Tekan Lonjakan Covid-19, Ini yang Patut Dipatuhi Masyarakat

Terkini.id, Kupang – Berdasarkan pengalaman buruk sebelumnya, terbukti terjadi lonjakan kasus pada empat momentum liburan panjang selama 2020. Lonjakan kasus juga diklaim diikuti lonjakan kematian lantaran coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Pasalnya, kecenderungan masyarakat yang melakukan perjalanan setiap liburan panjang, menjadi pamantik lonjakan kasus sebab hampir selalu diiringi turunnya kepatuhan terhadap protokol kesehatan (prokes), terutama 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak aman.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, dr Sonny Harry B Harmadi mengungkapkan hal tersebut dalam Dialog Produktif bertajuk “Terus Kencangkan Protokol Kesehatan” yang diselenggarakan Komite Penanggulangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) secara virtual dan ditayangkan di FMB9ID_IKP, Kamis 20 Mei 2021.

Baca Juga: Tak Ada Provinsi Luar Jawa-Bali Berstatus PPKM 3-4, Menko Airlangga:...

Sonny menyampaikan, meningkatnya aktivitas perjalanan akan menciptakan kerumunan. Kepatuhan protokol 3M akan turut berkurang. Sehingga, hal Inilah yang memicu lonjakan kasus. Parahnya, saat terjadi lonjakan kasus, beban pada pelayanan kesehatan juga ikut meningkat.

Sementara itu, Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dr Lia G Partakusuma menambahkan, dikhawatirkan, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit akan datang secara bersamaan dengan jumlah yang besar.

Baca Juga: Keluarkan SE PPKM Level 2, Pemkot Kupang Beberkan Aturan yang...

“Kalau sampai tujuh-delapan ribu pasien dirawat bersamaan, maka rumah sakit akan sangat kewalahan sehingga tidak bisa membantu dengan maksimal,” bebernya.

Tidak hanya itu, jumlah tenaga kesehatan juga dikhawatirkan tidak mencukupi apabila jumlah kasus yang dirawat di rumah sakit meningkat secara bersamaan.

“Sumber daya manusia (SDM) di intensive care unit (ICU) harus khusus, belum lagi apabila jumlah penularan tinggi, maka SDM kita akan mudah tertular seperti awal tahun lalu, banyak tenaga kesehatan (nakes) kita tertular Covid-19,” imbuh Lia.

Baca Juga: Satgas Ingatkan Patuhi Prokes, Ungkap Keterisian BOR Pasien Covid-19 Mulai...

Ia menjelaskan, saat ini kondisi keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) secara nasional kurang dari 30 persen. Kendati demikian, sudah ada beberapa provinsi yang menunjukkan peningkatan BOR cukup signifikan.

“Aceh dan Sulawesi Barat BOR-nya kini sudah di atas 50 persen. Ada juga beberapa provinsi yang BOR-nya mencapai 25-50 persen seperti Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Riau. Lalu yang peningkatannya 10-24 persen ada di Sumatera Barat, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, dan Jambi,” papar Lia.

Untuk itu, ia mengimbau masyarakat agar menghindari kondisi terburuk. Sehingga, hal itu pulalah  pemerintah memberlakukan peraturan peniadaan mudik tahun ini. Kondisi transportasi selama diberlakukannya aturan peniadaan mudik juga dinilai sangat efektif.

Terkait peniadaan mudik, Sonny menambahkan transportasi baik angkutan laut, udara, bahkan angkutan darat lalu lintasnya turun sebanyak 93 persen.

“Angkutan udara juga turun 70 persen. Esensi pelarangan mudik itu adalah agar masyarakat jangan melakukan perjalanan pada tanggal berapapun,” imbuhnya.

Menurutnya, aturan pelarangan mudik tahun ini juga mampu menekan keinginan masyarakat untuk pulang ke kampung halaman.

Seperti diketahui, penelitian Litbang Satgas Covid-19 menunjukkan sebelumnya masyarakat yang ingin melakukan mudik sebesar 33 persen, turun menjadi 11 persen setelah pemberlakuan aturan pelarangan mudik. Bahkan, setelah sosialisasi terus menerus dilakukan keinginan untuk mudik turun menjadi tujuh persen.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Soedjatmiko mengimbau agar membatasi kerumunan di manapun, baik pemudik maupun yang tidak mudik.

“Bagi yang tidak mudik, juga sebaiknya jangan berkerumun di pusat perbelanjaan apalagi di tempat wisata. Jangan sampai saudara kita tertular Covid-19 hingga bergejala berat dan masuk rumah sakit,” pesannya.

Mengutip data Satgas COVID-19, Soedjatmiko menyebutkan dari enam-tujuh orang yang berkerumun ada satu orang yang positif Covid-19.

“Apalagi dalam kerumunan itu, kecenderungan mengabaikan prokes juga tinggi seperti memakai masker tidak benar, bahkan tidak memakai masker sama sekali,” ungkapnya.

Soedjatmiko menambahkan, begitu juga bagi yang sudah divaksinasi sebanyak dua dosis secara lengkap tetap diimbau agar tidak berkerumun. Pasalnya, masih ada peluang sebesar 35 persen bagi orang yang sudah divaksinasi untuk tertular Covid-19. Sehingga, tidak ada jaminan seseorang kebal 100 persen dari virus yang diklaim menular perdana di Wuhan, Hubei, Tiongkok tersebut.

Guna menghindari hal itu, ia menyarankan apabila ada keluarga yang mudik atau pernah berkerumun selama satu jam atau lebih, perlu diwaspadai.

“Saya sarankan untuk swab Antigen atau PCR, dan bila perlu laporkan ke Ketua RT/RW dan Satgas Covid-19 di lingkungan masing-masing,” tutup Soedjatmiko.

Bagikan