Bos Sanrio Pencipta Hello Kitty Mundur, Wariskan Jabatan ke Cucunya

Terkini.id, Tokyo – Siapa yang tidak kenal Hello Kitty, karakter lucu dan menggemaskan ini sudah menghipnotis masyarakat dunia melalui beragam fashion, mulai boneka, tas, topi, busana, dan masih banyak produk komersial lainnya.

Di balik sosok lucu dengan ciri khas “kucing” manis, ada tokoh Shintaro Tsuji. Ia adalah pencipta sekaligus chief executive officer (CEO) Hello Kitty yang sudah seharusnya pensiun sejak lama lantaran saat ini usianya sudah menginjak “sepuh” 92 tahun.

Sehingga, tidaklah mengherankan jika Shintaro mengumumkan pengunduran dirinya pada 5 Juni 2020 lalu, dan mewariskan jabatannya kepada cucu laki-lakinya, Tomokuni yang berusia 31 tahun. Seperti diketahui, Tomokuni sebelumnya telah menjabat direktur pelaksana senior di Sanrio.

Baca Juga: Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Publik di Jepang mengklaim jika peralihan kepemimpinan dalam Sanrio tersebut adalah pertama dalam enam dekade sejarah sejak perusahaan itu berdiri. Selain itu, Tomokuni adalah CEO termuda dari perusahaan yang terdaftar di indeks Topix Tokya.

Tomokuni sendiri memiliki hari lahir yang sama bersamaan peluncuran Hello Kitty, yaitu 1 November yang dianggap juga hari lahir Hello Kitty. Kendati demikian, cucu sedarah dari trah Sanrio itu lebih muda 14 tahun ketimbang karakter fiksi yang digemari anak-anak dunia tersebut.

Baca Juga: Bukan Ambulans, Honda Sulap 50 Minivan Guna Angkut Pasien Corona...

Sementara itu, ayah Tomokuni, putra Shintaro telah meninggal dunia pada 2013 lantaran gagal jantung. Sehingga, otomatis tongkat estafet kepemimpinan Sanrio dipegang Tomokuni.

Merunut sejarah perusahaan itu, Shintaro Tsuji mendirikan perusahaannya pertama kali bernama Yamanashi Silk Center Co Ltd pada 1960 di Tokyo. Selanjutnya, pada 1973 berganti nama menjadi Sanrio dan menciptakan karakter pertamanya setahun kemudian, yaitu Hello Kitty serta duo Jimmy dan Patty.

Benda dengan karakter Hello Kitty pertama adalah dompet koin yang menjadi suvenir pada 1975. Boomingnya produk perdana itu mengangkat karakter Hello Kitty dan menjadi pujaan banyak orang. Selanjutnya, produk terkait dijual Sanrio mulai kancing baju hingga tas tangan.

Baca Juga: Imbas Corona, Penjualan Mobil di Jepang Mulai Rontok

Dalam perkembangannya, Hello Kitty memiliki taman rekreasi sendiri yang sangat populer. Pihak Sanrio pernah mengejutkan penggemar Hello Kitty pada 2014 dengan mengatakan karakter itu bukan diilhami dari seekor kucing, melainkan gadis kecil yang sedang berbahagia.

Para penggemar dibuat heboh, internet dibanjiri protes terkati Hello Kitty yang memiliki kumis layaknya hewan kucing.

Perubahan itu dianggap strategi bisnis saat Sanrio mengalami fase. Dengan masifnya industri permainan digital, Sanrio melalui Hello Kitty-nya sulit bersaing, sehingga bisnisnya menurun selama bertahun-tahun.

Penurunan laba perusahaan juga terjadi secara drastis di tengah pandemi virus corona. Menurut hasil yang juga dipublikasikan pada Jumat 5 Juni 2020 lalu, laba bersih tahunan Sanrio anjlok sebanyak 95 persen pada tahun fiskal 2019/2020. Penjualan turun sebanyak 6,5 persen menjadi 55,2 miliar yen atau 514 juta dolar AS.

Sekadar diketahui, Hello Kitty adalah nama untuk sebuah karakter yang didesain perusahaan Jepang, Sanrio. Hello Kitty yang memiliki nama lengkap Kitty White adalah personifikasi dari kucing berwarna putih dengan ciri khas pita atau hiasan lainnya di daun telinga sebelah kiri dan mulut yang tidak digambar.

Hello Kitty pertama kali diperkenalkan di Jepang pada tahun 1974. Hak cipta Hello Kitty didaftarkan pada 1976, saat ini merupakan merek dagang global dunia. Pada waktu pertama kali diperkenalkan, target utama pemasaran Hello Kitty adalah anak perempuan, namun kini penggemar Hello Kitty terdiri dari wanita maupun pria dari berbagai kalangan usia.

Di Jepang, penggemar berat dan kolektor Hello Kitty disebut Kitty-ra. Pada 2004, barang-barang Hello Kitty menembus pasar lebih dari 60 negara di seluruh dunia. Karakter Hello Kitty sudah merupakan subkultur yang mewakili budaya Jepang.

Bagikan