Satgas Covid-19: Sinergi Vaksinasi-3M Guna Reduksi Pandemi

Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi dan Upaya Reduksi Disinformasi Terkait Covid-19
Ilustrasi vaksinasi. Guna mencegah terjadinya disinformasi atau informasi yang simpang-siur dan keliru terkait vaksinasi, pemerintah sedang mengkaji dan mempersiapan penunjukan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bio Farma dan Telkom untuk melakukan sistem informasi satu data vaksinasi Covid-19. (penntoday.upenn.edu)

Terkini.id, Kupang – Satgas Covid-19 mengungkapkan, vaksin bukan obat yang mematikan Covid-19. Sehingga, mereka yang sudah divaksin bukan berarti akan kebal dari virus. Pasalnya, vaksin hanya merangsang tumbuhnya antibodi dalam tubuh sehingga fatalitas bagi yang terinfeksi dapat diminimalisir.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas Covid-19 Hery Trianto dalam diskusi webinar bertajuk “Vaksinasi Covid-19: Perubahan Perilaku dan Diseminasi Informasi”, Jumat 8 Januari 2021.

Ia memaparkan, vaksinasi bukan solusi tunggal dalam mereduksi pandemi virus corona sehingga dibutuhkan sinergi terkait antara vaksinasi dan implementasi protokol kesehatan (prokes) 3M. Ia mengatakan, mereka yang sudah menjalani vaksinasi bukan berarti juga tidak dapat menulari orang lain. Menurutnya, mereka tetap berpotensi untuk menulari apabila terinfeksi Covid-19.

“Vaksin hanya salah satu solusi untuk menanggulangi Covid-19. Masyarakat diimbau untuk tetap mamatuhi dan menjalankan prokes 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak aman,” imbuh Hery.

Oleh karena itu, ia mengatakan program vaksinasi yang akan dijalankan tidak boleh mengabaikan kewajiban penerapan prokes 3M.

Hery menambahkan, di tengah program vaksinasi yang terus dipersiapkan pemerintah, masyarakat harus berupaya menurunkan kurva penularan. Masalahnya, masyarakat saat ini sedang berlomba antara kecepatan terjadinya penularan di tengah masyarakat dengan program vaksinasi untuk memunculkan antibodi.

“Upaya mendisiplinkan masyarakat tetap diperlukan untuk menurunkan kurva penularan. Akan sangat berbahaya apabila penyebaran Covid-19 berlangsung cepat seperti sekarang. Jangan sampai masyarakat terlanjur terinfeksi sebelum vaksinasi karena akan membuat program ini menjadi mubazir,” bebernya.

Ia mengatakan, saat penularan berlangsung dengan cepat yang paling dikhawatirkan adalah kepanikan. Hery mencontohkan seperti di awal penetapan darurat kesehatan pada Maret 2020.

“Bukan hanya masyarakat panik untuk mendapatkan perawatan dan mencari fasilitas kesehatan (faskes), tetapi tim dokter pun kewalahan menangani pasien,” ungkapnya.

Oleh karena itu, sejak November 2020 pemerintah telah melakukan penelusuran atau tracing 1,5 kali lipat lebih banyak dari sebelumnya. Dengan demikian, diharapkan jumlah testing pun akan semakin bertambah. Kalau awalnya 20 orang yang ditelusur, saat ini sekitar 30 orang sehingga testingnya juga bertambah.

Hery menegaskan, kampanye perubahan perilaku dalam program Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku (FJPP) merupakan sebuah keharusan. Menurutnya, kampanye yang sudah berlangsung selama tiga bulan tersebut, yang dimulai pada Oktober hingga Desember 2020 itu, harus dilanjutkan pada tahun ini.

“Sehingga, diharapkan masyarakat bisa bersama-sama berjuang menurunkan kurva penularan Covid-19. Jadi, strateginya paralel antara kampanye perubahan perilaku, kampanye 3T (testing, tracing, dan treatment), serta program vaksinasi. Ini akan saling menopang dan mendukung keberhasilan yang lain,” imbuhnya.

Kegiatan melalui aplikasi Zoom yang diselenggarakan BBC Media Action dan Dewan Pers tersebut juga fokus pada tema “Persepsi tentang Vaksinasi Covid-19 untuk Masyarakat”. Selain Hery, narasumber juga diisi Dirjen IKP Kemenkominfo Widodo Muktiyo, Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh, Anggota Dewan Pers dari unsur pemimpin perusahaan pers Ahmad Jauhar, Pendiri Platform Lapor Covid-19 Irma Handayana, dokter dari NHS London Ardito Widjono, dan Project Manager BBC News Helena Rea selaku moderator kegiatan.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Lebih Cepat, Jamaah An-Nadzir Gowa Mulai Puasa Minggu 11 April

Per Kamis 8 April, Korban Bencana NTT 163 Meninggal dan 45 Hilang

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar