Waisak 2021 dalam Pengetatan Protokol Kesehatan, Esensi Kemaslahatan Guna Reduksi Covid-19

Terkini.id, Kupang – Guna mengantisipasi lonjakan penularan coronavirus disease 2019 (Covid-19), Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan panduan perayaan hari raya Trisuci Waisak yang jatuh pada 26 Mei 2021.

Panduan tersebut tertuang dalam surat edaran No SE 11 Tahun 2021 tentang pujabakti/sembahyang dan Dharmasanti Trisuci Waisak 2565 BE/2021 dalam masa pandemi.

“Panduan diterbitkan guna memberikan rasa aman kepada umat Buddha dalam penyelenggaraan pujabakti/sembahyang dan Dharmasanti Trisuci Waisak 2565 BE/2021,” demikian kata Yaqut dalam keterangan tertulisnya, Jumat 21 Mei 2021.

Baca Juga: Keluarkan SE PPKM Level 2, Pemkot Kupang Beberkan Aturan yang...

Ia meminta kapasitas jumlah peserta pujabakti/sembahyang maksimal 30 persen dari kapasitas ruangan. Hanya daerah dengan tingkat penyebaran Covid-19 rendah, yaitu zona hijau dan zona kuning yang boleh mengadakan sembahyang di rumah ibadah.

“Jumlah peserta maksimal 30 persen dari kapasitas ruangan agar memudahkan penerapan jaga jarak,” imbuhnya.

Baca Juga: Satgas Ingatkan Patuhi Prokes, Ungkap Keterisian BOR Pasien Covid-19 Mulai...

Yaqut juga mengimbau agar proses ibadah pengambilan api dan air suci yang melibatkan umat dalam jumlah banyak ditiadakan. Selain itu, para peserta ibadah wajib menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat, serta diimbau melakukan sembahyang di rumah saja.

“Pastikan semua peserta yang mengikuti kegiatan pujabakti/sembahyang dan meditasi dalam kondisi sehat,” harapnya.

 Selanjutnya, kegiatan sosial seperti karya bakti di Taman Makam Pahlawan dan baksos menyambut Trisuci Waisak juga dibatasi dengan kapasitas maksimal 30 persen dari ruangan.

Baca Juga: Kabar Baik, 26 Kelurahan di Kota Kupang Tak Ditemukan Kasus...

Seluruh peserta wajib menjalankan prokes secara ketat, seperti mengenakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan memberikan salam dengan anjali atau mengatupkan kedua belah tangan di depan dada.

Yaqut mengimbau agar kegiatan sosial dan Dharmasanti dilaksanakan dengan waktu seefisien mungkin. Kemudian, terkait anjangsana kegiatan Trisuci Waisak, ia menyarankan agar para umat Buddha tidak menggelar open house.

Selain itu, ia menegaskan penyelenggara hari besar keagamaan Buddha wajib melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah (Pemda) setempat sebelum mengadakan kegiatan pujabakti/sembahyang dan Dharmasanti Trisuci Waisak. Koordinasi tersebut harus dilakukan guna memastikan pelaksaan prokes tetap dijalankan.

“Berkoordinasi dengan Pemda dan instansi terkait untuk mengetahui informasi status zonasi, dan memastikan standar prokes Covid-19 dijalankan dengan baik, aman, dan terkendali,” tutup Yaqut.

Internal Agama Buddha Telah Terima Imbauan Pengetatan Prokes

Sebelumnya, imbauan yang sama juga diserukan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Caliadi dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kupang.Terkini.id, Rabu 19 Mei 2021.

Dalam surat edaran (SE) dengan nomor B-929/DJ.VII/Dt. VII.I/BA.00/04/2021 perihal imbauan pelaksanaan ibadah hari raya Trisuci Waisak bertanggal 14 April 2021 tersebut, Caliadi menekankan pentingnya kepatuhan terhadap prokes guna mereduksi penularan Covid-19.

“Guna mencegah penularan coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang lebih masif, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap mematuhi prokes secara ketat kendati sebagian warga sudah divaksin,” demikian ungkapnya kepada wartawan.

Hal itu dapat dilihat dari aturan pelarangan mudik pada Lebaran tahun ini dan 2020 lalu. Perayaan-perayaan agama lain pun tidak terkecuali, seperti hari raya Waisak yang jatuh pada Rabu 26 Mei 2021 mendatang.

“Memperhatikan imbauan pemerintah terkait pencegahan penyebaran Covid-19 di Tanah Air, sangat diperlukan dukungan penuh dari seluruh masyarakat termasuk umat Buddha Indonesia untuk menjaga kesehatan bersama. Implementasinya adalah melaksanakan kebijakan prokes dengan menjalankan 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas,” papar Caliadi.

Surat edaran dengan tembusan kepada Menteri Agama RI tersebut ditujukan kepada pimpinan organisasi Sangha, pimpinan majelis agama Buddha, dan Pembimas/Kasi Bimas/Penyelenggara Bimas Buddha di seluruh Indonesia.

“Sehubungan dengan hari raya Trisuci Waisak 2565 BE yang akan diperingati 26 Mei 2021, di mana masa tanggap darurat penanganan penyebaran virus corona masih berlangsung, maka dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut: tema hari raya Trisuci Waisak 2565 BE 2021 adalah Bangkit Bersatu untuk Indonesia Maju,” demikian isi surat edaran.

Selain itu, Caliadi juga menjelaskan, pujabakti dan meditasi detik-detik Waisak pada 26 Mei 2021 berlangsung pada pukul 18.13 WIB itu, agar tidak dilaksanakan secara massal dengan menghadirkan umat dalam jumlah banyak, baik di lingkungan rumah ibadah maupun tempat umum.

Adapun rangkaian acara menyambut hari raya Waisak seperti pengambilan api dan air suci yang melibatkan umat dalam jumlah banyak juga ditiadakan. Sementara, pujabakti dan meditasi detik-detik Waisak di rumah ibadah dapat dilaksanakan terbatas hanya untuk anggota Sangha dan pengelola atau pengurus rumah ibadah, dengan memperhatikan status zona rumah ibadah berada dengan catatan hanya zona hijau dan zona kuning yang dimungkinkan untuk beribadah.

“Umat Buddha disarankan melaksanakan pujabakti dan meditasi detik Waisak di rumah, dengan memanfaatkan teknologi informasi, media sosial (medsos) atau melakukan live streaming terkait perayaan Trisuci Waisak 2565 BE/2021,” imbuh Caliadi.

Ia juga mengimbau, pelaksanaan persembahyangan di rumah ibadah senantiasa memperhatikan kebijakan pemerintah sampai meredanya pandemi Covid-19.

“Demikian imbauan ini disampaikan untuk ditindaklanjuti dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Atas perhatian dan kerja samanya diucapkan terima kasih,” imbuh Caliadi.

Sekadar diketahui, sebelumnya Sangha Theravada Indonesia (STI) juga mengeluarkan imbauan serupa dengan surat edaran bernomor 055/STI/IV/2021 perihal imbauan pelaksanaan pujabakti Trisuci Waisak 2565 BE/2021, yang juga diterbitkan bersamaan surat edaran dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI.

Surat edaran itu sendiri ditujukan kepada anggota STI dan Karakasabha Vihara Binaan STI di seluruh Indonesia.

Antisipasi Lonjakan Covid-19, Kegiatan Keagamaan Diimbau Urai Kerumunan

Sebelumnya, seperti diwartakan Kupang.Terkini.id pada Jumat 21 Mei 2021, berdasarkan pengalaman sebelumnya, terbukti terjadi lonjakan kasus pada empat momentum liburan panjang selama 2020. Lonjakan kasus juga diklaim diikuti lonjakan kematian lantaran coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Pasalnya, kecenderungan masyarakat yang melakukan perjalanan setiap liburan panjang, menjadi pamantik lonjakan kasus sebab hampir selalu diiringi turunnya kepatuhan terhadap prokes, terutama 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak aman.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, dr Sonny Harry B Harmadi mengungkapkan hal tersebut dalam Dialog Produktif bertajuk “Terus Kencangkan Protokol Kesehatan” yang diselenggarakan Komite Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) secara virtual dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Kamis 20 Mei 2021.

Sonny menyampaikan, meningkatnya aktivitas perjalanan akan menciptakan kerumunan. Kepatuhan protokol 3M akan turut berkurang. Sehingga, hal Inilah yang memicu lonjakan kasus. Parahnya, saat terjadi lonjakan kasus, beban pada pelayanan kesehatan juga ikut meningkat.

Sementara itu, Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dr Lia G Partakusuma menambahkan, dikhawatirkan, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit akan datang secara bersamaan dengan jumlah yang besar.

“Kalau sampai tujuh-delapan ribu pasien dirawat bersamaan, maka rumah sakit akan sangat kewalahan sehingga tidak bisa membantu dengan maksimal,” bebernya.

Tidak hanya itu, jumlah tenaga kesehatan juga dikhawatirkan tidak mencukupi apabila jumlah kasus yang dirawat di rumah sakit meningkat secara bersamaan.

“Sumber daya manusia (SDM) di intensive care unit (ICU) harus khusus, belum lagi apabila jumlah penularan tinggi, maka SDM kita akan mudah tertular seperti awal tahun lalu, banyak tenaga kesehatan (nakes) kita tertular Covid-19,” imbuh Lia.

Ia menjelaskan, saat ini kondisi keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) secara nasional kurang dari 30 persen. Kendati demikian, sudah ada beberapa provinsi yang menunjukkan peningkatan BOR cukup signifikan.

“Aceh dan Sulawesi Barat BOR-nya kini sudah di atas 50 persen. Ada juga beberapa provinsi yang BOR-nya mencapai 25-50 persen seperti Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Riau. Lalu yang peningkatannya 10-24 persen ada di Sumatera Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, dan Jambi,” papar Lia.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat agar menghindari kondisi terburuk. Sehingga, hal itu pulalah  pemerintah memberlakukan peraturan peniadaan mudik tahun ini. Kondisi transportasi selama diberlakukannya aturan peniadaan mudik juga dinilai sangat efektif.

Terkait peniadaan mudik, Sonny menambahkan transportasi baik angkutan laut, udara, bahkan angkutan darat lalu lintasnya turun sebanyak 93 persen.

“Angkutan udara juga turun 70 persen. Esensi pelarangan mudik itu adalah agar masyarakat jangan melakukan perjalanan pada tanggal berapapun,” imbuhnya.

Menurutnya, aturan pelarangan mudik tahun ini juga mampu menekan keinginan masyarakat untuk pulang ke kampung halaman.

Seperti diketahui, penelitian Litbang Satgas Covid-19 menunjukkan sebelumnya masyarakat yang ingin melakukan mudik sebesar 33 persen, turun menjadi 11 persen setelah pemberlakuan aturan pelarangan mudik. Bahkan, setelah sosialisasi terus menerus dilakukan keinginan untuk mudik turun menjadi tujuh persen.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Soedjatmiko mengimbau agar membatasi kerumunan di manapun, baik pemudik maupun yang tidak mudik.

“Bagi yang tidak mudik, juga sebaiknya jangan berkerumun di pusat perbelanjaan apalagi di tempat wisata. Jangan sampai saudara kita tertular Covid-19 hingga bergejala berat dan masuk rumah sakit,” pesannya.

Mengutip data Satgas Covid-19, Soedjatmiko menyebutkan dari enam-tujuh orang yang berkerumun ada satu orang yang positif Covid-19.

“Apalagi dalam kerumunan itu, kecenderungan mengabaikan prokes juga tinggi seperti memakai masker tidak benar, bahkan tidak memakai masker sama sekali,” ungkapnya.

Soedjatmiko menambahkan, begitu juga bagi yang sudah divaksinasi sebanyak dua dosis secara lengkap tetap diimbau agar tidak berkerumun. Pasalnya, masih ada peluang sebesar 35 persen bagi orang yang sudah divaksinasi untuk tertular Covid-19. Sehingga, tidak ada jaminan seseorang kebal 100 persen dari virus yang diklaim menular perdana di Wuhan, Hubei, Tiongkok tersebut.

Guna menghindari hal itu, ia menyarankan apabila ada keluarga yang mudik atau pernah berkerumun selama satu jam atau lebih, perlu diwaspadai.

“Saya sarankan untuk swab Antigen atau PCR, dan bila perlu laporkan ke Ketua RT/RW dan Satgas Covid-19 di lingkungan masing-masing,” tutup Soedjatmiko.

Bagikan