Peran Jurnalis dalam Suarakan Kisah Perempuan di Era Pandemi

Terkini.id, Kupang – Pemimpin Redaksi Femina Petty Fatimah dalam webinar Diskusi BBC Action bekerja sama Dewan Pers dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Jakarta, Jumat, 27 November 2020, mengungkapkan media massa, khususnya Femina Media mengusung terobosan baru untuk para perempuan di era pandemi Covid-19 ini.

Melalui diskusi virtual via aplikasi Zoom dengan tema “Pandemi Covid-19 dan Perlindungan terhadap Perempuan, Bagaimana Peran Pers?” yang dibuka Agus Sudibyo dari Dewan Pers dan dimoderatori Helena Rea dari BBC Action, Petty mengangkat materi bertajuk “Pers Solutif: Penguatan Perempuan di Masa Pandemi sebagai Case Study Femina Media”.

Kegiatan juga diisi pemateri dari Sekretaris Kementerian PPPA Pribudiarta Nur Sitepu, Founder Yayasan Suara Hati Perempuan Nova Eliza yang juga dikenal sebagi aktris, dan Dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial di Universitas Padjadjaran Binahayati Rusyidi.

Baca Juga: Vaksinasi Lansia Dikebut Jelang Nataru, Upaya Tekan Lonjakan Corona Pasca...

Menurut Petty, ada sejumlah hal yang dirasakan perempuan di era pandemi ini. Pertama, perempuan khawatir perkembangan Covid-19, kedua pemerintah melakukan apa, ketiga butuh ilmu mendidik anak di rumah, dan keempat tagar work from home (#WFH) yang efektif. Terakhir, mengatasi konflik di rumah.

“Hal tadi sesuai survei the new normal Prana Group pada Juni 2020 dengan N: 1.063. Hal yang dirasakan perempuan itu dari 33 persen teens (remaja perempuan) dan 67 persen young adult,” bebernya.

Baca Juga: Kabar Baik, Tak Ada Lagi Wilayah Zona Merah Kasus Corona...

Sebelumnya, pada April 2020, Prana Group juga melakukan survei dampak Covid-19 pada dunia usaha dengan N: 350. Jawabannya, mereka ingin belajar dari beberapa sumber. Sebanyak 71 persen WhatsApp (WA) group, 50 persen live stream, 63 persen webinar, 15 persen newsletter, dan 12 persen podcast.

“Femina sendiri mengubah konten di masa pandemi ini. Dasar pemikirannya adalah Femina sebagai sumber informasi, inspirasi, dan solusi. Femina membuat multikanal,” imbuh Petty terkait program Femina Media yang mengusung terobosan baru dalam masa pandemi.

Ia mengatakan, dengan mengusung Femina sebagai sumber informasi, inspirasi dan solusi, maka perempuan bisa belajar apa saja, share apa saja dan curhat berfaedah. Kemudian, lahirlah Femina dengan multikanal tadi.

Baca Juga: Gubernur NTT: Organisasi Profesi-Parpol Harus Terlibat Percepatan Vaksinasi

“Multi kanal Femina, 70 persen medsos live dan webinar atau kelas online. Sebanyak 20 persen website dan 10 persen lain-lain, dan di-print (majalah),” jelasnya, menunjukkan produk dan karya dari Femina Media.

Hasil dari multikanal itu, Femina menggelar 50 live class, dengan 10 ribu peserta registrasi dengan data base usaha. Dari jumlah itu ada delapan ribu peserta aktif dengan one million reach. Ada sekitar 100 speaker dan 100 video dan infographic. Konten tersebut diakses peserta teraktif dari Jakarta, Jabar, Banten, Jatim, Jateng, DIY, Sumut, Sulsel, Bali, dan Kaltim.

“Dengan data itu, pemerintah perlu mendukung kemauan belajar hebat ini. Dengan jaringan dan paket data murah,” jelas Petty.

Senada, Helena menambahkan, berdasarkan pemaparan Petty, transisi informasi bukan sekadar menghibur, gosip-gosip dan brand.

“Ternyata, bukan hanya itu yang audiens atau yang perempuan butuhkan. Persepsi perempuan menyukai informasi yang bisa menghibur, maka itu bisa diterapkan bagi teman-teman media,” beber Helena.

Sementara itu, Nova Eliza juga berkisah terkait dirinya. Sejak 2012 sudah divorce, mengasuh anak, sekaligus menjadi “ayah” dan sahabat untuk anak. Ia sepakat, selama pandemi selalu ada penambahan pekerjaan untuk perempuan.

“Ini yang saya alami, kita berada di perahu yang sama dengan cara kayuh yang beda. Kesulitan saat kita kena pandemi, dengan cara kita masing-masing bisa keluar dari pandemi,” pesannya.

Nova Eliza juga berkisah tentang kegiatan Yayasan Suara Hati. Selain kegiatan pemberdayaan perempuan, juga mendengarkan suara dari para perempuan di berbagi daerah. Ia sempat mengikuti program bedah rumah. Menurutnya, di sana ia punya keleluasan berbicara langsung dengan para perempuan yang kondisinya memprihatinkan.

Ia mencontohkan, kisah Ibu Seman. Ibu itu berjualan berjualan satu genjer per ikat Rp 1.000. Sehari menjual 10 hingga 15 ikat. Sehingga, hanya  mendapat Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per hari. Kemudian, di masa pandemi, Ibu Seman tidak bisa berjualan genjer.

“Ia kemudian bikin tempat nasi dari bambu. Per seribu batang Rp 10 ribu rupiah. Suaminya pekerja, yang saya dengar langsung pendapatan yang didapat, tidak lebih Rp 15 ribu per hari,” beber Nova Eliza.

Pengalaman lain dari perempuan yang ia dampingi itu, juga diceritakannya. Rupanya, anaknya tidak memiliki handphone. Sehingga, untuk mengikuti proses belajar mengajar harus ke tetangga untuk meminjam handphone.

“Ada lagi kisah Ibu Nihar, usia 50 tahun punya lima anak. Ibu Nizar ini perajin bakul nasi, sebuah dihargai Rp 10 ribu. Ia hanya mampu mengerjakan satu bakul per hari,” kata Nova Eliza.

Menurutnya, kisah yang ia ceritakan ini hanya sebagian kecil dari perjuangan perempuan di era pandemi. 

Bagikan