Lingkaran Setan Hoaks, Paradoks yang Perparah Pandemi Covid-19

Lingkaran Setan Hoaks, Paradoks yang Perparah Pandemi Covid-19
Hoaks atau dalam bahasa Inggris ditulis hoax, saat ini terutama dalam masa pandemi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19), masif berseliweran khususnya di dunia maya. Maraknya penyebaran berita hablur terkait pandemi dan virus corona, sama sekali tidak berdasar dan sangat menyesatkan. (Kominfo)

Terkini.id, Kupang – Hoaks atau dalam bahasa Inggris ditulis hoax, saat ini terutama dalam masa pandemi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19), masif berseliweran khususnya di dunia maya. Maraknya penyebaran berita hablur terkait pandemi dan virus corona, sama sekali tidak berdasar dan sangat menyesatkan.

“Kondisi (pandemi) ini diperparah karena masih ada oknum tidak bertanggung jawab yang dengan sengaja membuat dan menyebarkan hoaks,” demikian diungkapkan Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan di Jakarta, Selasa 26 Januari 2021.

Pada kesempatan kegiatan webinar bertajuk “Tolak dan Waspada Hoaks” pada hari yang sama dengan para jurnalis di Tanah Air, ia menyampaikan sejak pandemi Covid-19 menjamah Indonesia pada awal Maret 2020 lalu, ada sekitar 1.387 jenis hoaks yang teridentifikasi pihaknya.

Dalam dialog produktif rutin yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) tersebut, Semuel juga membeberkan beberapa catatan penting terkait hoaks tersebut.

“Apabila bersifat kesalahan informasi yang tidak sampai mengganggu ketertiban umum, Kominfo memberikan stempel hoaks dan kembali menyebarkan informasi mengenai kekeliruan itu pada masyarakat,” paparnya.

Selain itu, Semuel juga mengatakan langkah lain yang diambil adalah dengan cara men-take down atau menghapus dari media sosial (medsos) sebagai sumber penyebarannya itu. Kendati demikian, jika sudah mengganggu ketertiban umum, pihaknya akan melapor ke polisi untuk ditindaklanjuti. Hingga saat ini, sudah ada 134 kasus yang ditangani kepolisian terkait hoaks Covid-19 ini.

Ia menambahkan, salah satu hoaks yang sempat mengemuka beberapa waktu lalu adalah terkait meninggalnya seorang tentara usai divaksinasi. Semuel menjelaskan, Kepala Staf Kodim 0817/Gresik Mayor Infantri Sugeng Riyadi adalah korbannya. Pasalnya, ia diberitakan meninggal dunia setelah mendapat vaksin Covid-19 pada Jumat 15 Januari 2021.

“Saya ditunjukkan melalui pesan WhatsApp (WA), saya dikabarkan meninggal dunia. Saya pertama kali mendengar berita ini justru dari komandan saya Dandim 0817/Gresik Letkol Taufik Ismail, kemudian saya diajak foto selfie untuk menangkal berita tidak benar itu,” kata Mayor Sugeng.

Menurut Semuel, menyoal hoaks yang ditujukan terhadap Mayor Sugeng adalah modus baru yang mencampurkan fakta bahwa ada tentara meninggal dan dikaitkan dengan pasca vaksinasi.

Adapun Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho mengatakan, akhir-akhir ini isu dominan adalah hoaks terkait vaksin Covid-19.

“Kami mencatat ada 83 hoaks terkait vaksin Covid-19, dan viralitasnya cukup tinggi karena 42 persen terkait isu keamanan dan kemanjuran, termasuk hoaks kematian Mayor Sugeng,” bebernya.

Menurut Septiaji, penyebaran hoaks itu memiliki beragam motif, termasuk motif ekonomi serta juga niat batil di baliknya.

“Kami menganalisis, ada beberapa kelompok masyarakat yang terpengaruh hoaks vaksinasi ini. Ada kelompok masyarakat yang sebenarnya bukan keluarga antivaksin, anak-anaknya divaksin BCG dan Difteri, tetapi mereka lebih percaya teori konspirasi sehingga menganggap Covid-19 ini flu biasa sehingga tidak perlu divaksin,” paparnya.

Sementara itu, masih menurut Septiaji, kelompok lainnya adalah kelompok yang mau divaksin dan sadar soal pentingnya vaksinasi Covid-19, akan tetapi mereka memiliki bias. Misalnya bias isu “anticina” atau “antibarat”.

Agar tidak mudah termakan hoaks Covid-19, Septiaji mengimbau masyarakat untuk menyerap informasi dari sumber yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan.

“Apalagi, informasi yang sangat penting yang akan menjadi penentu untuk membuat keputusan dalam hidup kita. Maka, kita perlu mengenal dokter atau pakar yang bisa dipercaya dan jauhi orang-orang yang tidak dapat dipercaya. Tentu, risikonya sangat tinggi apabila kita termakan hoaks terkait ini,” pesannya.

Untuk itu, Septiaji kembali mengingatkan masyarakat supaya dalam masa pandemi ini untuk memilah informasi terbaik dan terpercaya.

“Jadi, informasi yang kita perlu dalam momen kritis (pandemi) ini berasal dari informasi terbaik yang bisa kita cari. Jadi kalau dapat informasi yang berasal dari medsos atau dari grup WA, jangan langsung percaya. Mari kita lakukan 3S, yaitu saring terlebih dulu informasi tersebut, kalau baik kita sharing (bagikan), namun apabila buruk kita sorong atau kita tolak berita tersebut,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, berita bohong yang dalam perkembangannya lebih populer disebut hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, namun dibuat seolah-olah benar dan faktual. Sejatinya, hal tersebut tidak sama dengan rumor, ilmu semu, maupun April Mop yang menjadi momentum per April setiap tahun yang dilakukan generasi muda.

Sejatinya pula, tujuan dari berita bohong adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. Dalam kebingungan itulah, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah.

Menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoaks mengandung makna berita bohong dan berita tidak bersumber. Hoaks merupakan rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “digoreng” sebagai kebenaran. Sehingga, hoaks bukan sekadar misleading atau menyesatkan, namun masuk dalam informasi fake news yang juga tidak memiliki landasan faktual tetap disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta.

Kendati baru mengambil peran utama dalam panggung diskusi publik Indonesia pada dekade terakhir ini, hoaks sebetulnya memiliki akar sejarah yang panjang. Paradoks tersebut memang diklaim memperparah suatu kondisi atau keadaan yang dianggap genting. Demikian pula kerja-kerja hoaks yang saat ini membebani psikis masyarakat dalam masa kedaruratan kesehatan nasional, bahkan dunia.

Kemunculan internet diklaim semakin memperparah sirkulasi hoaks di dunia. Pasalnya, keberadaannya sangat mudah menyebar melalui medsos. Apalagi, biasanya konten hoaks memiliki isu yang tengah ramai di masyarakat dan menghebohkan, yang membuatnya sangat mudah memancing orang membagikan dan menyebarkannya.

Menteri Komunikasi dan Informatika pernah mengungkapkan, hoaks dan media sosial seperti vicious circle atau lingkaran setan. Hal itu juga diperparah andil dan kemunculan media “abal-abal” yang sama sekali tidak menerapkan standar jurnalisme.

Peran media profesional yang seharusnya membawa kecerahan dalam sebuah persoalan yang simpang siur di masyarakat, semakin lama semakin tergerus. Sehingga, berangkat dari hal itu langkah pencegahan mulai gencar dilakukan.

Ini termasuk yang dilakukan dua platform jejaring pertemanan ternama dunia, Facebook dan Twitter. Guna menepis dan mereduksi hoaks, kedua platform ini membuat tim khusus untuk meminimalisir keberadaan hoaks.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Lebih Cepat, Jamaah An-Nadzir Gowa Mulai Puasa Minggu 11 April

Per Kamis 8 April, Korban Bencana NTT 163 Meninggal dan 45 Hilang

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar