Juara Catur AS Wesley So Nilai Dewa Kipas Curang, Ini Alasannya

Juara Catur AS Wesley So Nilai Dewa Kipas Curang, Ini Alasannya
Grand Master (GM) Wesley So asal Amerika Serikat (AS) ikut mengomentari isu terkait Dewa Kipas. Ia sendiri buka suara terkait fenomena Dewa Kipas melalui sebuah sesi tanya jawab daring yang diunggah melalui kanal Youtube. (Getty Images)

Terkini.id, Kupang – Strategi catur yang pelik, ternyata juga terjadi di dunia “percaturan” dunia. Paling tidak, hal itu bermula dari perseteruan yang anyar terjadi antara GothamChess dan Dewa Kipas.

Dalam pemberitaan yang marak diwartakan di Chess.com, media catur daring terkenal, sepertinya pertarungan asah otak melalui bidak di papan hitam-putih tersebut masih berlanjut kendati dalam komentarnya setelah dikalahkan grand master wanita atau Woman Grand Master (WGM) Irene Sukandar, agar masyarakat khususnya publik catur menyudahi polemik yang terjadi.

Secara subtil, Dadang Subur yang menggunakan nama anonim Dewa Kipas di Chess.com menyerukan agar tidak lagi membahas perseteruannya dengan Levy Rozman yang menggunakan nama anonim GothamChess.

Ia mengatakan, lebih baik mengambil hikmah dari kejadian tersebut lantaran karena dengan begitu olahraga catur bisa lebih membumi di Tanah Air.

Teraktual, Grand Master (GM) Wesley So asal Amerika Serikat (AS) ikut mengomentari isu tersebut. Ia sendiri buka suara terkait fenomena Dewa Kipas melalui sebuah sesi tanya jawab daring yang diunggah melalui kanal Youtube.

Menurut Wesley, kecurangan yang dilakukan Dadang Subur sudah cukup jelas. Ia bahkan menyebut semua orang bisa mengetahui bagaimana Dadang Subur melakukan kecurangan. Hal itu terlihat ketika Dewa Kipas bertanding secara langsung kontra Irene Sukandar belum lama ini.

“Saya pikir, (alangkah) lebih bijak jika Dewa Kipas mengakui dirinya curang. Menurut saya, hal tersebut sudah cukup jelas (dari algoritma Chess.com). Jadi, akan lebih baik Dadang Subur dan anaknya mengaku dan jujur,” katanya.

Lantas, siapa sosok Wesley So yang beberapa hari belakangan ini mencuat, seperti yang diwartakan Chess.com, Jumat 26 Maret 2020. Jika diperhatikan foto-foto yang beredar di dunia maya, Wesley yang pernah menduduki peringkat nomor dua di dunia dan memiliki peringkat Elo 2822 ini mirip orang Asia. Kendati demikian, saat ini ia dikenal sebagai orang Amerika Serikat.

Dari penelusuran, Wesley baru saja menjadi juara turnamen catur Open Euro Rapid dengan fantastis mengalahkan pemain peringkat satu sekaligus juara dunia, Magnus Carlsen dalam final yang berlangsung secara virtual, Minggu 14 Februari 2021 lalu.

Gelar jawara di turnamen itu sendiri menambah koleksi trofinya, yang terus bertambah setelah meninggalkan Filipina untuk hijrah ke AS pada 2014 lalu. Sebelumnya juga diberitakan, Wesley berhasil menjuarai turnamen catur AS pada 2017 dan 2020. Ia tercatat menjuarai Bilbao Chess Masters 2015, Grand Chess Tour 2016, Sinquefield Cup, London Chess Classic, dan Tata Steel Masters (2017).

Kejeniusan Wesley dalam menjalankan bidak-bidak catur sudah terlihat sejak kecil. Pemuda yang lahir di Bacoor, Cavite, Filipina pada 9 Oktober 1997 itu telah  menjadi GM saat berusia 14 tahun.

Ia sekaligus menjadi pemain termuda yang mampu melewati elo rating 2600 pada Oktober 2008 lalu. Ini berarti secara fenomenal memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Magnus Carlsen.

Wesley mengisahkan hidup dan perjalanan caturnya dengan mengaku menempa diri di jalanan sebagai “pecatur amatiran”. Ia buka-bukaan soal pengalaman belajarnya yang setiap minggu menggunting kliping koran terkait permainan GM populer.

“Saya mempelajarinya, lalu pergi dari jalan ke jalan dengan papan catur ‘butut’, menantang siapa saja yang tahu cara bermain,” bebernya kepada Chess.com dalam sebuah wawancara.

