20 Persen Kredit Produktif BPR Berpotensi Terdampak Corona

Terkini.id, Kupang – Pandemi novel corona virus disease 2019 (Covid-19) berdampak destrutif terhadap berbagai sektor. Pertumbuhan ekonomi melambat bahkan stagnan menghantui multiperusahaan, termasuk perbankan.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Joko Suyanto memprediksi sekitar 20 persen kredit yang disalurkan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bakal terimbas atau terdampak pandemi virus corona.

“Dari nilai penyaluran kredit hingga Maret 2020 yang sebanyak Rp 111,44 triliun, sekitar 60 persen tersalur ke segmen produktif. Hingga akhir tahun nanti, sekiranya ada 20 persen yang berpotensi direstrukturisasi,” terang Joko Suryanto dalam paparan virtualnya kepada wartawan di Tanah Air, Kamis 11 Juni 2020.

Baca Juga: Vaksin Diklaim Dapat Tekan Potensi Lahirnya Varian Baru Covid-19, Ini...

Dengan penyaluran Rp 111,44 triliun pertumbuhan kredit BPR/BPRS, imbuhnya, sejatinya masih cukup baik sebesar 9,990 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Kendati demikian, sayangnya pertumbuhan yang baik tidak seiring kualitasnya.

Pasalnya, menurut Joko Suyanto, sepanjang 2020 nonperforming loan (NPL) terus merangkak dan berada pada level 7,95 persen per Maret 2020.

Baca Juga: Pakai Masker Harga Mati! Ini Alasan Pemda Luar Jawa-Bali Harus...

Ia menguraikan, kredit macet, tingkat kesehatan bank, dan likuiditas disebut-sebut memang akan jadi tantangan terbesar bagi BPR/BPRS selama pandemi Covid-19. Meski demikian, Joko Suyanto masih optimistis pertumbuhan kredit BPR/BPRS masih dapat tumbuh positif, setidaknya hingga akhir 2020.

“Ada sejumlah sektor yang masih berpotensi, misalnya agrikultur, kesehatan, teknologi, dan ritel. Perhitungan kami, dengan skenario sangat berat, kredit BPR/BPRS masih bisa tumbuh tiga persen hingga lima persen,” katanya.

Bagikan