Bebek Peking, Menu Legendaris yang Sudah Populer Sejak Dinasti Yuan

Bebek Peking, Menu Legendaris yang Sudah Populer Sejak Dinasti Yuan
Bebek Peking pada awalnya merupakan kuliner yang serupa kalkun panggang khas Amerika Serikat (AS). Pada masa Dinasti Yuan, sekitar 1271-1368, pengembara Marco Polo membawa kebiasaan memanggang daging unggas dan mengenalkannya kepada masyarakat Tiongkok. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Salah satu jenis makanan yang tidak kalah favorit dari ayam adalah bebek. Bebek, entah dengan olahan dipanggang, digoreng, atau dibakar sama lezatnya ketika sudah tersaji di atas piring pelanggan

Di Indonesia, bebek bahkan menjadi menu ikonik. Hal itu dapat dilihat di beberapa daerah, seperti di Surabaya dengan menu Nasi Bebek-nya yang masif dikonsumsi masyarakat setempat.

Mengapa bebek selalu menjadi “jawara” di hati penikmatnya, tidak lain karena bebek memiliki cita rasa yang berbeda dan khas dibandingkan olahan ayam. Belum lagi aroma kulit bebek yang bersentuhan dengan minyak yang panas, benar-benar melelehkan liur penikmat kuliner.

Salah satu menu andalan yang hadir di Waroenk Seafood yang merupakan jaringan resto lokal dari Waroenk Group adalah Bebek Peking.

Hal tersebut diungkapkan Marcomm and PR Waroenk Seafood Noncy Ndeo saat ditemui di Jalan Veteran, Fatululi, Kupang, Selasa 9 Juni 2020.

Menurutnya, Bebek Peking yang juga dikenal sebagai “roasted duck” ini memang bisa membuat nafsu makan pelanggan meningkat. Pasalnya, lanjut Noncy, Bebek Peking yang biasanya diracik secara dipanggang, memiliki aroma wangi dengan bagian luar yang berwarna kecokelatan.

“Selain itu, cita rasa yang renyah pada bagian kulitnya menambah kelezatannya. Apalagi, tekstur bagian dalam dagingnya juga lembut. Yang pasti, Bebek Peking kami benar-benar empuk dan tidak alot,” urainya.

Tidak hanya soal tekstur kelembutan dagingnya yang berkontribusi mengangkat kelezatan menu tersebut, tetapi ia tidak menafikan kehadiran bumbu-bumbu pendukung Bebek Peking.

“Beberapa bumbu impor, sehingga berbeda dibandingkan bebek-bebek panggang reguler yang disajikan resto pada umumnya,” ungkapnya.

Di Waroenk Seafood, sebut Noncy, Bebek Peking ini dinamai Bebek Panggang Waroenk. Dijual pihaknya Rp 397 ribu per ekor, sementara untuk porsi setengah dan seperempat ekor masing-masing dihargai Rp 199 ribu dan Rp 100 ribu.

“Sangat terjangkau untuk makanan elite seperti Bebek Peking ini. Jadi, kami berharap semua kalangan dapat menikmati sajian khas oriental yang dulunya hanya dapat dinikmati para bangsawan Tiongkok ini,” imbuhnya.

Sekadar diketahui, Bebek Peking pada awalnya merupakan kuliner yang serupa kalkun panggang khas Amerika Serikat (AS). Pada masa Dinasti Yuan, sekitar 1271-1368, pengembara Marco Polo membawa kebiasaan memanggang daging unggas dan mengenalkannya kepada masyarakat Tiongkok.

Dinasti Yuan atau Kerajaan Mongol yang dipimpin Kaisar Kubilai Khan memerintahkan untuk mendatangkan aneka bumbu makanan dari pelosok dunia, seperti dari Eropa, Arab, serta India. Pada saat itulah tercipta kuliner yang bernama bebek panggang.

Ketika Kaisar Kubilai Khan memindahkan Ibu Kota negaranya ke Beijing, kuliner bebek panggang ini pun turut terangkat dan populer. Hal tersebut berlanjut hingga masa Dinasti Ming sekitar 1522.

Bebek panggang yang digunakan tadinya merupakan bebek yang berasal dari Kota Nanjing, tetapi lama-lama populasi bebek di Nanjing berkurang karena terkontaminasi polusi udara yang sangat tinggi.

Untuk mengakali hal itu, para peternak bebek akhirnya menemukan jenis bebek lain yang memiliki tekstur serupa bebek Nanjing. Bebek inilah yang kemudian dinamakan Bebek Peking.

Bebek Peking diracik dengan menggunakan dua teknik memanggang, yaitu dipanggang menggunakan oven konvensional dengan teknik yang berasal dari restoran Bianyifang di Chongwemen pada 1816.

Sementara itu, untuk teknik kedua adalah teknik Quanjude yang dikembangkan di dapur istana kekaisaran Dinasti Qing. Sebelum dimasak, bebek dilapisi sirup manis dan bumbu rempah lalu digantung hingga kering sekitar 24 jam.

Hal tersebut dimaksudkan untuk memisahkan kulit bebek dari dagingnya. Inilah yang membuat kulit Bebek Peking panggang terasa renyah dan berkilau saat disajikan.

Bebek Peking juga marak ditemui di Taiwan, mulanya dibawa pemerintahan nasionalis Kuomintang yang kalah perang saudara di Tiongkok daratan dan melarikan diri ke Pulau Taiwan pada 1949.

Bebek Peking yang berkembang masif di Kota Taipei ini dibuat menggunakan bahan daging bebek yang diternakkan secara khusus untuk menu ini. Lazimnya, bebek-bebek itu digemukkan dengan cara diberikan makanan bergizi pada saat k kekenyangan. Para peternak biasanya memberi pangan ternak secara paksa.

Sehingga, inilah yang kemudian menjadikan Bebek Peking juga dikenal dengan nama “bebek isi”. Bebek tadi disajikan setelah dipanggang dengan kayu-kayu bakar khusus yang akan menambah wangi daging bebek yang dipanggang.

Di Indonesia, menu bebek memiliki banyak varian tergantung cara penyajian setiap daerah. Di kalangan penikmat kuliner grassroot, bahan untuk kuliner bebek baik panggang maupun goreng menggunakan bebek biasa atau itik. Biasanya, bebek yang dikonsumsi adalah versi daging bebek yang digoreng dan dihidangkan dengan lalapan atau sayuran segar.

Saat ini, bebek goreng dapat ditemui di warung-warung kaki lima hingga di restoran dan hotel mewah. Lantaran bebek goreng biasanya dimakan dengan nasi, maka penjual bebek goreng kaki lima menuliskan menu bebek goreng dengan spanduk bertuliskan “Nasi Bebek”.

Hingga saat ini, masih jarang dijumpai sajian bebek yang dimasak atau disajikan selain digoreng. Nasi bebek atau bebek goreng ini biasanya disajikan dalam keadan yang masih panas atau baru digoreng dengan lalapan daun kemangi, timun, dan sambal serta dimakan langsung dengan tangan.

Namun, yang paling khas dari bebek goreng ala grassroot adalah bumbunya yang berupa minyak berwarna kuning yang dilumurkan di atas nasi panas.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar