Pesan Waisak dari STI, Jaga Keluhuran Bangsa hingga Imbauan Taati Prokes Covid-19 dan Vaksinasi

Terkini.id, Kupang – Seseorang patut menaklukkan kemarahan dengan ketidakmarahan, menaklukkan ketidakbaikan dengan kebaikan; menaklukkan kekikiran dengan derma, menaklukkan ucapan dusta dengan kebenaran (Dhammapada, 223).

Syair Dhammapada tersebut mengawali sambutan hari Trisuci Waisak 2565/2021 yang disampaikan Ketua Umum Sanghanayaka Sangha Theravada Indonesia (STI) YM Bhikkhu Sri Subhapanno Mahathera.

Dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kupang.Terkini.id, Minggu 23 Mei 2021, Bhikkhu Sri Subhapanno menegaskan, hari Trisuci Waisak mengingatkan umat Buddha pada tiga peristiwa suci yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran, pencerahan sempurna, dan kemangkatan. Tiga peristiwa suci itu terjadi pada hari yang sama, dengan tahun yang berbeda, yaitu hari purnama raya pada bulan Waisak.

Baca Juga: Tak Ada Provinsi Luar Jawa-Bali Berstatus PPKM 3-4, Menko Airlangga:...

“Kelahiran calon Buddha tahun 623 SM di Taman Lumbini Kapilavasthu Nepal, Pencerahan Sempurna tahun 588 SM di bawah Pohon Bodhi Bodhgaya India, dan kemangkatan Buddha Gotama tahun 543 SM pada usia 80 tahun di Kusinara India,” demikian paparnya.

Dijelaskan, hari Trisuci Waisak 2565 tahun ini jatuh pada 26 Mei 2021. Umat Buddha di seluruh dunia merayakan hari Trisuci Waisak, dengan penuh keyakinan untuk menghayati ajaran kebenaran Dhamma sebagai pedoman hidup yang luhur.

Baca Juga: Keluarkan SE PPKM Level 2, Pemkot Kupang Beberkan Aturan yang...

Menurutnya, STI sendiri mengangkat tema “Cinta Kasih Membangun Keluhuran Bangsa” dalam Trisuci Waisak 2565/2021, dengan maksud untuk mengingatkan pentingnya keluhuran bangsa dengan dasar cinta kasih sebagai pedoman hidup bermasyarakat yang memiliki budi pekerti luhur.

Keluhuran Bangsa

Bhikkhu Sri Subhapanno mengatakan, bangsa yang luhur tercermin pada perilaku masyarakat yang memiliki budi pekerti luhur. Pasalnya, bangsa Indonesia sejak dulu kala dikenal akan keramahtamahannya sebagai bangsa yang menjunjung tinggi keluhuran.

Baca Juga: Satgas Ingatkan Patuhi Prokes, Ungkap Keterisian BOR Pasien Covid-19 Mulai...

“Keluhuran bangsa Indonesia telah ada sejak dulu, terbukti pada keagungan Candi Borobudur yang dibangun sekitar abad kedelapan masehi dan menjadi saksi sejarah keluhuran bangsa Indonesia di masa itu,” ungkapnya.

Nasihat-nasihat luhur, sebut Bhikkhu Sri Subhapanno, seperti ajaran cinta kasih dan kasih sayang, dapat dilihat di relief-relief candi. Namun sayangnya, dewasa ini keluhuran bangsa tercoreng dengan semakin menurunnya kepedulian, keramahan, sikap hormat, serta gotong-royong yang menjadi ciri masyarakat luhur.

“Hal ini ditandai dengan semakin bertambahnya angka kejahatan, ujaran kebencian, permusuhan, dan intoleransi yang menyebabkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa,” bebernya.

Menurut Bhikkhu Sri Subhapanno, permasalahan bangsa juga diperumit dengan adanya krisis kepercayaan dan kurangnya rasa hormat kepada pemerintah. Kerap kali hal itu memicu tindakan provokasi yang berdampak pada keresahan dan kegaduhan di tengah masyarakat.

“Pandemi Covid-19 menjadi permasalahan baru dewasa ini, yang menimbulkan dampak pada terganggunya beberapa sektor kehidupan, seperti kondisi ekonomi, sosial, dan budaya. Meskipun demikian, hendaknya masyarakat Indonesia tetap memiliki sikap optimistis dan semangat untuk membangun kembali keluhuran dan kemajuan bangsa,” imbaunya.

Ia kembali menekankan, peringatan Trisuci Waisak mengingatkan kembali pada kemuliaan Guru Agung Buddha dan pesan-pesan luhur-Nya. Dalam Mahaparinibbana Sutta misalnya, Buddha menyampaikan pesan terakhir-Nya, “Vayadhamma sankhara, appamadena sampadethati” yang jika diterjemahkan berarti “Segala sesuatu yang muncul dari perpaduan faktor pembentuk, sewajarnya mengalami kehancuran. Sempurnakanlah tugas kalian dengan tanpa lengah”.

“Sementara itu, dalam Sedaka Sutta, Saaeyutta Nikaya, Buddha menyampaikan pesan, melindungi diri sendiri berarti melindungi orang lain, melindungi orang lain berarti melindungi diri sendiri,” imbuh Bhikkhu Sri Subhapanno

Cinta Kasih Sebagai Nilai Luhur

Bhikkhu Sri Subhapanno menyebutkan, nilai luhur adalah nilai-nilai yang dimiliki seseorang agar dapat menunjukkan sikap dan perilaku yang baik dalam hidup bermasyarakat. Salah satu nilai luhur yang menjadi dasar hidup bermasyarakat adalah cinta kasih.

“Berawal dari pengembangan cinta kasih, seseorang dapat mengembangkan nilai-nilai luhur yang lain, seperti kasih sayang, simpati, dan ketenangan,” katanya.

Dijelaskan, cinta kasih adalah nilai luhur yang mengharapkan kebahagiaan orang lain dan diri sendiri. Cinta kasih mendekatkan satu sama yang lainnya. Cinta kasih juga mempersatukan orang yang saling membenci.

“Seperti yang disampaikan Guru Agung Buddha, kebencian tak akan pernah berakhir bila dibalas dengan kebencian, tetapi kebencian baru akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, inilah satu hukum abadi,” demikian ulas Bhikkhu Sri Subhapanno mengutip syair Dhammapada 5.

Menurutnya, cinta kasih menyadarkan semua orang ingin hidup bahagia. Maka seseorang yang memiliki cinta kasih, tidak akan melakukan perbuatan yang menyebabkan orang lain menderita. Justru karena cinta kasih, seseorang akan melakukan perbuatan-perbuatan yang berguna bagi orang lain.

“Guru Agung Buddha juga mengajarkan tindakan berdana atau membantu orang lain dengan dasar cinta kasih. Cinta kasih ini dapat berwujud tindakan saling membantu satu sama lain yang dapat meringankan beban orang lain, khususnya saat menghadapi musibah,” kata Bhikkhu Sri Subhapanno.

Ia menambahkan, budaya luhur membantu orang lain dapat mengikis sikap individualis atau mementingkan diri sendiri. Sikap individualis dapat berupa tidak peduli orang lain dan lingkungan orang sekitar, merasa dirinya lebih baik dari orang lain, menginginkan pendapatnya selalu didengar, serta merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain. Sehingga, cinta kasih inilah yang akan membangun kebersamaan di tengah banyaknya perbedaan pendapat warga bangsa.

“Dari cinta kasih juga terlahir perilaku yang baik atau bermoral. Masyarakat yang memiliki cinta kasih akan berupaya menjunjung tinggi kemoralan, sebab kemajuan sebuah bangsa bukan hanya diukur secara intelektualitas maupun penguasaan teknologi, tetapi perlu memiliki kemoralan. Rasa malu untuk berbuat jahat serta takut akan akibat dari perbuatan jahat juga dibutuhkan untuk membentuk perilaku yang bermoral,” pesan Bhikkhu Sri Subhapanno.

Wujud masyarakat yang bermoral, sebutnya, dapat dilihat dari tindakan luhur seperti menghargai hak orang lain, gotong royong, ramah, jujur, bermusyawarah, dan saling peduli satu sama lain. Sehingga, pada akhirnya kemoralan akan melindungi dari kemunduran dan mendukung kemajuan sebuah bangsa.

“Untuk itu, kami mengucapkan selamat hari Trisuci Waisak 2565/2021, marilah kita mengembangkan cinta kasih agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat serta berbudi pekerti luhur. Wujudkan cinta kasih dalam bentuk tindakan nyata, dimulai dari diri sendiri dengan berperilaku baik serta saling bantu membantu dalam menghadapi berbagai permasalahan bangsa,” papar Bhikkhu Sri Subhapanno.

Ia menjelaskan, cinta kasih dibutuhkan untuk membangun keluhuran bangsa di tengah permasalahan dan kondisi saat ini.

“Marilah kita bersama berbagi cinta kasih dengan cara menaati protokol kesehatan (prokes) dan mengikuti vaksinasi agar pandemi Covid-19 segera berakhir, sehingga kondisi perekonomian dan sosial dapat berangsur pulih. Semoga Tuhan Yang Maha Esa, Tiratana, selalu melindungi kita semua,” tutupnya.

Bagikan