Social Responsibility dari Volunteer Diapresiasi, Korban Bencana NTT: Terima Kasih, Relawan

Terkini.id, Kupang – Suara drone kecil serupa dengung serangga yang mengitari Desa Erbaun, Kelurahan Buraen, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berkitar di atas para relawan, mengawali aktivitas pegiat kemanusiaan pasca bencana badai siklon tropis seroja yang memicu banjir bandang, tanah longsor, dan angin mahadahsyat yang memporak-porandakan dusun terpencil itu.

Seperti diwartakan Kupang.Terkini.id pada 17 April 2021 lalu, drone yang bertujuan survei lapangan terkait keparahan wilayah terjangan bencana itu, merupakan milik volunteer dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah yang ikut serta dalam rombongan tim relawan komunal filantropi Sivali Visakha, Yayasan Paramita Foundation-Mapanbumi, dan Putra Putri Hakka Indonesia (PPHI) bersama distribusi armada Indonesia Off-Road Federation (IOT) NTT.

Kendati siang menyengat terik, namun tim relawan sama sekali tidak menyurutkan niat subtil mereka untuk membantu dan mengajuk rasa kebersamaan dalam aksi kemanusiaan. Bahkan, sekadar mengaso setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, yang memakan waktu sekitar empat jam menuju lokasi bencana yang belum terjamah bantuan dari manapun kala itu.

Baca Juga: Pasca Sebulan Berlalu, Korban Badai Siklon Seroja di Kupang Masih...

Mata anak-anak di sana yang semula redup, tampak berbinar riang setelah Hadrian, koordinator dari Komunitas Wahana Muda Indonesia (WMI) yang merupakan non-governmental organization (NGO) yang bergerak di bidang sosial, human interest, dan peduli lingkungan, menggugah durja mereka dengan mengajak bernyanyi dan bermain.

Hadrian, koordinator dari Komunitas Wahana Muda Indonesia (WMI) yang merupakan non-governmental organization (NGO) yang bergerak di bidang sosial, human interest, dan peduli lingkungan, saat foto bersama warga terdampak bencana NTT di Desa Erbaun. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Dengan lincah dan jenaka, ia bertepuk-tepuk tangan dan sesekali melompat-lompat kecil mengajak anak-anak di Desa Erbaun melakukan hal yang sama.

Baca Juga: Ini Alasan WKRI NTT Prihatin Kondisi Sabu Raijua Pasca Badai...

“Tepuk-tepuk tangan, suka-suka. Tangan di kepala tangan di pinggang,” demikian serunya dengan suara sedikit serak menutupi kelelahan, sejak menjejakkan kakinya di tanah dusun yang habis diterjang banjir bandang itu.

Anak-anak dusun yang tampak lusuh, dengan cerianya mengikuti arahannya dan sesekali tertawa terbahak melihat tingkah lucu yang diperagakan Hadrian. Bukan hanya anak-anak, tetapi ia juga mengajak orang-orang tua untuk mengikutinya, setelah sebelumnya mengajak berswafoto (selfie) bersama.

“Ayo, Oma-Opa, sini selfie sama-sama. Jangan mau kalah sama anak-anak. Bagi yang berani mengikuti gerakan saya, akan dapat hadiah,” demikian ajak Hadrian sembari mencabut beberapa lembar uang pecahan Rp 50 ribu dari dompetnya, yang dibagi-bagikannya kepada beberapa anak-anak dan lansia.

Baca Juga: Hampir Sebulan Pasca Bencana NTT, Vihara Pubbaratana Kupang Masih Salurkan...

Kepada Kupang.Terkini.id, ia mengatakan pihaknya memang sengaja datang bersama rombongan volunteer lainnya untuk menyembuhkan trauma psikis pasca bencana.

“Ini visi social responsibility kami dalam WMI, bergerak dalam (program) trauma healing di daerah-daerah yang terpapar bencana. Salah satunya adalah NTT ini. Musibah tsunami di Aceh dulu, tim kami juga bergerak. Juga musibah gempa bumi di Sulawesi Barat barusan,” imbuh Hadrian.

Hadrian tidak sendiri ketika ia mengajak puluhan warga di Erbaun bernyanyi dan bertepuk-tepuk tangan meneriakkan yel-yel “Terima kasih, terima kasih, Oom Relawan” secara berulang-ulang, memplesetkan yel-yel populer yang sering diteriakkan para demonstran di masa reformasi 1998. Pasalnya, secara sporadis dalam keriangan yang sama, semua warga di sana mengikutinya.

Apresiasi bagi Volunteer, Warga Terdampak Bencana Kirim Bantuan Tenaga Muda

Di Kota Kupang, aktivitas serupa atas nama kemanusiaan juga terlihat di Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Rabu 28 April 2021.

Adalah Relawan Nusantara yang dikoordinir Rey Renus. Dalam kegiatan sosialnya, ia dan tim relawan lainnya bersinergi untuk menjelajah posko-posko responsif bantuan bencana NTT. Seperti pagi ini, Rabu 28 April 2021, seperti biasa pukul 06.00 Wita, pihaknya mulai belanja di pasar lalu memasak di dapur umum untuk distribusi makan siang bagi warga non Muslim yang terdampak bencana di tiga lokasi berbeda.

Sekadar diketahui, dalam social responsibility kali ini, pihaknya mendapat sokongan dari Yayasan Cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (YCNKRI). Kegiatan selain membuka dapur umum, juga memberikan aksi pemulihan atau recovery dalam program trauma healing pasca bencana.

Anak-anak warga korban bencana badai siklon tropis seroja saat makan bersama hasil bantuan dapur umum dari Relawan Nusantara. (Kupang.Terkini.id/Istimewa)

“Yang jadi catatan (berkesan) hari ini, tiba-tiba salah seorang warga terdampak, Bapak Yacob Bollu yang juga selaku Ketua RT 014 RW 06 Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang yang sebagian wilayahnya terendam menjadi danau pasca badai siklon tropis seroja, mengontak kami dan meminta izin untuk mengirim tenaga dari beberapa pemudanya,” demikian Rey mengungkap aktivitas rutinnya selama tiga pekan ini dalam pesan singkat kepada Kupang.Terkini.id.

Guna membantu tim relawan di dapur umum, sebut Rey, Yacob Bollu menawarkan bantuan tenaga sambil mendoakan para volunteer agar diberikan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

“Kami semua sudah sehat (recovery), kami malu kalau hanya menerima (bantuan). Maka, izinkan kami untuk ikut berkontribusi bersama tim relawan walaupun hanya berupa tenaga,” beber Rey Renus, mengutip perkataan Yacob Bollu.

Rey yang juga selaku penanggung jawab kegiatan tim relawan di sana mengatakan, mereka dengan senang hati menerima tawaran tenaga tambahan yang memang dibutuhkan pihaknya.

Para volunteer tengah foto bersama anak-anak terdampak bencana NTT. (Kupang.Terkini.id/Istimewa)

“Hari ini, Pak RT (Yacob Bollu) mengirim lima anak mudanya untuk membantu memasak, membungkus makanan, dan bersih-bersih di dapur umum. Mereka di antaranya Meri Lassa, Serli Lassa, Nanda Lassa, Yulan Lassa, dan Ester Meko,” jelasnya.

Rey menambahkan, kehadiran para tenaga muda itu sangat berkontribusi membantu para relawan yang berada di bawah koordinasinya.

“Mereka hadir dan mulai membantu kami hari ini. Bersama membuat menu makan siang dengan dua pilihan, nasi putih dan nasi kuning dilengkapi lauk ikan goreng, tempe bacem, serta sayur sawi dicampur tahu. Makan siang ini kami tujukan untuk warga non Muslim atau Muslim yang sedang sakit sehingga berhalangan untuk puasa,” paparnya.

Rey mengungkapkan, makanan tersebut untuk didistribusikan ke warga terdampak bencana di sana. Selain itu, penyaluran bantuan makanan tersebut juga disalurkan ke RT 10, 11, dan 12 di Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo.

“Juga di pengungsian SD Kristen Kuasaet di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa. Tentunya juga ke area ‘danau baru’ di Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa,” imbuhnya.

Mengakhiri reportasenya kepada Kupang.Terkini.id via pesan pendek di WhatsApp (WA), Rey mengatakan juga mendistribusikan makanan untuk berbuka puasa dan sahur bagi warga Muslim yang terdampak bencana, yang tengah menjalankan ibadah puasa.

“Sementara, untuk saudara-saudara yang non Muslim, kami juga mendistribusikan makan siang dan makan malam untuk mereka,” tutupnya.

Bagikan