Tetap Waspada, WHO Bilang Belum Ada Satu pun Negara yang Bisa Klaim Bebas dari Pandemi

Terkini.id, Kupang – Sebelumnya, memang santer prediksi jika kasus Covid-19 di Indonesia akan kembali meningkat dalam waktu dekat. Pasalnya, lonjakan kasus virus yang diklaim mewabah perdana di Wuhan, Hubei, Tiongkok itu dipicu klaster keluarga lantaran meningkatnya mobilitas masyarakat pasca libur Lebaran 2021.

Sementara itu, faktor lainnya adalah munculnya varian baru virus corona Covid-19, yang diduga lebih menular. Memang jika ditilik secara global, meskipun terdapat penurunan kasus baru setiap harinya, namun kasus Covid-19 masih terbilang tinggi.

Pelaksanaan vaksinasi yang sedikit terhambat pasca tsunami corona di India yang membuat Negeri Bollywood itu melarang ekspor vaksin, membuat sebagian besar negara, tidak terkecuali Indonesia masih rentan terhadap pandemi Covid-19 yang menular pada pengujung 2019 lalu. Sehingga, faktor-faktor inilah yang disebut-sebut menyebabkan adanya potensi lonjakan lebih lanjut seperti yang terjadi di India saat ini.

Baca Juga: Vaksinasi Diklaim Bentuk Herd Immunity, Ini yang Dilakukan Komunal Keagamaan...

WHO Tegaskan Tetap Mewaspadai Pandemi

Sekadar diketahui, pada 24 Mei 2021 lalu, Direktur Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam keterangan persnya sempat memperingatkan tidak boleh ada negara yang berasumsi sudah keluar dari masalah pandemi.

Baca Juga: Ini Urgensi Evaluasi Penanganan Perkembangan Kasus Covid-19 bagi Pemda

“Tidak peduli seberapa tinggi angka vaksinasi Covid-19 yang telah dilakukan. Sejauh ini, belum ada varian virus corona yang secara signifikan merusak kemanjuran vaksin, diagnostik, maupun terapeutik. Tetapi, juga tidak ada jaminan hal itu akan tetap bertahan. Berdasarkan tren saat ini, jumlah kematian diprediksi akan melampaui total kematian tahun lalu dalam tiga minggu ke depan,” bebernya.

Berdasarkan data Universitas Johns Hopkins, mengindikasikan tidak hanya India yang mencatat rekor lonjakan kasus Covid-19 namun juga negara lain seperti Argentina, Nepal, Bahrain, dan Taiwan yang menyusul rekor kenaikan kasus dalam beberapa pekan terakhir.

“Sejumlah faktor seperti lambatnya vaksinasi, kesenjangan pasokan oksigen, rasa berpuas diri dalam pengendalian pandemi yang berdampak pada longgarnya persyaratan karantina, dan kurang meluasnya ketertersediaan testing berperan dalam lonjakan kasus tersebut,” imbuh Tedros.

Baca Juga: Harapan Percepatan Vaksinasi Gotong Royong, Satu Juta Dosis Vaksin Sinopharm...

Di Indonesia, hal tersebut juga dapat dilihat dari melonjaknya kasus baru, terutama di Pulau Sumatera. Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, dampak meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur Idul Fitri sudah terlihat pada pekan kedua pasca Lebaran.

“Belum mencapai minggu kedua saja, kasus sudah menunjukkan peningkatan signifikan, kasus kematian juga. Ini adalah alarm bagi kita,” bebernya.

Terlihat, kenaikan kasus positif pada pekan keempat Mei 2021 mencapai 36,1 persen, sementara kasus kematian naik 13,8 persen.

Adapun Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan kombinasi antara faktor eksogen, yaitu mobilitas penduduk dan faktor endogen berupa mutasi virus corona, berkontribusi dalam naiknya kasus Covid-19. Hal itu, sambungnya, juga bakal meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Secara general, terdapat 54 kasus mutasi yang menyebar, 35 kasus di antaranya berasal dari imigran dari luar Indonesia. Sementara 19 kasus lainnya berasal dari transmisi lokal dari masyarakat di dalam negeri sendiri.

Sementara itu, Kepala Satgas Data dan Teknologi Informasi Nasional Covid-19 Dewi Nur Aisyah memaparkan, terdapat empat provinsi yang mengalami kenaikan tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit hingga lebih dari 50 persen.

Menurut Dewi, persentasenya hampir mendekati ambang batas aman yang ditetapkan WHO, yaitu sekitar 60-80 persen.

“Per 22 Mei 2021, empat provinsi yang mengalami angka okupansi tempat tidur rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) di atas 50 persen adalah di Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sumatera Barat, dan Riau,” imbuhnya.

Kabar Baik Terkait Vaksin dari WHO

Baru-baru ini, WHO merekomendasikan vaksin Covid-19 produksi Sinovac (CoronaVac) dalam daftar penggunaan darurat atau emergency use listing (EUL). Tandanya, WHO mengakui keamanan dan efektivitas dari vaksin ini untuk melindungi dari virus penyebab Covid-19.

Seperti diwartakan laman resmi pemerintah Covid19.go.id, Jumat 4 Juni 2021, WHO menilai dengan menerima dua dosis vaksin Covid-19 dari Sinovac, jika terinfeksi penyakitnya maka para penerima vaksin setidaknya terlindungi hingga 51 persen dari gejala Covid-19, bahkan diklaim 100 persen mencegah gejala yang parah hingga butuh rawat inap.

Sebelumnya, penggunaan vaksin ini di Indonesia adalah berdasarkan keputusan Badan Pengawasa Obat dan Makanan (BPOM) yang mengeluarkan izin penggunaan darurat pada 11 Januari 2021 silam.

Pemerintah sendiri, khususnya melalui Satgas Penanganan Covid-19 tetap getol menyerukan program vaksinasi Covid-19 dan mengimbau agar masyarakat tetap disiplin terhadap protokol kesehatan (prokes) 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak aman.

Bagikan