Pakar Gizi Anjurkan Konsumsi Vitamin C Selama Pandemi, Ini Alasannya

Pakar Gizi Anjurkan Konsumsi Vitamin C Selama Pandemi, Ini Alasannya
Vitamin C dikenal sebagai salah satu zat gizi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Kandungan zat-zat esensial tersebut lazim terkandung dalam bahan makanan seperti buah dan sayur segar. / (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Selama ini, vitamin C dikenal sebagai salah satu zat gizi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Kandungan zat-zat esensial tersebut lazim terkandung dalam bahan makanan seperti buah dan sayur segar.

Sebelumnya, dalam masa pandemi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19), anjuran untuk mengonsumsi vitamin C semakin masif disuarakan pakar gizi dan nutrisi di seluruh dunia. Dalilnya, vitamin ini bisa menjaga daya tahan tubuh atau imunitas selama pandemi Covid-19. Bahkan, jauh sebelum virus akut yang menyerang sistem pernapasan itu menjamah dunia.

Sejatinya, vitamin C atau asam askorbat sudah sejak lama diklaim sebagai salah satu vitamin yang sangat bermanfaat. Untuk itulah, urgensi penggunaan vitamin yang identik dengan warna “orange” ini dimasifkan.

Menurut pakar gizi medik dari Perhimpunan Nutrisi Indonesia Prof Dr dr Saptawati Bardosono belum lama ini di Jakarta, mengatakan khasiat vitamin C telah dikenal sejak 1920-an.

Dijelaskan, saat itu seorang ilmuwan Hungaria bernama Albert Szent-Gyorgyi dari Universitas Szeged memakai vitamin C guna mencegah dan mengobati pendarahan gusi dan pendarahan di bawah kulit. Pasalnya, kedua penyakit tersebut banyak diderita orang-orang yang jarang mengonsumsi buah dan sayur segar.

Menarik untuk Anda:

“Jika tidak diobati, penderitanya bisa mengalami gangguan penyembuhan luka, anemia, dan gangguan pertumbuhan tulang. Sejak saat itu, kegunaan dan manfaat vitamin C terus ditelaah dan diteliti para ilmuwan seiring kemajuan ilmu kedokteran dan bertambahnya masalah kesehatan manusia,” papar Saptawati.

Ia mencontohkan, munculnya penyakit infeksi bersamaan adanya penyakit kronis tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Sekitar 1930, ditemukan efek lain dari vitamin C, yaitu efek antibakteri terhadap kuman penyebab tuberkulosis (TBC) dan bisa menghambat replikasi berbagai jenis virus, parasit, dan jamur,” imbuhnya.

Saptawati mengatakan, penelitian juga menemukan vitamin C bertindak sebagai antioksidan saat terjadi peradangan kronis dan stres oksidatif yang mengakibatkan terjadinya kondisi kronis seperti gangguan lambung (gastritis), gangguan pencernaan, diabetes tipe 2, obesitas, peradangan paru, penyakit saraf menahun, serta penyakit jantung dan pembuluh darah.

“Efek sebagai antioksidan itu, berhubungan erat dengan sistem imun tubuh yang diatur sel darah putih. Vitamin C dibutuhkan untuk proses replikasi sel darah putih,” jelasnya.

Saptawati menambahkan, walaupun dalam tubuh tersedia antioksidan endogen, namun dalam kondisi tertentu jumlahnya tidak cukup sehingga memerlukan vitamin C dan mineral lain sebagai antioksidan eksogen.

Wanita yang juga menjadi anggota Perhimpunan Nutrisi Indonesia tersebut mengimbau pentingnya asupan vitamin C setiap hari bagi tubuh manusia. Pasalnya, jika tidak tubuh akan mengalami hipovitaminosis C dalam darah atau status “darurat” kekurangan vitamin C.

“Kondisi hipovitaminosis C ini bisa menyebabkan berbagai gejala klinis terkait fungsi vitamin C sebagai antiskorbut, antimikroba, antiperadangan, atau antioksidan seperti  terjadinya penyakit kronis, penuaan, dan imunitas tubuh,” pesan Saptawati.

Dosis yang dianjurkan, imbuhnya, adalah dengan cara memenuhinya berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan untuk masyarakat Indonesia.

“Adapun kecukupan asupan vitamin C ditentukan berdasarkan usia dan jenis kelamin. Untuk laki-laki berusia 16 sampai lebih dari 80 tahun membutuhkan 90 miligram (mg) per hari. Sementara itu, perempuan dalam rentang usia yang sama membutuhkan 75 mg vitamin C per hari,” urai Saptawati.

Menurutnya, anjuran vitamin C bisa dikonsumsi sebesar 200 mg atau lebih setiap hari untuk mempertahankan kadar normalnya dalam darah. Namun, untuk seseorang yang aktif berolahraga atau melakukan kegiatan fisik berat, perlu menambah asupan vitamin C sekitar 500 hingga 1.000 mg per hari agar tidak mengalami gangguan pernapasan setelah berolahraga.

“Vitamin C dengan dosis lebih tinggi juga dibutuhkan untuk perokok yang sering mengonsumsi makanan tidak segar dan minuman berakohol. Agar dapat terhindar dari penyakit jantung, dianjurkan untuk mengonsumsi vitamin C dengan kadar 320 mg hingga 1.100 mg per hari,” beber Saptawati.

Ia menjelaskan, asupan vitamin C dapat diperoleh dari mengonsumsi buah dan sayur segar. Idealnya, seseorang wajib mengonsumsi buah dan sayur sebanyak tiga porsi per hari guna mencukupi kebutuhannya.

“Beberapa jenis sayur dan buah dengan kandungan vitamin C cukup tinggi di antaranya buah jeruk mengandung 70 mg vitamin C per buah, jambu biji mengandung 125 mg vitamin C per buah, pepaya sekitar 90 mg per satu mangkuk saji atau 150 gram berat buah, dan stroberi memiliki 90 mg vitamin C per satu mangkuk saji atau 150 gram berat buah,” kata Saptawati.

Dari sayuran, disarankan untuk mengonsumsi brokoli lantaran mengandung sekitar 80 mg vitamin C, kembang kol memiliki 50 mg vitamin C, dan bayam mengandung 8,5 mg vitamin C per 30 gram.

“Bila dirasa kurang, dapat memperolehnya dari makanan dan minuman yang telah mengalami proses penambahan mikronutrien dengan melihat di label kemasannya dan juga dari suplemen vitamin C,” saran Saptawati.

Pada intinya, vitamin C merupakan zat gizi esensial sehingga pemenuhan kecukupannya harus diperoleh dari asupan makanan sehari-hari. Oleh karena itu, konsumsi vitamin C secara terus-menerus justru dianjurkan.

“Apalagi, di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) saat ini. Banyak orang sudah mulai bekerja dan beraktivitas di luar rumah (yang berisiko terpapar Covid-19), sehingga tubuh memerlukan imunitas tubuh yang kuat agar dapat terhindar dari berbagai jenis penyakit. Semua manfaat itu dapat diperoleh dari vitamin C,” tutup Saptawati.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Kabar Baik, Per 17 Januari Pasien Sembuh Covid-19 Capai 9.102

Jangan Takut Efek Samping Vaksin Covid-19, Ini Alasan Kemenkes

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar