Ini Mitos-mitos soal Vaksin yang Jadi Aral dalam Vaksinasi Covid-19

Terkini.id, Kupang – Selain kabar hablur atau hoaks terkait vaksin, banyak rumor mapun mitos yang beredar sehingga menjadi aral yang merintangi sebagian masyarakat untuk divaksin. Apalagi, mitos-mitos itu berseliweran di media sosial yang belum dapat diverifikasi kebenarannya.

Untuk itu, sebaiknya seseorang bijak menyikapi dan jangan langsung percaya terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya. Pasalnya, mitos-mitos tersebut sangat masif beredar di berbagai platform dunia maya, salah satunya adalah pesan berantai di WhatsApp (WA).

Agar tidak terjebak berita hoaks maupun mitos, seseorang baik sebagai personal maupun sebagai pemimpin dalam komunal keluarga, sebaiknya menelaah lebih cermat berita-berita tersebut. Pasalnya, jika seseorang terseret arus hoaks maka yang rugi bukan saya ia sebagai individu tetapi juga keluarganya.

Baca Juga: Ini Upaya Penyelenggara Bimas Buddha Kupang Bentengi Keluarga dari Destruksi...

Padahal, tujuan vaksinasi sudah sangat jelas untuk melindungi dari penularan Covid-19 dan efek destruktif yang ditimbulkannya seperti kesakitan bahkan kematian.

Dilansir dari Covid-19.go.id, Kamis 9 September 2021, salah satu mitos yang masif beredar dalam masyarakat adalah mengenai vaksin yang dapat menyebabkan kemandulan. Benarkah mitos tersebut?

Baca Juga: Percepat Tercapainya Herd Immunity, Wali Kota Kupang Perintahkan Lurah-Camat Data...

Ahli vaksin yang berspesialisasi dalam epidemiologi pneumokokus, Dr Katherine O’Brien menjelaskan, vaksin yang diberikan tidak dapat menyebabkan kemandulan.

Sebelumnya, mitos terkait vaksin yang disuntikkan kepada seseorang dapat menimbulkan risiko infertilitas atau kesuburan. Gangguan tersebut berupa kemandulan bagi wanita.

“Ini adalah rumor yang telah beredar tentang banyak vaksin yang berbeda dan rumor tersebut tidak benar. Tidak ada vaksin yang menyebabkan kemandulan,” tegas Katherine dalam sesi wawancara episode 24 tentang ‘Vaccine Myths vs Science’ bersama Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Baca Juga: Ini Peran Kesbangpol dalam Upaya Penanggulangan Covid-19 di NTT

Selain itu, mitos lainnya yang masif beredar adalah vaksin dapat mengubah Deoxyribonucleic Acid (DNA). DNA yang merupakan materi genetik yang menentukan sifat dan karakteristik fisik seseorang disebut akan berubah setelah vaksin Covid-19 masuk ke dalam tubuh.

Menanggapi hal ini, Katherine yang juga ahli epidemiologi dan dokter penyakit menular mengatakan tidak mungkin vaksin dapat mengubah DNA seseorang.

“Kami sudah sering mendengar rumor ini. Kami memiliki dua vaksin sekarang yang disebut sebagai vaksin mRNA, dan tidak mungkin mRNA dapat berubah menjadi DNA sel manusia kita,” bebernya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan mRNA itu instruksi tubuh untuk membuat protein. Kebanyakan vaksin dikembangkan dengan benar-benar memberikan protein atau memberikan komponen kecil dari kuman yang dicoba untuk divaksinasi.

“Ini adalah pendekatan baru, di mana alih-alih memberikan bagian kecil itu, kami hanya memberikan instruksi kepada tubuh kita sendiri untuk membuat bagian kecil itu dan kemudian sistem kekebalan alami kita meresponsnya,” imbuh Katherine.

Selain itu, mitos destruksi lain menyebutkan terdapat bahan kimia yang membahayakan.

Seperti diketahui, sebelumnya mitos tersebut cukup membuat gempar hingga membuat sebagian kalangan enggan melakukan vaksinasi. Mitos itu juga menyebutkan mengenai komposisi vaksin yang di dalamnya terdapat bahan kimia yang membahayakan orang yang mendapat vaksin.

Katherine menegaskan, hal ini adalah mitos besar. Vaksin yang disuntikkan ke penerimanya sudah dipastikan aman.

Menurutnya, semua komponen yang masuk ke dalam vaksin diuji secara berat untuk memastikan semua yang ada di sana, termasuk dosis aman untuk manusia.

“Vaksin memang mengandung sejumlah elemen yang berbeda dan masing-masing telah diuji. Sebelum diberikan kepada manusia, mereka diuji pada hewan dan diuji untuk masalah apapun pada hewan,” imbuh Katherine.

Selanjutnya, lanjutnya, mereka masuk ke percobaan manusia. Dalam fase ini, pihaknya menguji dalam uji klinis dengan puluhan ribu orang, sehingga akhirnya menerima vaksin sebelum mereka diizinkan untuk digunakan di masyarakat umum.

Menyoal keamanan, imbuh Katherine, adalah bagian terpenting dari uji klinis tersebut. Setiap vaksin melewati evaluasi keamanan untuk memastikan hal itu aman sebelum digunakan di masyarakat umum.

“Selain itu, pembuatan vaksin memiliki pengawasan kualitas yang konstan sehingga setiap bahan yang masuk ke dalam vaksin dipastikan memiliki kualitas terbaik dan aman untuk digunakan pada manusia,” tegasnya.

Tiga mitos itu sendiri cukup membuat heboh dalam masyarakat saat pemerintah tengah gencar menggalakkan program vaksinasi.

Padahal, vaksinasi dilakukan sebagai salah satu upaya guna mengatasi pandemi akibat virus corona. Jika setidaknya 70 persen penduduk di suatu populasi sudah divaksin maka bisa tercapai kekebalan kelompok atau herd immunity.

Bagikan