Trisuci Waisak dan Restorasi Moral Menuju Indonesia yang Lebih Maju

Terkini.id, Kupang – Peringatan Trisuci Waisak 2565 Buddhist Era (BE) yang jatuh hari ini, Rabu 26 Mei 2021 dirayakan secara sederhana di Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Penerapan protokol kesehatan (prokes) di tempat ibadah yang mengharuskan hanya menampung 30 persen dari umat Buddha yang hadir, memang sesuai amanat surat edaran No SE 11 Tahun 2021 tentang pujabakti/sembahyang dan Dharmasanti Trisuci Waisak 2565 BE/2021 dalam masa pandemi yang diterbitkan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas.

Hal itu juga terlihat pada perayaan Waisak di Vihara Pubbaratana, Sikumana, Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu 26 Mei 2021 malam yang hanya diikuti sekitar 50 umat Buddha.

Ketua Pemuda Buddhis Pubbaratana Kupang Widya Dharmmapalla yang mengkoordinir acara, sebelumnya juga menyampaikan kepada umat Buddha yang menghadiri kegiatan Trisuci Waisak di Vihara Pubbaratana Kota Kupang untuk mematuhi prokes 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak aman. 

Baca Juga: Perayaan Waisak di Kota Kupang Diawali Pengambilan Air Suci di...

Seperti diketahui, penyelenggaraan Waisak adalah untuk memperingati tiga momentum penting bagi umat Buddha, yaitu kelahiran calon Buddha tahun 623 SM di Taman Lumbini Kapilavasthu Nepal, pencapaian pencerahan sempurna tahun 588 SM di bawah Pohon Bodhi Bodhgaya India, dan kemangkatan Buddha Gotama tahun 543 SM pada usia 80 tahun di Kusinara India.

Penyelenggaraan Waisak adalah untuk memperingati tiga momentum penting bagi umat Buddha, yaitu kelahiran calon Buddha tahun 623 SM di Taman Lumbini Kapilavasthu Nepal, pencapaian pencerahan sempurna tahun 588 SM di bawah Pohon Bodhi Bodhgaya India, dan kemangkatan Buddha Gotama tahun 543 SM pada usia 80 tahun di Kusinara India. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Dalam penyampaian Dhammadesana di sela kegiatan pujabakti menyambut detik-detik Waisak pada pukul 19.13 Wita, Padesanayaka Sangha Theravada Indonesia (STI) Nusa Tenggara Timur (NTT) YM Bhikkhu Saccadhammo Thera mengatakan, Waisak yang digelar di Kota Kupang ini merupakan kegiatan bersejarah lantaran baru diadakan di Vihara Pubbaratana.

Baca Juga: Pesan Waisak dari STI, Jaga Keluhuran Bangsa hingga Imbauan Taati...

Pasalnya, sebut Bhante Sacca, demikian Bhikkhu Saccadhammo disapa, sebelumnya perayaan Waisak belum pernah diadakan di vihara karena Vihara Pubbaratana Kupang sendiri baru rampung untuk lantai dasar.

“Kendati demikian, peringatan Waisak kali ini juga terasa istimewa karena hampir semua seremoni terkait dapat dilaksanakan secara lengkap, seperti pengambilan air suci atau Tirta Paritta di sumber mata air Baumata kemarin (Selasa 25 Mei 2021), pradaksina, pattidana, dan pujabakti pada hari ini,” paparnya.

Bhikku Saccadhammo menambahkan, ritual yang dilakukan umat Buddha dalam peringatan Trisuci Waisak tidak hanya sekadar seremoni namun harus ada urgensi makna yang diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Umat Buddha tengah melaksanakan sembahyang pattidana di Vihara Pubbaratana Kupang. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Baca Juga: Waisak 2021 dalam Pengetatan Protokol Kesehatan, Esensi Kemaslahatan Guna Reduksi...

“Moralitas adalah tujuan utama kita, sebab tanpa moralitas manusia secara spiritual tidak akan bisa maju. Seperti ajaran Sang Buddha semasa hidupnya, cinta kasih kepada sesama bahkan semua makhluk adalah landasan kebajikan, keluhuran, dan budi pekerti yang patut diteladani,” imbuhnya.

Sementara itu, Pembimas Buddha Kanwil Kemenag NTT Artadi Wijaya yang hadir dalam kegiatan, mengungkapkan pihaknya sangat mengapresiasi pelaksanaan Trisuci Waisak di NTT, khususnya di Kota Kupang.

“Kami sendiri (umat Buddha) mendapat banyak apresiasi dan ucapan selamat hari raya Waisak dari berbagai instansi. Ini menandakan, toleransi antarumat beragama di Indonesia, khususnya di NTT sangat baik,” katanya.

Artadi menambahkan, sejauh ini Bimas Buddha Kanwil Kemenag NTT memang berkomitmen memantau perkembangan umat Buddha di Bumi Flobamora, demikian julukan NTT. Dukungan pihaknya juga sesuai visi dan misi instansi yang diembannya untuk menjaga kerukunan antarumat beragama. Tidak hanya di Kota Kupang, namun juga di wilayah NTT yang dihuni umat Buddha seperti di Maumere Kabupaten Sikka dan Atambua Kabupaten Belu.

“Waisak tahun ini mengangkat tema ‘Bangkit Bersatu untuk Indonesia Maju’. Ini sesuai dengan cita-cita luhur bangsa. Dengan momen Waisak ini, saya harap kita bisa semakin mempererat persaudaraan,” ujarnya.

Artadi menambahkan, rangkaian perayaan Trisuci Waisak 2565 BE dalam waktu dekat ini juga akan diadakan di Maumere. 

“Kami akan mengadakan Dharmasanti Waisak 2565 BE pada 12 Juni 2021 di Maumere yang diselenggarakan Kantor Kemenag Kabupaten Sikka dan dirangkai dengan halalbihalal Idul Fitri 1442 Hijriah bersama seluruh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Sikka,” jelasnya.

Umat Buddha tengah mempersembahkan jubah untuk bhikkhu. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Menurutnya, acara seperti ini dianggap positif dan berkontribusi mempererat persaudaraan antarumat beragama.

Selain Artadi, peringatan Trisuci Waisak juga dihadiri Ketua Vihara Pubbaratana Kupang Yan Sigar, Ketua Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi) NTT Indra Effendy, Penyelenggara Bimas Buddha Kemenag Kota Kupang Imah, Ketua SMB Buddha Ratana Heni Setiawati, serta Pengurus Vihara Pubbaratana Kupang Handi Wirawan, Wahyu Hidayat, dr Lily, Agustina, Anita Annny, Ricky Layadi, dan lain-lain.

Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam keterangan tertulisnya, Rabu 26 Mei 2021, menyampaikan selamat hari Trisuci Waisak 2565/2021 kepada umat Buddha di Indonesia. Menag mengapresiasi komitmen dan kepatuhan umat Buddha dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

Yaqut juga mengajak umat untuk terus merawat kerukunan dan persaudaraan. Untuk itu, ia mengimbau, melalui momentum peringatan Trisuci Waisak, umat Buddha dapat terus merekatkan tali persaudaraan antarsesama.

Menurutnya, pesan merekatkan persaudaraan ini sejalan dengan ajaran yang tertuang dalam kitab suci Dhammapada, yaitu kelahiran para Buddha merupakan sebab kebahagiaan. Pembabaran ajaran benar merupakan sebab kebahagiaan. Persatuan merupakan sebab kebahagiaan dan usaha perjuangan mereka yang telah bersatu merupakan sebab kebahagiaan.

Umat Buddha tengah melaksanakan pradaksina yang merupakan rangkaian peringatan Trisuci Waisak. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Yaqut juga mengajak umat Buddha Indonesia untuk turut serta dalam upaya pengembangan Candi Borobudur. Menurutnya, pemerintah telah mengambil langkah strategis dalam merealisasikan program restorasi Borobudur yang berfokus pada nilai-nilai spiritual dan pendidikan dari situs Borobudur.

“Jadikanlah nilai-nilai luhur itu sebagai spirit untuk bangkit dan bersatu, bersama-sama menjadikan Candi Borobudur sebagai destinasi kunjungan religi agama Buddha dunia,” pesannya.

Yaqut optimistis cita-cita luhur dan kedigdayaan masa lalu bangsa bisa tercapai apabila umat Buddha khususnya dapat bersatu dalam menyukseskan restorasi Borobudur.

“Mari sukseskan restorasi Borobudur. Saya yakin dan percaya, dengan memahami kebenaran Dharma yang hakiki, umat Buddha Indonesia dapat mengambil peluang tersebut dengan sebaik-baiknya,” tutupnya.

Bagikan