Ini Upaya Bijak Apabila Bertemu Orang yang Skeptis Vaksin Covid-19

Terkini.id, Kupang – Vaksinasi Covid-19 merupakan salah satu upaya yang digunakan semua negara guna mengatasi pandemi lantaran virus corona. Mengutip laman resmi Kementerian Kesehatan, Kamis 30 September 2021, di Indonesia data vaksinasi hingga 23 September 2021 pukul 12.00 WIB, 83.248.128 atau 39,97 persen sudah melakukan vaksin dosis pertama, 46.980.347 atau 22.56 persen telah merampungkan hingga dosis kedua dari sasaran target vaksin keseluruhan 208.265.720.

Oleh karena itu, kehadiran vaksin merupakan kabar baik dan langkah penting dalam upaya bersama secara global untuk mengakhiri pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya. Apalagi, vaksin yang digunakan juga sudah melalui penelitian dan uji klinis sehingga aman dan efektif.

Kendati demikian, masih saja ada sebagian orang yang skeptis atau ragu terhadap vaksin Covid-19. Padahal, vaksin dapat menyelamatkan dua juta hingga tiga juta nyawa setiap tahun. Langkah tersebut sendiri merupakan salah satu kemajuan terbesar dalam dunia kedokteran modern.

Baca Juga: Kabar Baik, Tak Ada Lagi Wilayah Zona Merah Kasus Corona...

Direktur Yale Institute for Global Health Dr Saad Omer mengungkapkan, ada enam hal yang dapat dilakukan jika bertemu dengan orang yang skeptis atau masih ragu terhadap vaksin Covid-19, yaitu berempati dengan nilai-nilai yang mereka yakini.

Saad Omer menyarankan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menanggapi permasalahan mendasar yang mereka rasakan.

Baca Juga: Vaksinasi Sukses Rambah Pelosok, Malaka NTT Sukses Injeksi 37.918 Dosis

Tunjukkan rasa empati seperti misalnya saat ada yang mengeluhkan sulitnya melakukan berbagai kegiatan akibat Covid-19. Sampaikan, tempat-tempat yang ingin mereka datangi akan mulai dapat diakses kembali setelah semua orang menerima vaksin.

“Pastikan mereka merasa didengar. Jangan berfokus hanya pada vaksin karena vaksin hanya salah satu aspek. Fokus hanya pada vaksin justru menurunkan peluang keberhasilan kita dalam meyakinkan mereka,” beber Saad Omer.

Selain itu, sebut Saad Omer, ajaklah mereka berdiskusi tentang Covid-19 serta dampak negatifnya yang meluas.

Baca Juga: Upaya Adiluhung Pemerintah, antara Target Vaksinasi dan Semringah Herd Immunity

“Saat diskusi tentang Covid-19 sedang berlangsung, maka kita dapat membicarakan tentang pengorbanan yang harus dilakukan oleh semua orang, seperti menahan diri dari bertemu kerabat dan tidak melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana biasanya,” imbaunya.

Selain itu, upaya bijak lainnya terhadap orang yang skeptis terhadap vaksin Covid-19 itu adalah jangan memotong lawan bicara.

Saat ‘diskusi’ sudah berlangsung, cobalah simak dan pahami sudut pandang mereka. Jangan mendominasi percakapan, atau terlalu cepat mengoreksi pendapatnya bahkan memotong pembicaraan.

“Anda tidak perlu setuju dengan informasi yang salah, namun bisa berempati dan melanjutkan percakapan alih-alih mengakhiri atau menyudahi diskusi,” pesan Saad Omer.

Upaya lainnya adalah membantu mereka agar merasa berdaya. Kendati begitu, faktanya masih banyak yang takut untuk diinjeksi vaksin Covid-19. Ketimbang menyalahkan keadaan, lebih baik ajak mereka untuk berbuat positif sehingga membawa kebaikan bagi semua orang.

“Caranya adalah dengan menyemangati dan mengingatkan mereka. Mereka bisa membantu mengubah situasi, baik untuk diri sendiri maupun keluarganya, dengan mendapatkan vaksin,” imbuh Saad Omer.

Sementara itu, upaya bijak lainnya adalah jangan fokus pada mitos. Mitos seputar vaksin Covid-19 tidak dapat hilang begitu saja. Pasalnya, dibutuhkan penjelasan untuk meluruskannya. Ketimbang membahas mitos terlalu dalam sehingga memungkin munculnya mitos-mitos lainnya, sebaiknya meluruskan misinformasi.

Menurut Saad Omer, untuk meluruskan mitos menjadi informasi yang benar dibutuhkan strategi. Adapun empat strategi yang dapat dilakukan adalah mulai dengan pernyataan fakta, vaksin Covid-19 aman dan efektif.

Kemudian, beri isyarat kalimat selanjutnya adalah misinformasi. Misalnya, “Ada satu hal keliru tentang (mitos)”.

Selain itu, sebutkan kekeliruan (mitos) yang sedang ditanggapi. Tutup dengan fakta serta tunjukkan alasan mitos tersebut tidak benar.

“Hal yang terpenting adalah menggantikan misinformasi dengan informasi yang benar,” imbau Saad Omer.

Asumsikan mereka akan menerima vaksin juga merupakan upaya bijak yang tidak kalah urgensinya. Caranya, gunakan metode komunikasi presumtif yaitu pendekatan komunikasi dengan membuat pernyataan atau presumsi (dugaan) telah terbukti berhasil di lingkungan klinik kesehatan.

Saad Omer menyebut, hal tersebut diniscayai bisa jadi juga efektif dalam komunikasi antarpribadi. Contoh metode itu, sebutnya, adalah “Yuk, kita vaksinasi!”

Menurut Saad Omer, dalam situasi ini kita tidak mengambil alih otonomi seseorang terhadap dirinya, melainkan menetapkan suatu keadaan secara lisan.

Upaya bijak lainnya adalah jangan berkecil hati. Ia bilang, tidak dapat dipungkiri berdiskusi dengan orang yang skeptis terhadap vaksin Covid-19 akan membutuhkan waktu yang panjang dan kesabaran. Pasalnya, upaya mengubah pikiran seseorang yang ragu terhadap vaksin adalah proses yang panjang.

Namun, satu hal yang harus diingat, secara umum orang-orang yang menolak vaksin dengan keras tidak akan berubah hanya melalui satu kali diskusi.

“Kuncinya adalah dengan tetap menjalin hubungan baik dengan mereka,” bebe Saad Omer.

Ia menambahkan, jika semua upaya telah dilakukan namun belum berhasil, itu bukanlah salah Anda. Yang terpenting telah berusaha dengan maksimal untuk kebaikan bersama.

“Jangan menyerah dan tetap edukasi mereka yang ragu terhadap vaksin demi hidup damai berdampingan dengan Covid-19,” kata Saad Omer.

Bagikan