Situasi Pandemi Covid-19 Indonesia Diprediksi Tak Separah India, Ini Alasannya

Terkini.id, Kupang – Miris dan menghadirkan trauma getir, demikianlah kondisi yang dapat dilihat dari gelombang “tsunami” Covid-19 yang memporak-porakan India. Dampak destruktif virus yang diklaim pertama berawal dari Wuhan, Hubei, Tiongkok tersebut telah menyengsarakan masyarakat di Negeri Bollywood itu, khususnya warga yang berasal dari kalangan bawah.

Seperti kisah yang viral belum lama ini, seperti diwartakan Terkini.id pada 22 April 2021, seorang warga India memohon dengan bersujud kepada polisi di luar rumah sakit swasta di Kota Agra, Uttar Pradesh. Dalam video yang viral di berbagai platform media sosial (medsos) dan menyentuh warga dunia itu, tampak seorang pria menangis dan meminta kepada petugas polisi agar mengembalikan tabung oksigen milik ibunya.

“Ibuku akan mati jika kalian mengambil tabung oksigennya,” demikian permohonan Anmol Goyal (22), kepada polisi saat tabung oksigen itu dibawa keluar rumah sakit.

Baca Juga: Tak Henti Berseru Prokes Harga Mati, Pemkot Kupang Akui 70...

Situasi pandemi di Indonesia belum terkendali juga menghadirkan kekhawatiran yang sama. Apalagi, penyebaran virus corona masih meluas di berbagai wilayah Tanah Air. Sehingga, hal itu pulalah yang menjadi dasar pemerintah mengeluarkan larangan mudik Lebaran 2021 yang berlaku 6 Mei hingga 17 Mei 2021.

Kendati ada larangan mudik, kenyataannya banyak warga yang “mbalelo” atau tetap nekat pulang kampung menggunakan kendaraan roda dua, mobil pribadi, maupun cara-cara manipulatif lainnya. Pemerintah dan ahli sendiri telah mengingatkan agar masyarakat tetap mematuhi aturan pemerintah. Tujuannya supaya situasi pandemi pasca Lebaran tidak lebih buruk dari yang ada saat ini.

Baca Juga: Greysia Polii Sudah Divaksin, Bukti Atensinya Terhadap Upaya Eradikasi Covid-19

Apalagi, berkaca dari apa yang terjadi di India. Seperti diketahui, India mengalami gelombang tsunami Covid-9 setelah adanya perayaan keagamaan di Sungai Gangga yang mengumpukan sekitar lima juta orang. Peningkatan tajam kasus penularan Covid-19 di India itu memang diklaim tidak terlepas dari festival keagamaan tersebut yang melalaikan protokol kesehatan (prokes), sehingga memicu gelombang penularan yang masif dan tidak terkendali.

“Kita tidak berharap situasi pandemi di Indonesia akan seburuk yang dialami India. Mudik berpotensi tingkatkan penularan virus,” kata Epidemiolog dari Universitas Diponegoro (Undip) Ari Urdi saat dikonfirmasi wartawan di Semarang, Sabtu 5 Mei 2021.

Ia menambahkan, kegiatan mudik yang saat ini berlangsung di Indonesia sangat berpotensi meningkatkan terjadinya penularan virus dalam masyarakat.

Baca Juga: Lepas PPKM Level 4 Diperpanjang Setelah 2 Agustus, Kepatuhan Prokes...

“Berada dalam kendaraan dalam waktu lama, dengan ruang yang jauh lebih sempit pasti mengabaikan masker, dan pasti tertutup rapat karena berpendingin udara. Bisa dibayangkan, apa yang terjadi dengan para penumpang tersebut,” imbuh Ari.

Mudik juga bukan satu-satunya pemicu penularan masif nantinya, sebab juga ada rangkaian rangkaian aktivitas kekeluargaan maupun keagamaan selama Ramadan.

“Bukannya saya tidak setuju dengan (kegiatan) ini, tetapi menjaga kepatuhan menggunakan masker sangat sulit. Katakanlah berjarak (saat salat) sudah bisa karena kelihatannya hampir semua masjid sudah menerapkan pengaturan jarak, tetapi menggunakan masker, itu tergantung kesadaran dari masing-masing jemaah,” beber Ari.

Kendati risiko penularan riskan terjadi dari kegiatan mudik Lebaran, Ari optimistis situasi di Indonesia tidak bakal separah yang dialami India. Menurutnya, hal itu lantaran masih banyak kelompok masyarakat di Indonesia yang menyadari pentingnya prokes dan bahaya Covid-19.

“Saya masih bersyukur, setidaknya masih ada masyarakat Indonesia yang saling mengingatkan terkait prokes. Tidak seperti di India, seperti yang saya lihat di medsos, kelihatannya semua sudah abai dengan prokes,” ungkapnya.

Di Indonesia, meski tidak semua taat terhadap aturan yang ditetapkan pemerintah, imbauan untuk selalu patuh prokes, sebut Ari, masih bisa dijumpai di berbagai tempat.

“Bisa dilihat, setidaknya perintah menggunakan masker dan berjarak ada di mana-mana, dan kita sering lihat juga ada orang yang mau menegur dengan baik bila seseorang tidak menggunakan masker atau berkerumun,” imbuhnya.

Terkait hal apa yang masih bisa dilakukan guna mengeradikasi potensi buruk terjadinya penularan Covid-19 dalam masyarakat, Ari mengatakan yang esensial adalah sinergi antara aparat dan masyarakat dalam mengawasi pendatang yang masuk ke wilayahnya masing-masing.

“Saya rasa ‘jogo tonggo’, sinergi aparat dan masyarakat harus lebih digalakkan. Setiap pendatang wajib dicatat. Ini tugas RT/RW yang ‘mata-mata’-nya adalah tetangga di sekitar rumah di mana ada pendatangnya. Mereka dilaporkan, mungkin akan ada tindak lanjutnya,” ujarnya.

Sekadar diketahui, jogo tonggo adalah gerakan yang dibuat untuk saling menjaga tetangga saat pandemi Covid-19 yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Istilah itu diambil dari bahasa Jawa. Jogo artinya menjaga, sementara tonggo artinya tetangga. Dalam implementasinya, jogo tonggo mencakup dua hal, yaitu jaring pengaman sosial dan keamanan serta jaring ekonomi. Satgas jogo tonggo nantinya ditempatkan di setiap RW. Satgas itu dibentuk untuk menjaga dan melakukan pemantauan terhadap tetangga masing-masing. Tugas anggota gerakan ini juga memastikan bantuan dan dukungan dari luar wilayah yang masuk ke daerahnya tepat sasaran dan tepat guna.

Ia menyebutkan, untuk menciptakan Indonesia yang terbebas dari pandemi Covid-19, dibutuhkan kontribusi nyata semua pihak Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau masyarakat.

Sementara itu, ketika dihubungi secara terpisah, Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menjelaskan ada sejumlah upaya yang urgensial dilakukan guna menekan destruksi yang akan terjadi dari kegiatan mudik tersebut.

Ia menguraikan, upaya yang bisa dilakukan itu di antaranya peningkatan surveilans baik di rumah sakit maupun dalam komunal masyarakat, termasuk penguatan sistem kesehatan dengan menghadirkan ketersediaan ruang rawat, intensive care unit (ICU) atau unit gawat darurat (UGD), pasokan oksigen, alat pelindung diri (APD), dan sistem rujukan termasuk akselerasi vaksinasi terutama bagi kelompok rentan.

“Karena semua itu harus siap kalau dalam situasi terburuk. Ini perlu disiapkan, panik nanti semua, korban jiwa manusia,” beber Dicky saat dikonfirmasi pada Sabtu 8 Mei 2021.

Adapun skema pembatasan sosial berskala besar (PSBB) Jawa-Bali setelah masa Lebaran dan penguatan “new normal”, salah satunya sistem kerja yang menerapkan work from home (WFH) atau bekerja dari rumah.

“Ini untuk meredam, setidaknya di Jawa-Bali dan kota raya di luar Jawa-Bali yang sudah serius seperti Medan, Sulawesi, atau Kalimantan,” imbuh Dicky.

Ia menambahkan, dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini masyarakat berhadapan dengan tiga musuh yang masuk dalam jajaran prioritas penanggulangan.

“Pertama, virus itu sendiri beserta varian barunya. Kedua adalah infodemik seperti hoaks, teori konspirasi, dan lain sebagainya. Terakhir adalah perilaku manusia, baik masyarakat maupun pemerintah,” kata Dicky.

Perilaku yang dimaksudnya adalah kesinergian antara masyarakat dan pemerintah, yaitu harus sama-sama mengoreksi diri terhadap hal yang benar sesuai kontekstual pengendalian pandemi.

Untuk itu, Dicky menegaskan jika tingkat kepatuhan masyarakat sudah menurun maka mobilitas dan interaksi semakin sulit dibendung yang berarti akan memudahkan virus bertransmisi.

“Dampak buruknya, tentu ke peningkatan kasus infeksi, peningkatan kesakitan, peningkatan kematian. Itu fakta yang tidak bisa dihindari,” tutupnya.

Bagikan