Vaksinasi Berkontribusi Bikin IHSG Semringah, Juga Klaim Amannya Vaksin AstraZeneca

Terkini.id, Kupang – Pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang mulai mewabah di pengujung 2019 lalu memang masih belum usai. Selama ini, virus yang diklaim mulai menular pertama di Wuhan, Hubei, Tiongkok tersebut telah memporak-porandakan hampir semua sektor, tidak hanya dalam kesehatan masyarakat namun juga ekonomi negara.

Kendati demikian, penanganan Covid-19 di Tanah Air menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pasalnya, program vaksinasi yang dilakukan pemerintah secara masif disertai antisipasi penanganan yang mumpuni dari pemangku kepentingan yang bersinergi dengan berbagai elemen masyarakat, paling tidak telah terlihat hasilnya. Alhasil, potensi peningkatan penularan Covid-19 selama ini sudah mulai kondusif.

Hal ini terlihat juga dari aktivitas penanganan sebelum dan sesudah libur Lebaran 2021 lalu yang juga berjalan dengan baik. Implementasi pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro misalnya, juga penyekatan di titik-titik mudik Lebaran di seluruh wilayah Indonesia telah berhasil menekan angka penularan covid-19. Sehingga, tidak terjadi lonjakan yang signifikan seperti yang terjadi pasca libur akhir tahun 2020 lalu.

Baca Juga: Vaksinasi Diklaim Bentuk Herd Immunity, Ini yang Dilakukan Komunal Keagamaan...

Dari data pemerintah, baik dari rutinitas harian pewartaan yang dipublikasikan di laman Covid19.go.id dan laman resmi terkait pemerintah lainnya, terlihat antisipasi penularan Covid-19 saat libur Lebaran menunjukkan hasil yang mumpuni. Ini bila dibandingkan saat libur tahun baru 2020 lalu yang terlihat melonjak drastis.

Saat libur Lebaran kali ini, hingga 28 Mei 2021, angka positif harian secara nasional sebesar 6.115 dengan jumlah tes yang dilakukan sebanyak 52.192 tes. Alhasil, cukup semringah dan menunjukkan hasil yang terbilang positif dan mumpuni.

Baca Juga: Ini Urgensi Evaluasi Penanganan Perkembangan Kasus Covid-19 bagi Pemda

Ini juga berarti, jumlah positive rate secara nasional selama libur Lebaran sebesar 9,6 persen turun jauh dibandingkan positive rate saat libur akhir tahun lalu. Bahkan di DKI Jakarta yang notabene selalu dikategorikan “merah”, nilai positive ratenya sekarang hanya sebesar 7,8 persen.

Keberhasilan pelaksanaan kebijakan antisipasi yang dilakukan pemerintah, memang tidak dapat dinafikan dari kontribusi masifnya kegiatan vaksinasi. Berdasarkan data Our World in data, jumlah penerima vaksinasi di Indonesia dibanding negara setara di Asia sangat bagus. Tercatat, enam persen dari total penduduk Indonesia telah menerima dosis pertama.

Angka ini tertinggi nomor dua setelah Malaysia dan jauh di atas Thailand dan Filipina yang belum mencapai empat persen, bahkan Vietnam baru mencapai angka satu persen.

Baca Juga: Harapan Percepatan Vaksinasi Gotong Royong, Satu Juta Dosis Vaksin Sinopharm...

Senada keberhasilan yang sudah mulai terlihat moncer itu, Direktur Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, vaksinasi secara masif dan antisipasi lonjakan Covid-19 selama libur Lebaran yang dilakukan pemerintah memperlihatkan hasil yang signifikan.

“Penanganan secara simultan, antara pencegahan penularan melalui gerakan 4M dan anjuran tidak mudik serta pelaksanaan vaksinasi ternyata mampu mencegah lonjakan jumlah positif Covid-19 pasca libur Lebaran,” paparnya saat dikonfirmasi wartawan, Jumat 4 Mei 2021.

Menurutnya, vaksinasi secara masif mampu meningkatkan kepercayaan investor khususnya asing terhadap perekonomian Indonesia. Hal itu pulalah yang menjadi salah satu apresiasi “bullish” atau terdongkraknya nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan inbound dana asing.

Seperti diketahui, sejak perdagangan bursa dibuka setelah libur Lebaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan tren positif. Pada awal pembukaan setelah libur lebaran, IHSG sebesar 5.833,86. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Rabu 2 Juni 2021 sesi satu, IHSG berada pada level 6.009,90 atau meningkat 62,44 poin ketimbang saat pembukaan perdagangan.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam kisaran 5.991,51-6.029,21. Hingga telah dibukukan total transaksi sebesar Rp 9,18 triliun, dengan aksi beli bersih atau net buy investor asing senilai Rp 497,76 miliar.

Menurut Budi, apresiasi nilai IHSG tersebut dapat menjadi salah satu tolok ukur pemulihan perekonomian Indonesia. Pasalnya, saat ini angka IHSG sudah mampu melewati 6.000 dan dana masuk asing ke pasar modal juga terus meningkat.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak libur Lebaran hingga 31 Mei 2021, total nilai dana inbound asing sebesar Rp 2,34 triliun.

“Kami optimistis terhadap penanganan Covid-19 secara tepat, dan akan semakin meningkatkan kepercayaan investor untuk kembali menanamkan investasinya di Indonesia khususnya di pasar modal,” demikian imbuh Budi mengungkapkan optimistisnya terhadap perkembangan perekonomian dari hasil mumpuni vaksinasi di Tanah Air.

Sah, AstraZeneca Diklaim Aman

Kontribusi keberhasilan vaksinasi yang dilakukan pemerintah dengan menggunakan beberapa jenis vaksin, termasuk AstraZeneca sudah dapat dirasakan kemaslahatannya, terutama dalam mengeradikasi penularan Covid-19.

Oleh karena itu, dalam keterangan persnya saat kegiatan secara virtual yang dilakukan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kamis 3 Juni 2021, Direktur AstraZeneca Indonesia Rizman Abudeiri menepis semua isu miring yang beredar terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dari vaksin Covid-19 buatan Inggris itu.

Dengan tegas, Rizman memastikan segala proses uji klinis hingga perizinan pemakaian sudah melalui regulasi. Apalagi, dalam proses program vaksniasi dan hal-hal esensial lainnya terus dikawal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga vaksin AstraZeneca dinyatakan aman dan boleh digunakan di Indonesia.

“Sehingga, ketika ada sinyal safety-nya ini dipertanyakan, itu dari awal kita langsung tahu. Pesan saya, kita memiliki data yang luar biasa. Tidak ada batas lagi tentang data, semua bisa melihat data sains. Ini transparan, keamanan masyarakat terjamin, dan semua evaluasi serta keputusan dilakukan pihak berwenang di Indonesia, yaitu BPOM,” bebernya.

Untuk itu, ia meminta masyarakat tidak perlu ragu terhadap keamanan vaksin AstraZeneca lantaran pemerintah sendiri tidak mungkin ingin mencelakakan masyarakatnya. Rizman menyebut, ketika keputusan izin itu terjadi, maka keputusan itu tidak terjadi serta merta tanpa dasar saintifik atau dasar medis, sehingga dipastikan penuh dengan pertimbangan.

“Kita harus percaya, pemerintah Indonesia sudah melakukan evaluasi yang mendalam sehingga diambil kesimpulan beberapa vaksin ini layak digunakan di Indonesia (termasuk AstraZeneca),” imbuh Rizman.

Seperti diketahui, sebelumnya BPOM RI memastikan vaksin AstraZeneca dengan nomor batch CTMAV-547 bisa digunakan kembali untuk program vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Pasalnya, vaksin AstraZeneca dengan nomor batch tersebut sempat mendapat perhatian khusus pasca kasus kematian Trio Fauqi Virdaus sesaat setelah divaksinasi.

Keputusan itu sendiri disampaikan setelah BPOM bersama Komisi Nasional Pengkajian dan Penanggulangan (Komnas PP) KIPI serta Komisi Daerah (Komda) PP KIPI memastikan tidak ada hubungan antara KIPI serius yang dilaporkan terkait vaksin AstraZeneca batch CTMAV-547.

Pada 25 Mei 2021 lalu, Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN) BPOM merilis hasil laporan pengujian itu. Ditemukan saluran toksisitas abnormal atau tidak zat yang berpotensi memicu kerusakan. Sementara, sterilitas vaksin tersebut dipastikan sesuai mutu dan aman digunakan.

Hasil ini dikatakan selaras pernyataan Ketua Komnas KIPI Hindra Iriawan yang ikut memastikan KIPI serius yang dilaporan tidak berkaitan vaksin AstraZeneca batch CTMAV-547.

Bagikan