Vaksinasi Covid-19, Optimistis dan Harapan Baru di Tengah Pandemi

Vaksinasi Covid-19, Optimistis dan Harapan Baru di Tengah Pandemi
Ilustrasi vaksin. Infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia siap lakukan vaksinasi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19). (Forbes)

Terkini.id, Kupang – Infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia siap lakukan vaksinasi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19). Kabar baik dari pemerintah yang menjadi harapan dan semangat pantang menyerah guna mengatasi virus yang diklaim pertama menular dari Wuhan, Hubei, Tiongkok di pengujung 2019 lalu itu, menjadi satu-satunya tujuan utama bangsa dan negara saat ini di tengah deraan pandemi.

Optimistis yang selalu disuarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) memang menjadi angin segar yang bakal mengubah keterpurukan lantaran pandemi, baik kesehatan, ekonomi, dan sosial-kemasyarakatan.

Pada Jumat 20 November 2020, KPCPEN lewat kegiatan dialog Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru bertajuk “Jalan Panjang Vaksin sampai ke Tubuh Kita” yang dilakukan secara virtual melansir, target produksi vaksin Covid-19 di Bio Farma mencapai 250 juta dosis.

Pengalaman Bio Farma dalam memproduksi puluhan ribu vaksin sudah dilakukan sejak 130 tahun lalu. Vaksin produksi Bio Farma juga telah digunakan negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Survei nasional yang dilakukan Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) didukung Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), menunjukkan sebanyak 64,8 persen dari 115 ribu responden di 34 provinsi, bersedia menerima vaksin Covid-19.

Juru Bicara Satgas Covid-19 dr Reisa Broto Asmoro mengungkapkan, untuk mempersiapkan vaksinasi Covid-19 di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melatih tujuh ribu dari 23 ribu tenaga kesehatan (nakes) sebagai vaksinator. Alhasil, manajemen vaksin dan rantai dingin (cold chain) pun dengan cermat dipersiapkan.

Menarik untuk Anda:

Dalam kesempatan yang sama, Vaksinolog dr Dirga Sakti Rambe turut menyampaikan, Indonesia telah memiliki infrastruktur yang memadai untuk proses distribusi vaksin hingga ke pelosok, termasuk vaksin Covid-19 yang tengah dinanti-nantikan masyarakat di Tanah Air.

Seperti diketahui, vaksin adalah produk biologis yang perlu disimpan dengan cara khusus lantaran sensitif terhadap suhu. Mayoritas vaksin disimpan pada suhu dua hingga delapan derajat celcius, kecuali vaksin polio yang minus 20 derajat celcius. Sejak vaksin diproduksi sampai digunakan di rumah sakit dan puskesmas, transportasinya mesti terjamin suhunya.

Satgas Covid-19 menyakinkan, pihaknya sudah berpengalaman dan sudah siap mendistribusikan vaksin sehingga realisasi vaksinasi secara nasional dapat terealisasi dengan baik. Alasannya, Indonesia memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam memproduksi, mendistribusi, hingga mengimplementasikan vaksin.

Sistem rantai dingin yang menjadi salah satu unsur penentu kualitas vaksin juga sudah terbangun dengan baik. Sebanyak 97 persen sistem rantai dingin tersebut diklaim berjalan dengan baik sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. Pasalnya, mulai dari pabrik hingga penerima di puskesmas, bahkan dengan distance terjauh seperti Aceh atau Papua semua sudah siap.

Hal itu pun setali tiga uang dengan SDM, yang bakal memberikan vaksinasi nantinya kepada masyarakat. Seperti alasan sebelumnya, Indonesia juga diklaim telah memiliki 23 ribu vaksinator yang terlatih. Bahkan, vaksinator sudah dibekali pelatihan khusus dari Kemenkes, dan telah siap dengan tujuh ribu  vaksinator yang sudah terlatih khusus.

Satgas Covid-19 juga menjelaskan, saat ini di Indonesia memiliki sekitar 440 ribu dokter umum, dokter spesialis, perawat, dan bidan yang semuanya siap bergotong royong menyukseskan persiapan vaksinasi tersebut. Sehingga, secara prinsipil semua komponen yang terlibat vaksinasi bisa dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat.

Kendati demikian, masyarakat perlu sedikit bersabar hingga hasil uji klinik fase tiga  selesai dan izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) keluar terlebih dulu, baru vaksin Covid-19 bisa beredar di Indonesia.

Dari data itu nanti ketahuan, seberapa besar efektivitas vaksin Covid-19. Setelah itulah produsen mengajukan izin edar ke BPOM. Sehingga, bila vaksin sudah mendapat izin edar dari BPOM berarti itu sudah dipastikan keamanan dan efektivitasnya. Jikapun ada klaim efektivitas suatu vaksin, itu tidak menjadi soal lantaran dapat diterima dan ditampung sebagai infomasi. Intinya, efektivitas sesungguhnya diterima setelah proses uji klinik fase tiga selesai dilaporkan.

