Kantongi Izin WHO, Vaksin Sinovac-Sinopharm Diklaim Bukan Kaleng-kaleng

Terkini.id, Kupang – Program vaksinasi yang tengah berlangsung di Indonesia telah menggunakan beberapa jenis vaksin, di antaranya Sinovac dan Sinopharm yang merupakan produksi impor dari Tiongkok. Dalam keperluan kedaruratan di tengah pandemi Covid-19 yang belum berkesudahan, vaksin impor dianggap penting untuk dikeluarkan dan dipergunakan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengungkapkan, vaksin Covid-19 Sinovac dan Sinopharm yang digunakan Indonesia kini sudah mendapatkan izin dari Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Erick mengatakan, hal itu merupakan hasil kerja keras dari koordinasi antara Kementerian BUMN, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Luar Negeri.

Baca Juga: Semringah Vaksinasi, Capai 50.497.940 Orang dengan Persentase 100 Persen Nakes

“Saya tentu senang, hari ini ketika ada dua vaksin yang selama ini kita bekerja keras, sudah masuk list WHO, yaitu Sinovac dan Sinopharm yang memang mayoritas kita pergunakan,” bebernya dalam konferensi pers di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu 2 Juni 2021.

Menurut Erick, terdaftarnya Sinovac dan Sinopharm di WHO membuktikan vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia memiliki kualitas terjamin dan mumpuni. Pasalnya, kedua vaksin asal Negeri Panda itu sempat diragukan banyak pihak.

Baca Juga: Atensi Masyarakat dalam Kepesertaan Vaksinasi, Kabar Baik dalam Rundungan Pandemi

Ia menambahkan, Sinovac sendiri digunakan sebagai vaksin dalam program vaksinasi Covid-19 gratis yang diberikan pemerintah, adapun Sinopharm digunakan dalam program vaksinasi Gotong Royong.

“Jadi, baik vaksin gotong royong atau vaksin pemerintah, kita senang hari ini membuktikan pilihan vaksin impor yang kita lakukan bukan ‘kaleng-kaleng’, tetapi vaksin benaran,” imbuh Erick.

Ia menambahkan, dengan terdaftarnya kedua vaksin itu dipastikan keamanan penggunaannya bagi masyarakat. Selain itu, sekaligus memberi kepastian bagi beberapa negara untuk kembali membuka akses bagi warga Indonesia.

Baca Juga: Vaksinasi Dorong Tingkat Kesembuhan Tenaga Kesehatan, Ini Alasannya

“Mudah-mudahan dengan ini, nantinya apakah beberapa negara yag tadinya menutup untuk (warga) Indonesia ke luar negeri, sekarang bisa lebih terbuka apakah untuk bisnis, ataukah umrah dan haji,” kata Erick.

Terkait akses perjalanan ke luar negeri, sebut Ketua Komite Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KCPEN) ini, perlu adanya sinkronasi dengan berbagai negara yang merupakan wewenang Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

“Tetapi semua vaksin yang sudah masuk list WHO mestinya friendly (aman),” jelas Erick.

Di samping itu, vaksin Covid-19 buatan dalam negeri yang diproduksi Bio Farma yang bekerja sama lembaga pendidikan Amerika Serikat (AS), Baylor College Medicine, juga sudah terdaftar di WHO sebagai vaksin yang masuk dalam tahap uji klinis.

Erick mengatakan, guna merampungkan uji klinis tahap satu, dua, dan tiga pada vaksin BUMN itu, paling tidak butuh waktu satu tahun. Sementara itu, untuk vaksin Merah Putih hasil kerja sama antara Universitas Airlangga (Unair) dan Eijkman Institute masih dalam tahap penjajakan untuk terdaftar di WHO.

“Sekarang sudah masuk list WHO rangking 121 yang Bio Farma, cuma vaksin Merah Putih masih belum teregister karena tadi dari Eijkman dan Unair masih dalam penjajakan,” tutupnya.

Bagikan