WHO Bilang Situasi Wabah Corona Memburuk di Seluruh Dunia

Mortalitas Corona, WHO Bilang Virus Ini Mungkin Tak Akan Punah dari Bumi
World Health Organization (WHO) atau Badan Kesehatan Dunia yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), memperingatkan kepada publik dunia terkait mortalitas virus SARS-CoV-2 dari keluarga novel coronavirus disease 2019 (Covid-19). (Ist)

Terkini.id, Jenewa – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) membeberkan, situasi terkini terkait novel coronavirus disease 2019 (Covid-19) di seluruh dunia semakin memburuk. Alasannya, WHO mencatat jumlah tertinggi infeksi Covid-19 baru setiap hari, termasuk di Amerika Serikat (AS).

AFP melansir, Selasa 9 Juni 2020, bahkan ketika masifnya demonstrasi untuk menegakkan keadilan rasial di AS dan sekitarnya, Persatuan Bangsa-Bangsa sebagai lembaga induk WHO sebelumnya telah mengingatkan untuk tetap melakukan aksi dengan aman.

Covid-19 sendiri telah menyebabkan angka kematian 403.000 penyintas, dari setidaknya tujuh juta yang terinfeksi sejak pandemi virus corona tersebut muncul di Tiongkok pada Desember 2020 lalu.

Setelah Asia Timur, Eropa sempat menjadi pusat penyakit. Akan tetapi, saat ini pusat penyebaran Covid-19 telah berpindah ke AS.

“Meskipun situasi di Eropa membaik, secara global keadaannya memburuk,” demikian diungkap Ketua WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers virtual di Jenewa, Selasa 9 Juni 2020.

Tedros menambahkan, sekitar 100 ribu kasus baru telah dilaporkan sepanjang sembilan dari 10 hari terakhir.

Menurutnya, pada Senin 8 Juni 2020, ada sekitar 136 ribu kasus baru dilaporkan. Sejauh ini, angka tersebut diklaim paling banyak dalam satu hari.

“Hampir 75 persen kasus berasal dari 10 negara, kebanyakan di AS dan Asia Selatan. Ketika situasi virus corona di negara-negara yang sudah kondusif aman, maka ancaman terbesar adalah rasa puas diri (sehingga melalaikan protokol kesehatan). Pasalnya, kebanyakan orang secara global masih rentan terhadap infeksi,” bebernya.

Sehingga, lebih enam bulan sejak merebaknya pandemi virus corona ini, belum saatnya negara di manapun dapat melepas kewaspadaan terhadap protokol kesehatan.

Gelombang protes yang dipicu pembunuhan terhadap George Floyd pada 25 Mei 2020, sebut Tedros, mendorong pengawasan aktif terhadap virus terutama dalam kontekstual pertemuan massal.

“WHO sepenuhnya mendukung kesetaraan dan gerakan global melawan rasisme. Kami menolak segala bentuk diskriminasi. Kami mendorong semua yang melakukan protes di seluruh dunia untuk melakukannya dengan aman,” imbaunya.

Tedros menegaskan, WHO terus menerus menekankan pentingnya tracing atau melacak mereka yang mungkin telah kontak erat dengan orang yang terinfeksi virus corona.

Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan menambahkan, seseorang yang telah melakukan protes massal belum tentu memenuhi definisi teknis dari kontak.

Itu kembali terhadap analisis kesehatan masyarakat setempat dan manajemen risiko lokal.

“Untuk itu, dengan adanya situasi kerumunan massal (akibat protes tersebut), pejabat kesehatan masyarakat setempat harus berinisiatif melakukan tracing. Ini atas dasar kehati-hatian, bisa menyarankan orang untuk karantina atau untuk diuji kesehatannya,” pesan Ryan.

Sebelumnya, Tedros mengatakan WHO sejauh ini telah mengirim lebih lima juta item alat pelindung diri ke 110 negara.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Vaksinasi Covid-19, Optimistis dan Harapan Baru di Tengah Pandemi

Pastikan Keamanan, Pembuatan Vaksin Diawasi Secara Ketat

Mundur Januari 2021, BPOM Pastikan Vaksin Covid-19 Tertunda

Tepis Mitos Salah, Guru Besar FKUI Ini Bilang Vaksin Aman

Festival Kesehatan, Urgensi Kampanye Hidup Sehat dalam Masa Pandemi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar