Begini Cara Jaga Nutrisi Bayi-Batita dalam Masa Pandemi Covid-19

Terkini.id, Kupang – Rundungan wabah virus corona yang masih menjadi pandemi Covid-19 di seantero dunia, memang harus disikapi secara arif. Menghadapi masa pandemi yang berkepanjangan tersebut, tidak dapat dinafikan betapa destruktifnya Covid-19 dalam tatanan kehidupan manusia.

Bagi orang dewasa, tentu lebih mudah menghadapi virus yang diklaim menular perdana di Wuhan, Hubei, China itu. Ini bila dibandingkan anak-anak atau bahkan bayi dan bawah tiga tahun (batita). Pasalnya, orang dewasa sudah dapat berpikir dan bertindak sendiri, sementara bayi dan batita masih di bawah pengendalian orang tuanya.

Seperti dilansir dari laman resmi pemerintah Covid19.go.id, Sabtu 9 Oktober 2021, tidak jarang asupan nutrisi para bayi dan batita kerap terkesampingkan. Padahal, saat ini menjaga nutrisi agar tetap seimbang adalah salah satu kunci untuk menjaga daya tahan tubuh agar tidak terinfeksi virus corona.

Baca Juga: Ini Dampak Buruk Kesehatan Mental yang Tak Baik dalam Masa...

Melansir laman resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), idai.or.id, berdasarkan berbagai data, anak-anak usia batita memiliki prevalensi yang lebih kecil untuk terinfeksi Covid-19 apabila dibandingkan usia dewasa atau lanjut usia (lansia), namun pemenuhan gizi bagi anak harus menjadi prioritas utama pencegahan terhadap virus ini.

“Status gizi anak yang kurang baik menjadi faktor risiko bagi seorang anak untuk rentan terjangkit infeksi. Imunitas tubuh sangat erat kaitannya dengan cukup atau tidaknya asupan nutrisi anak yang berpengaruh langsung terhadap status gizi dan daya tahan tubuhnya,” demikian pemaparan IDAI.

Baca Juga: Vaksinasi Lansia Dikebut Jelang Nataru, Upaya Tekan Lonjakan Corona Pasca...

Selanjutnya, IDAI mengungkapkan permasalahan gizi pada anak saat ini tidak hanya gizi yang kurang, namun juga obesitas. Terkait hal tersebut, IDAI mengklaim jika itu bakal menjadi salah satu faktor risiko yang memperberat kondisi penyakit virus Covid-19.

Oleh karena itu, IDAI mengimbau poin utama yang menjadi fokus perhatian adalah bagaimana ketepatan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) bagi anak-anak pada rentang usia seribu hari pertama kehidupan.

Selain itu, juga komposisi makanan dengan gizi seimbang pada anak batita demi menjaga imunitas anak agar terhindar dari berbagai infeksi penyakit, termasuk virus corona.

Baca Juga: Kabar Baik, Tak Ada Lagi Wilayah Zona Merah Kasus Corona...

IDAI memaparkan, asupan makanan pada anak dengan komposisi gizi yang tepat dari segi jumlah, jenis, dan frekuensinya akan memperbaiki status gizi. Dengan demikian, hal itu dapat memperkuat benteng imunitas tubuh sehingga anak akan mampu menangkal infeksi.

Pasalnya, jika seorang anak terlanjur terkena infeksi maka penyembuhannya akan jauh lebih berat. Untuk itu, pemberian nutrisi selama masa pandemi harus mencakup asupan makronutrien dan mikronutrien yang cukup dan seimbang sehingga kebutuhan gizi anak terpenuhi.

Asupan makronutrien di antaranya karbohidrat, protein, dan lemak. Adapun mikronutrien meliputi mineral seperti seng, zat besi, kalsium, asam folat, serta vitamin seperti vitamin A, C, D, E, B6, dan B12.

Sementara sumber-sumber mikronutrien tersebut sebagian besar dapat diperoleh dari protein hewani seperti ayam, hati ayam, daging sapi, ikan, salmon, sarden, telur, kerang, dan produk susu (diary).

Untuk komposisi makanan harian, tidak jarang para orang tua mengutamakan karbohidrat sebagai komposisi utama makanan anak sehingga anak hanya kenyang namun kebutuhan gizi tidak terpenuhi.

IDAI mencontohkan, konsumsi harian anak usia 12-23 bulan. Untuk lauk pauk sebagai sumber protein seperti telur dua-tiga butir per hari, daging ayam atau ikan 80-120 gram per hari, dan 75-90 gram hati ayam.

Sementara itu, untuk sumber lemaknya meliputi 50 gram santan per kali makan atau satu sendok teh margarin atau mentega atau minyak goreng per kali makan. Bisa juga diganti minyak kelapa, minyak jagung atau minyak kedelai.

Untuk sayur, bisa diberikan sepertiga gelas setelah dimasak per harinya. Buah-buahan dapat diberikan setengah potong atau seperempat gelas buah segar. Adapun sebagai pelengkap dapat diberikan produk dairy seperti susu, yoghurt sekitar dua hingga tiga gelas per hari atau satu sama dengan 250 mililiter (ml).

Dalam praktiknya, tidak dapat dipungkiri cukup sulit bagi orang tua mengatasi anak yang sulit makan. Sehingga, kerap yang dilakukan adalah memberi hanya yang disukai anak.

“Jika mengalami kondisi ini, para orang tua bisa menyiasatinya dengan memberikan menu makanan yang berbeda baik dari segi penampilan atau rasa agar lebih menarik dengan  tetap memperhatikan aturan makan yang benar pada anak,” imbuh IDAI.

Penting untuk digarisbawahi yaitu pemberian suplementasi bukanlah pengganti makanan serta bukan merupakan solusi utama untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Suplementasi hanya bersifat sebagai tambahan atau pelengkap pada asupan anak.

“Orang tua juga harus cermat dalam memilih, menyimpan, dan mengolah bahan makanan agar aman dikonsumsi, terutama dalam masa pandemi ini. Kita dianjurkan untuk seminimal mungkin pergi membeli bahan makanan dan untuk mengolahnya hingga benar-benar matang agar terhindar dari bakteri atau virus berbahaya,” demikian imbauan IDAI.

IDAI juga menekankan agar masyarakat tidak boleh melalaikan kebersihan. Hal ini dianggap penting agar dapat terhindar dari virus corona.

“Terapkan dengan disiplin protokol kesehatan (prokes) 5M, dan lakukan vaksinasi dengan dosis lengkap agar kita semua bisa hidup damai berdampingan dengan Covid-19,” papar IDAI.

Adapun 5M yang dimaksud IDAI merujuk terhadap lima poin esensial dalam mengeradikasi virus corona, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak aman, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Bagikan