Kendati demikian, sebagai bocah ajaib dalam dunia catur, ternyata perjalanan karier Wesley tidak mudah. Ia bahkan melukiskannya sebagai dunia yang penuh liku dan sempat membuatnya frustrasi.

“Ketika usia 16 tahun, saya harus berpisah dengan orang tua yang memilih bermigrasi ke Kanada. Ibu saya ingin saya menjadi akuntan, sementara saya ingin berhenti sekolah dan menjadi profesional. Jadi, mereka meninggalkan saya di Filipina ketika saya baru berusia 16 tahun dan bermigrasi ke Kanada,” kenangnya.

Wesley sempat terlunta-lunta dan akhirnya tinggal sebuah apartemen di Manila milik federasi catur yang parahnya sering mengalami kesulitan pasokan listrik.

“Saya mendapat dukungan biaya bulanan, dan saya akan bermain dan memenangkan turnamen di sana-sini tetapi hanya selama beberapa tahun. Saya akhirnya mendapat kesempatan untuk pindah ke AS pada 2012,” imbuhnya.

Wesley mendapat beasiswa dari Webster University di AS. Ia kemudian memilih pindah secara permanen ke Negeri Pam Sam pada 2014. Ia bergabung dengan keluarga adopsinya, aktris Lotis Key dan keluarganya yang juga berdarah Filipina.

Ia mengakui, hijrah ke AS lantaran merasa tidak mendapat dukungan memadai dari Filipina. Diakuinya pula, memang ada struktur catur dasar di Filipina namun hanya ada sedikit sistem pendukung untuk mengembangkan pemain bagus menjadi bintang global.

“Meskipun sekolah Tiongkok atau India akan mengidentifikasi anak laki-laki berbakat pada usia empat tahun, dan mulai memberi mereka semua jenis bantuan, tidak ada strategi jangka panjang untuk pembangunan (catur) di Filipina,” ungkap Wesley.

Ia mengungkapkan kebobrokan pembinaan para atlet catur di negara asalnya. Utamanya karena masalah korupsi. Sehingga, sulit bagi para atlet untuk mendapatkan bantuan finansial guna bertanding di luar negeri.

“Terutama, jika mereka tidak memiliki koneksi. Misalnya, kami akan mengirim tim ke Asian Games dan akan ada lebih banyak ofisial di pesawat ketimbang atlet. Tetapi (memang) korupsi sudah menjadi budaya di Filipina. Itu mungkin sudah mengakar, terjadi bertahun-tahun sejak masa penjajahan dan dominasi kekuatan asing di Filipina,” papar Wesley.

Ia sendiri mengaku tidak berasal dari keluarga kaya. Parahnya, juga tidak memiliki koneksi sehingga hal tersebut membuatnya sulit bicara di level percaturan dunia.

“Di negara dunia ketiga, catur adalah permainan orang miskin. Orang kaya bermain tenis, polo, dan golf sementara orang miskin bermain catur karena tidak membutuhkan apapun seperti seragam, atau lapangan,” katanya.

Sejak hijrah ke AS pada 2014 dan menjadi warga negara yang dipimpin Joe Biden itu, karier Wesley terus beranjak. Ia sudah membela AS pada Olimpiade Catur ke-42 pada 2016. Saat itu, ia ikut membawa negara barunya itu meraih medali emas.

Pada 2017, ia sempat mencapai ranking tertinggi dunia pada posisi dua. Sayangnya, performanya kemudian turun jauh pada tahun berikutnya. Namun, kini ranking masih ada di posisi 10 besar yaitu delapan dunia.

Menurut Wesley, di dunia catur pasti ada pasang surut. Sehingga, hal-hal psikis seperti kondisi fisik dan kehidupan pribadi benar-benar dapat mempengaruhi permainan seorang pecatur.

Guna menaikkan posisinya, ia mengaku banyak mengikuti turnamen catur. Ia hanya perlu menemukan permainan terbaiknya saat menghadapi papan catur karena sudah tahu rahasia kekuatannya.

“Permainan terbaik saat saya sangat senang. Saat ketika saya tidak bahagia, bisa dilihat dalam permainan saya (yang tidak maksimal). Beberapa pemain sangat termotivasi antagonisme (karena dikalahkan sebelumnya). Saya tidak seperti itu, malah kadang-kadang saya merasa tidak enak hati saat mengalahkan seseorang (yang pernah mengalahkan saya),” tutup Wesley.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Bimas Buddha Kemenag dan LPTG NTT Adakan Lokakarya Swayamvara Tripitaka Gatha

Terkait KBM Tatap Muka, Ini Poin Penting yang Perlu Dipatuhi dalam Masa Pandemi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar