Industri Media dan UMKM Alami Tekanan Berat di Masa Pandemi Covid-19

Terkini.id, Kupang – Semangat optimistis dari masyarakat dianggap penting dalam menghadapi pandemi Covid-19. Untuk itu, kreativitas dan inovasi harus terus dilakukan semua pelaku dari berbagai sektor, baik yang bergerak dalam bidang ekonomi, budaya dan seni, serta masih banyak sektor lainnya.

Hal tersebut dianggap penting guna mengakhiri virus akut yang diklaim mewabah pertama kali di Wuhan, Hubei, Tiongkok.

Dalam webinar Diskusi Publik bertajuk “Tetap Kreatif dan Produktif di Kala Pandemi, Bagaimana Kita Mensiasati Keadaan?” yang diselenggarakan BBC Media Action, Jumat 4 Desember 2020, Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia Maria Benyamin mengatakan, optimistis tetap harus dibangun agar semua sektor dapat berjalan normal kembali.

Baca Juga: Tak Henti Berseru Prokes Harga Mati, Pemkot Kupang Akui 70...

“Optimisme harus kita bangun, karena kita tidak mengetahui sampai kapan pandemi Covid-19 ini berlangsung. Tetapi, saya percaya di tengah kondisi sulit selalu ada jalan. Selalu ada cahaya di ujung lorong,” imbuhnya.

Menurutnya, masyarakat di Tanah Air harus sudah bersiap serta memperkuat kreativitas dan inovasi. Sehingga, ketika pandemi Covid-19 selesai dan ekonomi pulih maka bisa berlari kencang.

Baca Juga: Greysia Polii Sudah Divaksin, Bukti Atensinya Terhadap Upaya Eradikasi Covid-19

“Semakin cepat pandemi Covid-19 diatasi, maka semakin cepat juga ekonomi pulih,” kata Maria.

Ia menjelaskan, ada tiga peran utama yang dilakukan pers di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini. Pertama, pers dapat memberikan informasi yang tepat agar masyarakat tidak panik dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Kedua, pers melakukan edukasi protokol kesehatan agar masyarakat bisa beradaptasi dengan situasi saat ini,” pesan Maria.

Baca Juga: Lepas PPKM Level 4 Diperpanjang Setelah 2 Agustus, Kepatuhan Prokes...

Sementara yang ketiga, imbuhnya, pers harus mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah guna menghadapi pandemi agar kebijakan tersebut dapat terwujud.

Kendati demikian, Maria mengakui jika pers tidak mudah melakukan tiga peran tersebut. Pasalnya, pandemi juga membuat industri media berada dalam tekanan berat. Hal tersebut juga membuat pers harus survival dan mencari cara untuk bertahan hidup.

Ia menerangkan, selama masa pandemi Covid-19, pihaknya menyajikan pemberitaan yang fokus terhadap tiga sektor, yaitu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), seni, dan pariwisata.

“Sebab, ketiganya termasuk sektor yang paling terdampak Covid-19. Bisnis Indonesia berusaha menyajikan konten pemberitaan yang bertujuan untuk mendorong agar ketiga sektor tersebut bisa bertahan,” ungkap Maria.

Untuk itu, sebutnya, Bisnis Indonesia juga mendorong percepatan transformasi digital. Ini untuk mendukung agar UMKM bisa mengadopsi teknologi atau aplikasi digital yang bisa membantu pemasaran produk UMKM agar lebih menggeliat.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur MarkPlus Inc Jacky Mussry menambahkan, UMKM harus dapat mengimplementasikan kebijakan yang telah dibuat pemerintah. Selain itu, pelaku UMKM juga diminta memanfaatkan teknologi digital guna mendukung usahanya.

“Pemerintah hanya bisa mengontrol UMKM pada tahap policy. Namun, keberhasilan UMKM juga tergantung pada pelaku usaha itu sendiri,” bebernya.

Adapun seniman Sudjiwo Tejo yang juga menjadi narasumber mewakili pekerja seni dan budaya, mengatakan tugas pers adalah mendorong agar uang dapat beredar secara masif dalam masyarakat.

“Sehingga ekonomi bisa berputar. Saya juga berharap pemerintah dapat membeli hasil karya seniman daripada memberikan bantuan seperti bantuan langsung tunai (BLT). Soalnya, seniman tidak semata butuh BLT tetapi juga ekspresi,” katanya.

Sudjiwo menambahkan, dengan adanya pandemi Covid-19 ini telah mendorong pelaku seni di Indonesia untuk memanfaatkan teknologi digital agar tetap dapat berkarya.

“Contohnya, pelaku seni saat ini membuat konser-konser atau acara secara virtual. Kita mengundang para seniman untuk membuat acara virtual, seperti yang berjalan saat ini adalah festival jazz,” imbuhnya.

Senada Sudjiwo, narasumber yang dikenal sebagai sutradara sohor Indonesia, Garin Nugroho mengatakan penguasaan pada sistem jaringan, teknologi, dan penjaminan pada penguasaan pasar menjadi tantangan yang harus dihadapi dunia virtual di Tanah Air. Untuk itu, masyarakat harus membangun kultur teknologi virtual.

Webinar melalui aplikasi Zoom yang dimoderatori Ferdinandus dari Kominfo dan dipandu Agus Sudibyo dari Dewan Pers, juga diikuti wartawan dari berbagai media cetak yang masuk dalam program Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku (FJPP).

Bagikan