Untuk itu, masyarakat tetap harus melakukan segala upaya guna mencegah tertular Covid-19, kendati nantinya vaksin sudah beredar luas. Upaya memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak (3M) harus  terus digaungkan. Sejatinya, vaksin itu untuk melengkapi pertahanan tubuh karena perlindungannya spesifik. Semua itu diupayakan agar pandemi bisa dikendalikan.

Vaksin dan Informasi Hablur

Salah satu uji klinik vaksin, Sinovac telah masuk fase tiga dan selesai melakukan penyuntikan kepada seluruh sukarelawan yang dikerjakan di center Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad).

Sejak pengembangan protokol uji klinik dan inspeksi pelaksanaan uji klinik, pendampingan senantiasa dilakukan BPOM. Sementara, untuk memastikan mutu vaksin Covid-19 dilakukan inspeksi kesiapan fasilitas produksi, baik di Tiongkok maupun di Bio Farma.

Uji klinik merupakan tahapan penting guna mendapatkan data efektivitas dan keamanan yang valid guna mendukung proses registrasi vaksin Covid-19. Sejauh ini, tidak ditemukan adanya reaksi yang berlebihan atau Serious Adverse Event yang ditemukan selama menjalankan uji klinik fase tiga di Unpad.

Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Prof Hindra Irawan Satiri, dalam Dialog Produktif bertajuk “Keamanan Vaksin dan Menjawab KIPI”, yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) secara virtual di Jakarta, Kamis 19 November 2020, mengungkapan perkembangan vaksin Covid-19 sudah masuk uji fase tiga.

Untuk itu, pihaknya tinggal menunggu laporan dari Brasil, Tiongkok, Turki, dan Indonesia. Setelah laporan selesai, barulah izin edarnya keluar. Ia juga menjelaskan, untuk mendeteksi dan mengkaji apakah ada kaitannya imunisasi dengan KIPI, ada “ilmunya” yang disebut Farmakovigilans.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan keamanan, meyakinkan masyarakat sehingga memberikan pelayanan yang aman bagi pasien dan memberikan informasi terpercaya. Pasalnya, semua fase uji klinik vaksin memiliki syarat yang harus dilakukan.

Semua syarat harus terpenuhi baru boleh melanjutkan ke fase berikutnya. Kendati demikian, dalam keadaan khusus seperti pandemi Covid-19, proses dipercepat tanpa menghilangkan syarat-syarat yang diperlukan. Semua proses tersebut juga didukung pembiayaan dan sumber daya yang dibutuhkan, sehingga proses-proses yang lebih panjang dalam penemuan vaksin dapat dipersingkat.

Terkait terminologi antivaksin yang saat ini masih beredar dalam masyarakat, Satgas Covid-19 mengungkapkan masih samar dan masih miskonsepsi. Artinya, pengertian masyarakat belum mantap lantaran mendapat keterangan dari orang-orang yang kurang kompeten atau bukan bidangnya. Untuk itu, masyarakat perlu mendapatkan informasi dari sumber-sumber terpercaya seperti organisasi profesi dan kesehatan terpercaya. Bukannya dari situs yang tidak jelas, dari grup WhatsApp (WA) itu yang membingungkan masyarakat.

Begitu pula terkait beragam mitos yang beredar dalam masyarakat, yang secara hablur mengatakan vaksin mengandung zat berbahaya. Satgas Covid-19 sendiri menampiknya tidak benar, karena tentu saja kandungan vaksin sudah diuji sejak praklinik.

Sebenarnya, vaksin tidak berbahaya namun perlu diingat vaksin itu produk biologis. Oleh sebab itu, vaksin bisa menyebabkan nyeri, kemerahan, dan pembengkakan yang merupakan reaksi alamiah dari vaksin. Jadi masyarakat diimbau berhati-hati mengenai mitos-mitos terkait KIPI tersebut. Sehingga, apabila ditemukan KIPI, masyarakat bisa melaporkan ke Komnas KIPI melalui situs keamananvaksin.kemkes.go.id.

Sekadar diketahui, Komnas KIPI sendiri merupakan lembaga yang terbentuk sejak 2007, beranggotakan para ahli independen dengan kompetensi dan keilmuan terkait vaksinologi. Bahkan, untuk menjangkau wilayah Indonesia yang luas, telah terbentuk Komite Daerah KIPI di 34 provinsi. Satgas Covid-19 meyakinkan, keamanan vaksin itu dipantau sejak awal. Bahkan, setelah vaksin diregistrasi tetap dipantau dan dikaji keamanannya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Kabar Baik, Per 17 Januari Pasien Sembuh Covid-19 Capai 9.102

Jangan Takut Efek Samping Vaksin Covid-19, Ini Alasan Kemenkes

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar