Jubir Pemerintah: Vaksinasi Juga sebagai Upaya Perlindungan untuk Nakes

Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi dan Upaya Reduksi Disinformasi Terkait Covid-19
Ilustrasi vaksinasi. Guna mencegah terjadinya disinformasi atau informasi yang simpang-siur dan keliru terkait vaksinasi, pemerintah sedang mengkaji dan mempersiapan penunjukan dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bio Farma dan Telkom untuk melakukan sistem informasi satu data vaksinasi Covid-19. (penntoday.upenn.edu)

Terkini.id, Kupang – Sebagai upaya perlindungan bagi tenaga kesehatan (nakes), pemerintah menutup tahun 2020 dengan mendatangkan tiga juta vaksin Covid-19. Hal tersebut beralasan mengingat sudah ada sekitar 500 nakes yang gugur selama 10 bulan masa pandemi virus corona di Indonesia.

Dalam keterangan pers terkait perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin 4 Januari 2021 yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Juru Bicara (Jubir) Pemerintah dr Reisa Brotoasmoro mengungkapkan, pelaksanaan vaksinasi Covid-19 secara nasional diprioritaskan bagi 1,3 juta nakes dan 17,4 juta petugas pelayan publik.

Pasalnya, berdasarkan maklumat Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengatakan perlindungan kepada nakes adalah tindakan urgensial dan wajib dilakukan para pemangku kepentingan seluruh negara di dunia.

“Hilangnya nakes ini dinilai sangat berbahaya lantaran dapat mengakibatkan sistem kesehatan dalam negeri terancam kolaps. Padahal, untuk melahirkan seorang nakes butuh empat hingga tujuh tahun. Sementara, (di lain pihak) ada 100 ribu pasien Covid-19 sedang menunggu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,” beber Reisa.

Untuk itu, ia berharap para nakes wajib memelihara kesehatannya termasuk melindungi keselamatan teman sejawatnya.

“Salah satunya, melindungi diri sendiri dengan mendapatkan vaksinasi adalah kesadaran profesional. Ini juga melindungi teman sejawat, pasien, bahkan keluarga yang merupakan kewajiban moral,” imbuh Reisa.

Terkait keamanan vaksin, ia meyakinkan para “guru-guru” nakes yang berpengalaman puluhan tahun telah mendampingi proses pengkajian vaksin.

“Tentunya, apabila vaksin sudah masuk uji klinis fase tiga artinya sudah lulus uji klinis fase satu dan dua. Yang saat ini sedang kita tunggu adalah efikasi. Efikasi adalah persentase penurunan kejadian penyakit pada kelompok orang yang divaksinasi,” jelas Reisa.

Menurutnya, saat ini vaksin Coronavac yang sudah tiba di Indonesia itu berbasis inactivated virus atau virus yang tidak aktif. Metode ini sudah dikenal selama ratusan tahun, tepatnya sejak adanya vaksin rabies dan terbukti manjur melindungi diri serta mengeradikasi penyakit menular.

“Bukti lainnya adalah vaksin polio dibuat dengan metode ini. Ini menyelamatkan jutaan anak dari risiko lumpuh dan kehilangan masa depan,” beber Reisa.

Ia menambahkan, bahkan pada Agustus tahun lalu tersiar kabar baik dari dunia kesehata lantarah polio bisa dienyahkan dari Afrika.

“Kita, bangsa Indonesia berjasa besar dalam hal ini karena vaksin dengan platform inactivated virus ini adalah buatan PT Bio Farma. Terkait hal itu pula, WHO sudah menetapkan Indonesia bebas polio sejak 2014,” ungkap Reisa.

Untuk itu, ia mengimbau para nakes tidak perlu ragu ketika akan mengikuti vaksinasi. Selain itu, berbagai bentuk perlindungan lain terhadap nakes mulai dari memastikan tersedianya alat pelindung diri (APD), meningkatkan kemampuan teknis dan tersedianya informasi terkini penanganan Covid-19, jauh hari telah dilakukan pemerintah, termasuk insentif dan apresiasi kerja bagi para nakes.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Ini Strategi Pemerintah Siapkan Faskes Khusus Penyintas Corona

Satgas Covid-19: Bed Occupancy Rate RS Penyintas Corona Mengkhawatirkan

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar