persen, Lombok Tengah 68,69 persen, Lombok Timur 48,29 persen, dan Lombok Utara 69,59 persen.

Baca Juga: Tak Ada Provinsi Luar Jawa-Bali Berstatus PPKM 3-4, Menko Airlangga:...

“Yang penting diingat dalam beberapa bulan ke depan, libur Natal dan tahun baru (Nataru) 2022 berpotensi menimbulkan lonjakan kasus. Oleh karena itu, keberhasilan Indonesia dalam penanganan menjadi indikator penting, sehingga cita-cita produktif dan aman Covid-19 dapat tercapai,” paparnya.

Wiku menambahkan, hal itu bisa dikatakan berhasil jika memasuki 2022 mendatang tidak ada lonjakan kasus Covid-19.

Baca Juga: Keluarkan SE PPKM Level 2, Pemkot Kupang Beberkan Aturan yang...

Menurutnya, Satgas Covid-19 dalam melakukan tugasnya di 2021 berpegang pada prinsip kolaborasi lintas sektor. Untuk itu, pihaknya juga telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang mengatur pelaku perjalanan baik internasional dan dalam negeri, hingga melakukan penanganan hingga ke tingkat terkecil guna memutus mata rantai penularan virus corona.

Wiku menguraikan, dalam penanganan Satgas Covid-19 memiliki enam bidang di antaranya Bidang Data/IT, Komunikasi Publik, Perubahan Perilaku, Penanganan Kesehatan, Koordinasi Relawan, dan Perlindungan Tenaga Kesehatan.

“Penanganannya dilakukan mulai dari hulu ke hilir yang dibagi dalam tiga pilar, yaitu pilar promotif/preventif, pilar surveilans, dan pilar kuratif dengan tiga strategi yaitu sosialisasi dan edukasi, penegakan kedisilinan, dan kolaborasi lintas unsur,” jelasnya.

Baca Juga: Satgas Ingatkan Patuhi Prokes, Ungkap Keterisian BOR Pasien Covid-19 Mulai...

Sepanjang 2021, sebut Wiku, Satgas Covid-19 menerapkan berbagai kebijakan.

“Dapat terlihat pada awal 2021, terjadi lonjakan kasus akibat libur Natal dan tahun baru 2021. Kebijakan saat itu menerapkan PPKM sekaligus menjadi mitigasi kasus pada lonjakan pertama,” bebernya.

Lebih lanjut, Wiku menjelaskan setelah kasus turun, kebijakan PPKM dilanjutkan PPKM Mikro yang diterapkan di seluruh Indonesia.

Satgas Covid-19 membentuk posko hingga ke tingkat desa/kelurahan di seluruh Indonesia dalam mengawasi protokol kesehatan (prokes) di tingkat terkecil sehingga dapat memutus mata rantai penularan dan masyarakat tetap aman dan produktif.

Pada saat terjadinya lonjakan kedua di Juli 2021, PPKM Mikro dilanjutkan disertai kebijakan PPKM Darurat lantaran terjadi lonjakan akibat dampak dari libur hari raya Idul Fitri.

“Kebijakan ini (PPKM Darurat) berhasil menekan kasus sehingga dilanjutkan dengan penerapan PPKM Level 1- 4 yang masih berlaku hingga saat ini,” imbuh Wiku.

Selain berbasis PPKM, kebijakan Satgas Covid-19 juga mengatur pelaku perjalanan internasional dan perjalanan dalam negeri. Untuk perjalanan internasional, Satgas telah mengeluarkan enam surat edaran dan 11 surat edaran perjalanan dalam negeri sepanjang 2021.

Ini juga termasuk mengeluarkan kebijakan peniadaan mudik Lebaran 2021. Upaya lainnya, imbuh Wiku, seperti pemantauan perubahan perilaku masyarakat yaitu menjaga jarak, memakai masker, pembentukan posko di seluruh Indonesia, penyediaan fasilitas isolasi terpusat, dan distribusi masker sebagai upaya pencegahan penularan virus corona.

Sementara itu, dari enam bidang dalam Satgas Covid-19, dari bidang Data/IT penyediaan sistem data ‘Bersatu Lawan Covid-19’, zonasi risiko, monitoring perubahan perilaku, dan pelaksanaan PPKM Mikro.

“Dari kumpulan data yang ada, digunakan Kementerian/Lembaga tingkat pusat dan daerah sebagai dasar analisis situasi dan dasar pengambilan keputusan,” kata Wiku.

Selanjutnya, ia mengemukakan pada Bidang Perubahan Perilaku adalah membantu mempercepat perubahan perilaku masyarakat dan menerapkan protokol kesehatan seperti sosialisasi dan edukasi dengan berbagai macam metode.

“Bidang ini bekerja sama berbagai institusi dan menghasilkan materi edukasi seperti pedoman, video, lagu, dan pagelaran seni. Bidang ini telah mendidik lebih 60 juta orang dan menghasilkan 123 ribu Duta Perubahan Perilaku yang tersebar di Indonesia,” papar Wiku.

Adapun bidang Komunikasi Publik, sebutnya, bertugas menyebar informasi dari setiap elemen Satgas Covid-19 kepada masyarakat.

“Saat ini ada 13 stasiun televisi swasta yang bekerja sama, 18 media cetak, 24 media online, hingga radio dan media luar ruangan serta 3.030 jurnalis yang telah berkolaborasi,” jelas Wiku.

Menurutnya, kolaborasi tersebut telah menghasilkan total 38.643 berita yang ditayangkan media siber, media cetak, televisi dan radio, serta lainnya,” imbuhnya.

Pada bidang Koordinasi Relawan, Wiku mengatakan bertugas menghimpun dan mengkoordinasi serta mendistribusikan relawan Covid-19 dalam kegiatan edukasi serta asistensi yang dilakukan Kementerian/Lembaga sesuai yang dibutuhkan.

Sementara itu, bidang Kesehatan, Perlindungan Tenaga Kesehatan secara kolaboratif mendukung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam melakukan upaya surveilans, yaitu testing, tracing, dan treatment (3T) serta perlindungan terhadap tenaga kesehatan.

“Satgas Covid-19 terus berkoordinasi dengan Kementerian/Lembaga tingkat pusat dan daerah untuk memastikan pengendalian terstruktur. Meskipun saat ini kondisi terkendali, masih ada tugas meningkatkan cakupan vaksinasi dan untuk itu kita semuanya harus bisa menanganinya dengan baik,” imbau Wiku.

Dengan demikian, tegasnya, kondisi pandemi yang mengalami perbaikan saat ini harus dijaga jangan sampai terjadi lonjakan seperti negara lainnya.

Wiku menjelaskan, Indonesia sendiri telah berhasil menyelenggarakan kegiatan besar yang dibuktikan dengan penyelenggaraan PON XX Papua 2021.

Menurutnya, dari PON XX di Papua, penularan dapat terkendali terbukti hanya ditemukan 176 kasus dari 10 ribu peserta. Positivity rate juga terbilang rendah yaitu 1,13 persen.

“Keberhasilan penyelenggaraan PON XX menjadi modal Indonesia dalam menyelenggarakan kegiatan besar mendatang seperti Superbike Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB),” kata Wiku.

Ia menegaskan, penting diingat dalam beberapa bulan ke depan libur Nataru berpotensi menimbulkan lonjakan kasus.

“Oleh karena itu, keberhasilan Indonesia dalam penanganan menjadi indikator penting sehingga cita-cita produktif dan aman Covid-19 dapat tercapai. Kita dapat dikatakan berhasil jika memasuki 2022 tanpa ada lonjakan kasus,” tutup Wiku.

Bagikan