Ini Upaya Penyelenggara Bimas Buddha Kupang Bentengi Keluarga dari Destruksi Covid-19

Terkini.id, Kupang – Guna mengedukasi keluarga yang sehat, bahagia, dan sejahtera dalam internal Buddha di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Penyelenggara Bimas Buddha Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kupang menggelar lokakarya Pembinaan Keluarga Hitta Sukhaya bertajuk “Keluarga Bahagia dalam Tantangan Arus Modernisasi” di Hotel Kristal, Jalan Timor Raya, Pasir Panjang, Kota Kupang, Sabtu 18 September 2021.

Kegiatan yang dihadiri Penyelenggara Bimas Buddha Kemenag Kota Kupang Imah, yang sekaligus didapuk sebagai salah satu narasumber tersebut, memaparkan berbagai upaya pelaku rumah tangga agar dapat hidup sehat, bahagia, dan sejahtera dalam nilai-nilai Buddha.

Dalam makalahnya bertajuk “Keluarga Bahagia dalam Perspektif Agama Buddha”, nilai-nilai Buddha yang dimaksudnya, tidak terlepas dari implementasi kepala keluarga, baik suami maupun istri terhadap perilaku yang baik dalam membina rumah tangga.

Baca Juga: Vaksinasi Lansia Dikebut Jelang Nataru, Upaya Tekan Lonjakan Corona Pasca...

Di sini, sebut Imah, rumah tangga yang harmonis tidak terlepas dari terciptanya keseimbangan dalam segala hal, baik jasmani maupun rohani.

“Keluarga bahagia adalah komponen terpenting pembentuk masyarakat bahagia secara umum. Untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut, maka persyaratan utamanya adalah masing-masing anggota keluarga hendaknya saling menyadari, dalam kehidupan ini seseorang tidak akan dapat hidup sendirian,” imbuhnya.

Baca Juga: Kabar Baik, Tak Ada Lagi Wilayah Zona Merah Kasus Corona...

Menurut Imah, orang pasti saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing pihak terikat satu dengan yang lain.

“Agar mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan berkeluarga, diperlukan adanya pengertian tentang hak dan kewajiban dari setiap anggota keluarga,” jelasnya.

Selain Imah, hadir Nutrisionis Klinis dari Dinas Kesehatan Kota Kupang Ade Peter U Dagha yang menerjemahkan nilai-nilai Buddha dalam kaitannya dengan kesehatan.

Baca Juga: Serapan Vaksinasi Dianggap Rendah, Ini Permintaan Kadis Kesehatan Flores Timur

Dalam makalahnya yang bertajuk “Keluarga Sehat”, Ade mengungkapan esensi kesehatan dalam rumah tangga tidak dapat dinafikan dari dulu hingga saat ini.

Untuk itulah, terlebih dalam kondisi pandemi Covid-19, ia menekankan pentingnya pelaku rumah tangga untuk senantiasa menyerukan kepatuhan terhadap protokol kesehatan (prokes) yang secara manunggal tidak dapat dipishkan dari Germas.

Ade menjelaskan, Germas adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memasyarakatkan budaya hidup sehat serta meninggalkan kebiasaan dan perilaku masyarakat yang kurang sehat. Aksi Germas ini juga diikuti dengan memasyarakatkan perilaku hidup bersih sehat dan dukungan untuk program infrastruktur dengan basis masyarakat.

“Program ini memiliki beberapa fokus seperti membangun akses untuk memenuhi kebutuhan air minum, instalasi kesehatan masyarakat serta pembangunan pemukiman yang layak huni. Ketiganya merupakan infrastruktur dasar yang menjadi pondasi dari gerakan masyarakat hidup sehat,” paparnya.

Ade menambahkan, implementasi Germas sendiri jika dikaitkan dengan apa yang telah diajarkan Siddharta Gotama sekitar 2.600 tahun lalu, sejatinya memiliki benang merah yang sama.

“Ini terkait pentingnya kesehatan dalam upaya membentengi keluarga dari destruksi penyakit. Sebagaimana kita ketahui, dalam Dhammapada 204, Tripitaka, Sang Buddha mengungkapkan ‘Kesehatan adalah keuntungan yang paling besar. Kepuasan adalah kekayaan yang paling berharga. Kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi,” beber Ade.

Selain mengutip Dhammapada 204, Ade juga mengutip Dhammapada 189 yang masih memiliki keterkaitan sama terhadap kemaslahatan kesehatan.

“Dalam Dhammapada 189, Sang Buddha juga mengatakan, ‘Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa penyakit di antara orang-orang berpenyakit, di antara orang-orang berpenyakit kita hidup tanpa penyakit’,” sambungnya.

Untuk itulah, ia berharap kepala keluarga dapat mengedukasi anggota keluarga mereka agar tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak aman, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Yang tak kalah pentingnya, mereka juga harus menekankan pentingnya vaksinasi agar dapat mencapai herd immunity,” tegas Ade.

Terkait kontribusi pihaknya, dalam hal ini Dinas Kesehatan Kota Kupang terhadap internal Buddha dalam upaya mengeradikasi virus corona, ia menjelaskan rutin dilakukan dalam anjangsana dan sosialiasi terhadap tokoh-tokoh agama Buddha sebagai garda terdepan yang mewakili umat.

“Kami memberi pengarahan kepada tokoh-tokoh agama, pentingnya vaksinasi dan tidak termakan hoaks soal vaksin,” kata Ade.

Ia juga mengungkapkan, telah mendorong tokoh-tokoh agama agar nantinya mereka dapat mengedukasi umat supaya dapat mematuhi protokol kesehatan 5M di lingkungan rumah ibadah, juga nantinya dapat diterapkan umat mereka di rumah masing-masing.

Selain itu, Ade menegaskan pentingnya menjaga imunitas tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat dan bernutrisi.

Kegiatan juga dihadiri Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) NTT Indra Effendy, Ketua SMB Buddha Ratana Heni Setiawati, serta pengurus Vihara Pubbaratana Kupang Wahyu Hidayat, Anita Annny, Ricky Layadi, dan belasan umat Buddha lainnya.

Bagikan