Sell in May Pasar Modal Diperkirakan Undur Juni, Ini Alasannya

Terkini.id, Kupang – Sell in May, jargon ini mungkin masih asing di telinga awam tetapi tidak demikian bagi para pelaku di pasar modal. Seperti diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki periode perdagangan Mei 2021 pada pekan depan. Mei sejatinya merupakan bulan yang selalu dikaitkan dengan ramainya aksi jual pelaku pasar, sehingga di sinilah muncul istilah “Sell in May”.

Menelisik transaksional di pasar modal yang dinamis ini, memang sejak 2011 hingga 2020 lalu, rata-rata imbal hasil atau return IHSG di Mei minus 0,67 persen. Kendati begitu, return negatif ini lebih karena dipengaruhi sentimen volatilitas indeks di bulan tersebut, sehingga ketika terjadi penurunan dengan nilai yang cukup besar.

Sementara itu, secara tren tercatat hanya penurunan pada Mei hanya terjadi selama lima periode. Selebihnya, indeksnya positif.

Baca Juga: Saatnya Bersih-bersih Saham di Pasar Modal, Ini Alasannya

Vice President RHB Sekuritas Michael Setjoadi kepada wartawan di Jakarta, Jumat 30 April 2021, menjelaskan jargon populer Sell in May muncul lantaran ex-dividend. Investor kebanyakan menjual saham setelah sebelumnya memanfaatkan momen dividen. Apalagi, rerata yield dividen hingga periode ini sebesar dua persen hingga tiga persen.

Akan tetapi, sebut Michael, Sell in May tahun ini kecil kemungkinannya terjadi pada Mei yang sudah menjadi kelaziman. Pasalnya, beberapa jadwal ex-dividend mundur akibat deadline pelaporan keuangan yang lebih lama.

Baca Juga: Optimistis Prospek Sinarmas AM, Lo Kheng Hong Tak Lakukan Penarikan...

“Sehingga, kemungkinan aksi jual akibat ex-dividend baru terjadi pada Juni 2021. Selain itu, ada beberapa faktor yang bisa menahan potensi penurunan indeks bulan depan,” paparnya.

Menurut Michael, IHSG bulan depan masih cenderung sideways. Kendati demikian, ada sedikit strong support atau dukungan kuat sehingga tidak terjadi Sell in May di Mei mendatang.

Ia menambahkan, dalam skala regional kondisi politik di Indonesia lebih stabil ketimbang Malaysia dan Thailand. Omnibus law yang sudah berjalan, juga masih bisa menjadi pemicu masuknya investasi asing ke Tanah Air.

Baca Juga: Laju Kencang Bursa Asia, Didongkrak Asa Ketersediaan Vaksin Corona

Kabar buruknya, sebut Michael, ada sejumlah faktor yang berpotensi menekan IHSG. Ini tidak bisa dikesampingkan sebab berkontribusi bakal mengganggu kinerja pasar modal nantinya.

“Pergerakan inflasi Amerika Serikat (AS) dan US Treasury bond sejatinya mengindikasikan membaiknya perekonomian global. Namun, kondisi tersebut justru bisa berbalik pada melemahnya rupiah. Pelemahan rupiah hampir selalu disertai penurunan IHSG,” ungkapnya.

Michael menambahkan, polemik kasus Covid-19 masih menjadi perhatian utama. Hal tersebut juga dikhawatirkan menjadi aral semringah pasar modal.

“Terutama, kasus lonjakan penularan yang biasanya kembali meningkat setelah libur Lebaran. Jika mengalami kenaikan kasus, berarti semakin lama waktu yang dibutuhkan bagi perekonomian untuk pulih. Kami memperkirakan, IHSG pada Mei akan bergerak pada rentang 5.900-6.000,” tutupnya.

Bagikan