Urgensi Vaksinasi, Momentum Menuju Pencapaian Kekebalan Komunal

Terkini.id, Jakarta – Menyusul analisis yang dirilis Bloomberg belum lama ini, dengan memperhitungkan jumlah vaksinasi yang dilakukan di masing-masing negara, pandemi Covid-19 di Indonesia diprediksi berakhir 10 tahun lagi. Sementara itu, pandemi di dunia secara global diperkirakan berakhir tujuh tahun lagi. 

Seiring perkembangan vaksinasi dan dinamika penanganan Covid-19, sejumlah negara sedang menyusun kerangka rencana guna mengadopsi strategi hidup untuk berdampingan bersama Covid-19.

Beberapa ahli telah menyampaikan, dalam masa depan Covid-19 akan cukup lama berada di tengah-tengah populasi.

Baca Juga: Ini Upaya Penyelenggara Bimas Buddha Kupang Bentengi Keluarga dari Destruksi...

Ahli epidemiologi matematika Universitas Melbourne dan Doherty Institute, James McCaw mengatakan dinamika Covid-19 akan beredar di antara populasi selama beberapa dekade mendatang.

“Vaksin akan menyebabkan lebih sedikit orang yang terinfeksi, namun yang lebih penting mereka yang terinfeksi akan memiliki risiko lebih kecil untuk mengalami sakit parah atau meninggal,” ungkapnya.

Baca Juga: Percepat Tercapainya Herd Immunity, Wali Kota Kupang Perintahkan Lurah-Camat Data...

Di tengah tingginya kasus dan dinamika penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, seberapa siap Indonesia bisa hidup berdampingan dengan Covid-19? Bagaimana korelasi antara kesehatan dan ekonomi yang dapat berjalan seimbang? Hal itulah yang perlu dituntaskan dalam program esensial vaksinasi.

Jika merujuk negeri sahabat seperti Singapura, melalui Perdana Menteri Lee Hsien Long, pemerintah Singapura mengumumkan rencana untuk mengurangi pembatasan akibat Covid-19 pada kehidupan sehari-hari, bahkan mulai sedikit melonggarkan kontrol perbatasan.

Hal tersebut tidak lepas dari tingkat vaksinasi negara tersebut yang saat ini berada di antara yang terbaik di dunia.

Baca Juga: Ini Peran Kesbangpol dalam Upaya Penanggulangan Covid-19 di NTT

“Kami sekarang berada dalam posisi yang lebih kuat untuk melanjutkan perjalanan pembukaan kembali, tetapi dengan berhati-hati dan terkalibrasi,” terang Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gan Kim Yong mewakili PM Lee Hsien Long.

Kuncinya, kata para pejabat teras tersebut, adalah vaksinasi massal dengan menargetkan 80 persen dari jumlah penduduk hampir 5,7 juta jiwa.

Sehingga, saat ini jumlah kasus di Negeri Patung Merlion telah stabil, turun dari pemuncak kasus pada akhir Juli 2021 lalu. Alhasil, sistem rumah sakit belum kewalahan dengan tingkat keterisian tempat rawat yang juga masih rendah.

Apalagi, realisasi vaksin juga diklaim semakin meningkat dengan 67 persen populasi sudah divaksinasi secara lengkap.

Seperti Singapura, pemerintah Australia juga tengah menyiapkan empat langkah hidup berdampingan dengan virus Covid-19.

Berdasarkan laporan Bloomberg, fase pertama yang diterapkan adalah menggenjot program vaksinasi. Fase kedua mengubah fokus penanganan Covid-19 dari mencegah dan menekan penularan menjadi mengurangi kematian, sakit parah, dan perawatan para penyintas yang terpapar virus corona.

Adapun fase selanjutnya adalah tidak ada lagi kata “lockdown”, serta fase terakhir kembali ke masa normal. Untuk mencapai tahap itu, pemerintah Australia menyatakan hal itu tergantung pada kesiapan warga untuk divaksinasi.

Di Indonesia sendiri, hal serupa negara yang lebih representatif dalam sistem dan program vaksinasi seperti Singapura, terus berupaya merealisasikan pencapaian herd immunity. Hal itu terbukti dari terus didatangkannya vaksin dari berbagai negara.

Pada Senin 30 Agustus 2021 lalu, Indonesia kedatangan vaksin tahap ke-45 berupa 9,2 juta vaksin Sinovac. Vaksin dalam bentuk bahan baku itu mencatatkan Indonesia memiliki lebih 217,9 juta dosis vaksin, baik dalam bentuk bulk maupun vaksin jadi.

“Kedatangan vaksin ini akan diikuti kedatangan vaksin tahap berikutnya. Semua ini adalah bukti nyata pemerintah terus berupaya keras mendatangkan vaksin Covid-19 untuk memenuhi kebutuhan vaksinasi nasional,” terang Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Muhadjir Effendy di Jakarta, Senin 30 Agustus 2021.

Muhadjir mengatakan, hingga 26 Agustus 2021, capaian vaksinasi dosis pertama adalah sebesar 28,53 persen, sementara vaksin dosis kedua sebesar 16,02 persen.

Dengan demikian, ia berharap percepatan vaksinasi dapat konsisten berjalan sehingga mencapai herd immunity. Untuk itu, imbau Muhadjir, dibutuhkan sinergi dan kerja sama seluruh elemen.

“Karenanya, pemerintah mengajak semua pihak baik organisasi kemasyarakatan, para tokoh agama dan tokoh masyarakat, swasta, pelaku usaha, LSM, dan relawan bahu membahu bekerja sama demi suksesnya vaksinasi nasional,” harapnya.

Kendati demikian, Muhadjir mengakui saat ini Indonesia tengah berhadapan dengan hal dilematis, yaitu harus berdampingan dengan Covid-19 dalam jangka waktu yang belum bisa dipastikan kapan berakhirnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan masyarakat harus tetap menerapkan protokol kesehatan 5M dan memperbanyak 3T.

Protokol kesehatan 5M yang dimaksud Muhadjir merujuk pada memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak aman, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Sementara 3T tidak lain merujuk pada testing, tracing, dan treatment.

“Hal ini guna mempercepat pemulihan di bidang kesehatan, ekonomi, terutama di sektor produktivitas serta untuk mengakhiri pandemi ini,” imbuhnya.

Muhadjir juga mengimbau agar masyarakat jangan lengah, tetap dalam kewaspadaan yang tinggi agar penularan virus corona dapat terkendali.

Ia mengatakan, pemerintah mengajak masyarakat untuk ikut menyukseskan program vaksinasi ini dengan segera datang ke lokasi vaksinasi.

“Jangan pilih vaksin, karena semua vaksin sama dan berkhasiat,” imbuh Muhadjir.

Bagikan