Ini Sejarah Kue Putu Ayu yang Populer di Asia Tenggara

Terkini.id, Kupang – Membahas kuliner memang seperti tidak ada habisnya. Pasalnya, makanan sebagai kebutuhan urgensial manusia ini selalu menarik dibicarakan.

Lantaran pentingnya, kuliner bahkan menjadi salah satu komoditas utama suatu negara yang mendatangkan devisa.

Hal itu dapat dilihat dari masifnya penjualan aneka kuliner, bahkan pusat penjualan makanan di setiap negara yang menonjolkan sektor pariwisatanya. Artinya, selalu ada pusat wisata kuliner yang menyertai industri pariwisata di setiap negara.

Baca Juga: Sarat Nilai Filosofi, Kue Tradisional Ini Diklaim Sudah Berusia 500...

Indonesia sebagai negara majemuk, baik suku, tradisi, dan budayanya yang kaya dan beragam, juga menghasilkan warisan kuliner yang tidak kalah agungnya.

Di kompartemen kudapan Nusantara, masyarakat yang bermukim di Negeri Khatulistiwa tentu tahu penganan atau kue bernama Putu Ayu.

Baca Juga: Ini Kue Indonesia yang Diklaim Salah Satu Penganan Terenak di...

Putu Ayu diklaim merupakan kue khas asli Indonesia dari Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Tengah. Sesuai namanya, Ayu yang dalam bahasa Jawa berarti “cantik”, memang dari sisi visual kue ini terlihat sangat cantik dan menarik.

Tidak hanya tampilannya yang cantik, Putu Ayu yang juga kerap disebut kue Putri Ayu ini juga sangat enak dan lembut ketika disantap. Cita rasanya yang manis dan legit berkontribusi mengangkat kepopuleran penganan yang digemari bukan hanya orang Indonesia, tetapi juga masyarakat di Asia Tenggara.

Tipikal jajanan tradisional ini adalah warnanya yang berundak dua. Hijau di bawah dan putih di atasnya terdiri dari parutan kelapa muda. Hal ini membuat tampilan Putu Ayu menjadi sangat menarik dan terlihat menggiurkan untuk dinikmati.

Baca Juga: Arem-arem versus Lontong, Serupa Tetapi Tak Sama

“Putu Ayu termasuk dalam kategori kue basah. Dulu, umumnya dijual pedagang kue basah di pasar tradisional. Namun, seiring perkembangan dunia kuliner Nusantara yang naik pamor maka Putu Ayu juga merambah toko kue dan bakery, bahkan mal-mal di kota besar,” terang Manager Royal Bakery Anita Anny, Jalan Bundaran PU, Tuak Daun Merah, Kupang, Senin 15 Juni 2020.

Di Royal Bakery, sebutnya, ada dua jenis Putu Ayu yang dijual pihaknya yaitu Putu Ayu (original) Rp 2.500 dan Putu Ayu Ubi Ungu Rp 3.500.

Secara prinsipal, sebut Anita, Putu Ayu adalah bagian dari kue “putu” yang berakar dari kuliner Tiongkok dan berkembang di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.

“Sejarah ‘putu’ yang berkembang menjadi banyak varian saat ini, awalnya diklaim berasal Tiongkok, dan sudah ada sejak 1200 tahun silam pada zaman Dinasti Ming. Ini dapat dibuktikan dari artefak menyoal kue putu yang masih tersimpan di China National Silk Museum di 73-1 Yuhuangshan Rd, Xihu, Hangzhou, Zhejiang, Tiongkok,” paparnya.

Bukti lain terkait akar muasal kue putu dapat dilihat dari penggunaan bambu sebagai wadah silinder pembuatan penganan beraroma gurih ini.

“Kue putu dari bambu hingga saat ini masih digunakan sebagai wadah atau alat kukus pedagang keliling Putu Ayu di Indonesia. Ini persis seperti bambu-bambu kukus yang dipamerkan di China National Silk Museum,” beber Anita.

Ia mengatakan, saat ini sejumlah penjual Putu Ayu keliling mengganti bambu dengan pipa PVC dengan alasan kepraktisan, meskipun dari segi kesehatan penggunaan pipa PVC berbahaya bagi kesehatan. Sementara, pelaku kuliner kelas elite seperti toko kue dan bakery, sudah menggunakan alat-alat cetak pengukusan berstandisasi, terutama terkait higienitas kudapan yang dibuat.

Menurutnya, berdasarkan dari literatur budaya kuliner dunia yang pernah dibacanya, dulunya putu secara general di Negeri Panda disebut Xianroe Xiao Long, harfiahnya berarti “kue dari tepung beras yang diisi kacang hijau lembut, yang dimasak dalam cetakan bambu”.

“Sementara, asal mula kata ‘putu’ tidak lepas dari suatu naskah sastra lawas, Serat Centhini yang ditulis pada 1814 di masa Kerajaan Mataram. Dalam manuskrip itu termaktub atau muncul nama ‘puthu’. Selanjutnya, sesuai ejaan yang disederhanakan, kata puthu menjadi ‘putu’,” imbuh Anita.

Ia menjelaskan, dalam naskah lawas itu disebutkan Ki Bayi Panurta meminta santrinya menyediakan hidangan pagi. Hidangan pagi tersebut berupa sajian makanan pendamping serupa serabi dan sejenis “puthu”.

“Begitu pula di naskah lainnya, puthu identik kudapan yang disajikan pada pagi hari. Isian puthu ikut berubah dari kacang hijau menjadi gula Jawa atau gula aren yang tentunya pada saat itu lebih mudah diperoleh,” kata Anita.

Ia menambahkan, serupa dalam naskah lawas terkait penganan putu, saat proses mengukus terdengan suara nyaring mirip “tangisan”.

“Sehingga, dalam perkembangannya di luar Pulau Jawa yang didiami diaspora Jawa, terutama di Sulawesi Selatan, kue tradisional ini disebut “Putu Nangis” alih-alih nama aslinya,” imbuh Anita.

Dalam perkembangannya pula, Putu Ayu di Sulawesi Selatan tidak hanya menggunakan tepung beras atau tepung terigu lantaran juga menggunakan beras ketan hitam.

“Putu versi Bugis, khususnya di Makassar dan Kabupaten Bone memakai beras ketan hitam tanpa gula. Putu dimakan dengan taburan parutan kelapa dan sambal. Putu Bugis biasanya hanya dijual pagi hari sebagai pengganti sarapan yang praktis,” ujar Anita.

Ia mengungkapkan, sejatinya Putu Ayu berbeda ketimbang kue putu yang biasa dijual keliling dengan ciri khas bunyi nyaring.

“Meskipun namanya hampir mirip, namun bahan dasar pembuatannya berbeda. Kalau kue putu yang lazim dijual pedagang keliling itu biasanya menggunakan bahan dasar tepung beras, sementara Putu Ayu menggunakan bahan dasar tepung terigu. Kemiripan kedua kue tersebut adalah sama-sama menggunakan parutan kelapa muda sebagai topping atau hiasannya,” ungkap Anita.

Dijelaskan, serupa penganan tradisional lainnya, Putu Ayu termasuk kue yang sederhana dan tidak ribet pembuatannya. Artinya, jajanan pasar ini memiliki bahan-bahan yang mudah seperti tepung terigu, gula pasir, santan, telur ayam, kelapa muda, dan pewarna makanan. Demikian pula proses memasaknya yang hanya perlu dikukus.

“Seperti diketahui, di negara-negara Asia Tenggara, Putu Ayu juga digemari. Meskipun nama dan bentuk penganan ini sedikit berbeda, tetapi rasanya tetap sama dengan kue putu tradisional Indonesia,” tutup Anita.

Bagikan