Ini Penyebab Tsunami Corona yang Landa India saat Hampir Capai Herd Immunity

Terkini.id, New Delhi – Terlena, begitulah kira-kira yang dapat ditujukan terhadap kondisi India saat ini yang diterjang “tsunami” corona. Padahal, Covid-19 di India sempat melandai namun lonjakan infeksi kembali terjadi ketika para ilmuwan memperkirakan herd immunity atau kekebalan imunitas kelompok sudah hampir tercapai.

Seperti diwartakan CNA, Selasa 20 April 2021, melalui koresponden CNA Ishan Garg di New Delhi, mengungkapkan, pada Sabtu 17 April 2021 lalu, Negeri Bollywood tersebut melaporkan sebanyak 260.778 kasus baru Covid-19.

Menurut laporannya, para pakar kesehatan di India menyebut lonjakan kasus tersebut besar kemungkinan disebabkan adanya varian baru corona yang lebih cepat menular.

Baca Juga: Keluarkan SE PPKM Level 2, Pemkot Kupang Beberkan Aturan yang...

“Apalagi, hal itu diperburuk dengan banyaknya warga India yang tidak lagi khawatir terhadap bahaya virus ini,” demikian laporannya.

Senada laporan Ishan pada hari yang sama, The Gurdian melaporkan para ahli urologi di Coimbatore, Tamil Nadu, menyebutkan penyebabnya lantaran warga di sana sangat terlena, bertindak seolah virus itu telah hilang. Sekadar diketahui, Coimbatore adalah sebuah kota di Tamil Nadu, India. Coimbatore terkenal karena industri katunnya sehingga populer sebagai “Manchester” dari India Selatan. Juga dikenal karena produksi motor dan gerindanya.

Baca Juga: Satgas Ingatkan Patuhi Prokes, Ungkap Keterisian BOR Pasien Covid-19 Mulai...

“Adalah sesuatu yang tidak masuk akal (virus bisa hilang),” demikian The Guardian mengungkap.

Menurut The Guardian, saat ini India mengalami gelombang infeksi virus corona yang jauh lebih buruk ketimbang yang pertama, dengan skala penyebaran yang juga semakin buruk.

“Di Tamil Nadu, hanya dibutuhkan waktu 15 hari untuk mencapai tingkat kasus yang sama di rumah sakit yang merupakan puncak pamungkas. Di kota-kota besar pada negara bagian, rumah sakit di sana sudah hampir penuh,” papar The Guardian.

Baca Juga: Kabar Baik, 26 Kelurahan di Kota Kupang Tak Ditemukan Kasus...

Diuraikan, beberapa penyebab tsunami corona yang menyebabkan India dalam puncak pandemi baru, di antaranya berawal dari pasca ritual keagaaman yang memantik ribuan kasus infeksi Covid-19.

“Lebih seribu orang dinyatakan positif virus corona setelah perayaan ritual mandi bersama di sungai atau Kumbh Mela yang bahkan dilaksanakan dalam beberapa hari. Kebanyakan peserta ritual ini tidak menerapkan protokol kesehatan (prokes) saat mandi bersama di Sungai Gangga, India,” sebut The Guardian sesuai perkataan para ahli urologi di Coimbatore.

Fakta lainnya akibat tsunami corona adalah menumpuknya jenazah di rumah sakit. Ini terlihat di rumah sakit pemerintah India, Raipur. Tak dapat dipungkiri, penyebabnya lantaran kebanyakan pasien corona tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal dunia. Parahnya, karena jumlah jenazah yang terlalu banyak sehingga tidak dapat dikremasi dengan cepat.

Fakta miris lainnya, di Surat misalnya, salah satu negara bagian Gujarat, krematorium dipenuhi korban Covid-19. Ini membuat pihak keluarga terpaksa harus membakar jenazah-jenazah itu di tempat yang terbuka.

“Kasus tsunami yang parah ini telah membanjiri infrastruktur perawatan kesehatan di negara bagian itu,” ujar anggota gugus tugas COVID-19 di Mumbai, Dr Shashank Joshi.

Ia menambahkan, tidak seperti gelombang penularan perdana, kali ini pihaknya mendapati kenyataan yang mengejutkan terkait kasus Covid-19.

“Kami melihat orang-orang yang lebih muda, antara 20-40 tahun, dan mengalami dampak serius. Bahkan, anak-anak sekarang dirawat di rumah sakit dengan gejala yang parah. Kapasitas sistem perawatan kesehatan untuk bertahan juga semakin menyusut,” jelas Shashank.

The Guardian, seperti dilaporkan para ahli urologi tersebut, mengatakan sejumlah rumah sakit mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen sehingga membuat banyak pasien Corona tidak bisa diselamatkan.

“Menurut seorang politisi lokal di Kota Vasai-Virar, Maharashtra, ia membuat permohonan publik untuk membantu mengatasi kekurangan oksigen tersebut. Pasokan hanya dapat berjalan selama tiga jam,” imbuhnya, dalam cuitannya di Twitter yang ditujukan kepada pemerintah pusat dan perdana menteri Narendra Modi.

Dijelaskan, ada lebih tujuh ribu kasus aktif di daerah tersebut dan lebih tiga ribu orang membutuhkan suplai oksigen setiap hari. Selain pasokan oksigen, jumlah tempat tidur di rumah sakit untuk menangani pasien Covid-19 juga terbatas.

“Di New Delhi, kota yang paling parah terdampak Covid-19 ini bahkan hanya memiliki tempat tidur kurang dari 100 di seluruh rumah sakit. Sesuatu yang memprihatinkan,” beber The Guardian, masih dalam laporan yang sama.

Sebelumnya, politikus dan aktivis di New Delhi, Arvind Kejriwal mengungkapkan, banyak warga India yang mengeluh terkait kurangnya jumlah tempat tidur di rumah sakit, termasuk tabung oksigen dan obat-obatan.

“Kekhawatiran yang lebih besar, dalam 24 jam terakhir angka positivity rate meningkat menjadi sekitar 30 persen dari sebelumnya 24 persen. Kasus-kasus infeksi yang meningkat drastis, dengan sangat cepat membuat keterisian tempat tidur di rumah sakit menjadi penuh,” beber Arvind dalam sebuah jumpa pers dengan wartawan.

Bagikan