Chicken Parmiggia, Steik Ayam Khas Italia-Amerika yang Menggiurkan

Chicken Parmiggia, Steik Ayam Khas Italia-Amerika yang Menggiurkan
Manajemen Waroenk Oebufu sudah meluncurkan Chicken Parmiggia bersamaan pembukaan Waroenk pada 8 Juli 2017 lalu. Peluncuran menu perpaduan dari Negeri Spageti dan Paman Sam itu mendapat animo yang cukup baik dari pelanggan. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Selain spageti dan piza yang sering ditulis “pizza”, yang sudah menjadi makanan ikonik dunia, Italia juga menghasilkan kuliner yang tidak kalah populernya seperti steik. Di antara demikian banyak steik, ada satu varian yang sudah sangat mendunia yaitu Chicken Parmiggia.

Uniknya, menu steik berbahan ayam yang lebih dikenal sebagai “chicken parmigiana” ini merupakan kolaborasi dari makanan Amerika Serikat (AS), dan berkembang secara masif di negara-negara Eropa dan Australia.

Chicken Parmiggia juga dikenal sebagai “ayam parmesan” tersebut terdiri dari dada ayam dilapisi tepung roti (gandum) dengan siraman saus tomat dan keju mozzarella, serta parmesan atau provolone. Chicken Parmiggia modern yang dikenal saat ini biasanya disajikan bersama french fries (stik kentang goreng) dan sayuran.

“Kami menyediakan menu itu karena sudah populer, tidak hanya di negara asalnya (Italia-Amerika), tetapi juga di Indonesia. Boleh dikata, menu ini dapat ditemukan dalam menu western yang disajikan restoran dan kafe hotel besar nasional,” terang Marketing Communication and Public Relation Waroenk Oebufu, Merlin Sinlae saat ditemui di Waroenk Oebufu, Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Senin 22 Maret 2021.

Ia menambahkan, pihaknya sudah meluncurkan Chicken Parmiggia bersamaan pembukaan Waroenk pada 8 Juli 2017 lalu. Peluncuran menu perpaduan dari Negeri Spageti dan Paman Sam itu mendapat animo yang cukup baik dari pelanggan.

“Ini terbukti dari banyaknya order (pesanan) Chicken Parmiggia dalam daftar permintaan pelanggan selama ini. Secara umum, steik berbahan ayam di Waroenk Oebufu disukai konsumen karena bertekstur lembut dan tidak alot. Apalagi, penyajian menu-menu Italia khususnya dan Eropa umumnya yang dilakukan manajemen boleh dibilang, kamilah pertama di Kota Kupang,” kata Merlin.

Lantaran mendapat apresiasi yang bagus dari penikmat kuliner di Kota Sasando, imbuhnya, manajemen pun meluncurkan menu-menu steik berbahan ayam lainnya seperti Double Decker yang dibanderol Rp 56 ribu, bahkan steik berbahan ikan dory Fish and Fries Rp 56 ribu.

 “Harga Chicken Parmiggia sendiri hanya Rp 41 ribu. Sangat terjangkau untuk versi steik. Manajemen ingin semua kalangan dapat menikmati menu Eropa (western) ini, sehingga membanderolnya dengan low price,” kata Merlin.

Merlin menuturkan, di AS dan Kanada, Chicken Parmiggia sering disajikan sebagai hidangan utama. Sering, dihidangkan pada sisi atau di atas pasta.

Menurutnya, tidak kurang beberapa restoran di sana awalnya mengkreasikan menu ini secara inovatif, dengan memadukannya dengan burger. Hal itu dilakukan pengusaha kuliner asal Italia yang berimigrasi ke AS pada 1906.

 “Para imigran Italia mulai memanfaatkan pasar daging AS yang terjangkau, memasukkan ‘ayam’ ke burger yang biasanya diisi beef (daging). Masifnya perkembangan menu ini turut mendongkrak pasar kuliner di sana, terlebih ketika resep untuk Chicken Parmiggia diterbitkan di koran The New York Times pada 1962,” papar Merlin.

Sementara itu, hidangan ini secara teratur disajikan sebagai makanan utama di seluruh Australia. Menu tersebut bahkan dianggap sebagai makanan “wajib” dalam setiap keberadaan restoran maupun kafe.

“Di Australia, Chicken Parmiggia umumnya disajikan dengan keripik (biasanya stik kentang goreng) dan salad, meskipun ada beberapa kontradiksi terkait tata letak bahan tambahan tersebut, apakah harus disajikan di bawah atau di samping ayam,” ulas Merlin.

Ia menambahkan, tidak membutuhkan waktu lama, popularitas menu yang tergolong modern di zamannya itu berkontribusi atas banyaknya restoran khusus Chicken Parmiggia, khususnya di Kota Melbourne.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Per Kamis 8 April, Korban Bencana NTT 163 Meninggal dan 45 Hilang

Peduli Bencana NTT, Yayasan Buddha Tzu Chi Mulai Kirim Bantuan

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar