Paradoks Muasal Kecap Inggris dalam Menu Ayam Cantonese Saus Inggris

Paradoks Muasal Kecap Inggris dalam Menu Ayam Cantonese Saus Inggris
Ayam Cantonese Saus Inggris menggunakan kecap Inggris atau “Worcestershire Sauce” banyak diimplementasikan dalam Chinese Food, kendati entitas Eropa, khususnya Inggris mendominasi pelabelan saus utamanya. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Penikmat kuliner sejati, terlebih yang senang menjelajahi ranah wisata di berbagai negara, tentu tidak asing dengan menu Ayam Cantonese Saus Inggris atau Daging Lada Hitam Saus Inggris, dan masih ada ratusan jenis menu yang diolah dengan cita rasa saus Inggris.

Saus yang diklaim berasal dari Inggris bernama “Worcestershire Sauce” ini banyak diimplementasikan dalam Chinese Food, kendati entitas Eropa, khususnya Inggris mendominasi pelabelan saus utamanya.

Terkait kuliner dunia, tidak ada yang dapat memungkiri jika Chinese Food atau makanan yang berakar dari Tiongkok merupakan salah satu makanan paling populer.

Lantaran kelezatannya, menu asal Tiongkok banyak diadaptasi negara lain di Asia Timur Jauh seperti Jepang dan Korea.

Sementara itu, dalam perkembangan sejarah kuliner pula, dengan menyebarnya imigran Tiongkok di berbagai negara, restoran Chinese Food juga semakin menjamur, khususnya di wilayah pecinan atau China Town di berbagai negara.

Salah satu varian menu Chinese Food yang tidak kalah lezatnya adalah Ayam Cantonese Saus Inggris.

Menu ini dapat dikatakan wajib ada dalam paket prasmanan yang biasanya disajikan dalam setiap gelaran makan bersama sebuah keluarga Tionghoa.

“Ayam Cantonese Saus Inggris yang merupakan menu ‘turunan’ dari Ayam Goreng Cantonese yang kami sajikan di Waroenk Seafood. Menu ini sendiri sangat digemari pelanggan. Secara umum, untuk varian Chinese Food menu ini menempati rating atas dalam daftar pesanan,” terang Markomm and PR Waroenk Seafood Noncy Ndeo saat ditemui di Jalan Veteran, Fatululi, Kupang, Senin 8 Juni 2020.

Salah satu alasan Ayam Cantonese Saus Inggris yang dibanderol pihaknya Rp 81 ribu per porsi itu sangat disukai, sebutnya, tidak lepas dari sausnya yang khas.

“Daging ayam pada menu ini memiliki aroma dan cita rasa lezat karena sausnya yang sangat spesial. Sebelum dimasak, daging ayam dipotong-potong sesuai selera koki. Selanjutnya, dimasak dengan Worcestershire Sauce atau lebih dikenal orang sebagai ‘kecap Inggris’. Alasan dipotong kecil, ini agar sausnya lebih mudah meresap hingga ke seluruh bagian dalam daging ayam,” imbuh Noncy.

Ia menguraikan, Ayam Cantonese Saus Inggris dimasak menggunakan lada hitam, ditambah potongan paprika merah dan paprika hijau. Kuahnya sedikit kental dan berwarna hitam.

Dijelaskan, meskipun saus pada menu tersebut berembel-embel “Inggris”, tetapi asal makanan itu bukan dari negara monarki Britania Raya atau Inggris.

“Kalau kecapnya (saus), memang diduga dari Inggris. Tetapi, bukan makanannya sebab Ayam Cantonese Saus Inggris ini adalah menu Kanton tipikal entitas Tionghoa,” ungkap Noncy.

Ia menjelaskan, banyak klaim terkait muasal negara pertama yang menciptakan kecap sebagai bahan utama saus Inggris.

Memang masih paradoks dan hingga saat ini masih terjadi klaim mengklaim.

Adapun nama Inggris disematkan pada “kecap” tersebut, imbuh Noncy, lantaran banyak orang Inggris yang dulunya menjajah India, membawa resep kecap atau saus khas oriental ini ke Inggris.

“Kecap Inggris merupakan peninggalan hubungan Inggris dengan India pada zaman kolonial yang menjadi populer sekitar 1830-an. Sejarah kuliner ini sendiri simpang siur karena di Tiongkok kecap itu ada jauh sebelum orang Inggris mempopulerkannya ke berbagai belahan dunia, seperti pada era Restorasi Meiji di Jepang melalui India,” paparnya.

Noncy menjelaskan, di Tiongkok kecap tersebut bernama “Lajiangyou”.

Kecap ini banyak dijadikan saus terkait Chinese Food yang berakar pada Cantonese Food. Adapun nama “Cantonese” diambil dari salah satu provinsi ternama Tiongkok, Guandong yang dulu disebut Kanton.

Seperti diketahui sebelumnya, Kanton sudah sangat terkenal sebagai pencipta bumbu masakan yang khas dan lezat.

“Di restoran dimsum di Hongkong, kecap Inggris disebut ‘gip jup’ dalam bahasa Kanton. Secara harfiah, penyedap untuk makanan,” kata Noncy.

Sekadar diketahui, penamaan kecap untuk menu Ayam Cantonese bernama saus Inggris bermula saat Lord Marcus Sandys mengklaim pertama kali menemukan saus Inggris ini.

Mantan Gubernur Jenderal Inggris di Benggala India ini sangat senang dengan sejenis saus sewaktu berada di India pada 1830.

Sayangnya, ia tidak sempat membawa saus ala India itu hingga mengakhiri masa tugasnya di sana.

Sepulang di Inggris, Lord Marcus Sandys memerintahkan seorang ahli kimia yang juga seorang apoteker untuk membuat saus seperti yang bisa ia santap saat masih di India.

Sehingga, terciptalah sebuah ramuan saus yang cita rasanya menyamai saus India itu.

Ini kontroversial sebab versi kedua dirilis sejarah perusahaan saus ternama “Lea and Perrin’s” yang ditulis mantan pegawainya, sosok Lord Marcus Sandys tidak pernah menjadi Gubernur Benggala, dan tidak pernah pergi ke India. Perusahaan ini mengungkapkan, tidak ada riwayat terkait perjalanan itu dalam manuskrip manapun.

Dalam bantahannya pula, Lea dan Perrins memberikan keterangan bangsawan yang disebut sebagai “Lord Marcus Sandys” sejatinya adalah Arthur Moyes William Sandys, Baron Sandys II (1792-1860). Seorang politisi berpangkat Lieutenant-General dari Worcestershire dan seorang anggota Dewan Rakyat Britania Raya.

Sehingga, ada kemungkinan identitas Arthur Moyses William Sandys, Baron Sandys II tertukar dengan putra pewarisnya yang bernama Arthur Marcus Cecil Sandys, Baron Sandys III (1798-1863) yang baru mendapat gelar Lord pada 1860.

Gelar “baron” untuk keluarga Sandys dihidupkan kembali pada 1802. Era itu adalah masa Mary Sandys Hill yang merupakan ibu dari Baron Sandys II. Sehingga, ada kerancuan jika benar kecap Inggris diciptakan pada 1830-an, seharusnya yang disebut “Lord” Sandys sebenarnya adalah “Lady” Sandys (Mary Sandys Hill).

Jika ditelusuri, hal itu sangat tidak mungkin mengingat kultur pada masa mustahil mencantumkan label atau gambar wanita terhadap sebuah produk. Hingga ada dugaan resep kecap Inggris kemungkinan dijual ke perusahaan Lea and Perrins oleh pewaris dari Lady Sandys.

Lepas dari kontroversial tersebut, tulisan Thomas Smith dianggap sebagai versi yang lebih akurat terkait penciptaan kecap Inggris. Pasalnya, dalam buku Successful Advertising edisi ketujuh yang dicetak pada 1885, Nyonya Grey, novelis penulis buku The Gambler’s Wife dan novel lainnya, berkunjung ke Ombersley Court.

Di sana, ia berbincang dengan Lady Sandys yang mengatakan ingin mendapatkan bubuk kari kualitas baik. Nyonya Grey mengatakan memiliki resep bagus yang dihadiahkan pamannya yang bernama Sir Charles, Kepala Peradilan di India.

Lady Sandys meresponsnya dengan mencari ahli kimia yang pintar di distrik Worcestershire, yang mungkin bisa meracik bumbu dari resep Nyonya Grey. Lea dan Perrins melihat resep kari India tersebut, dan mereka ragu karena banyak bahan yang tidak tersedia di Inggris.

Akan tetapi, saat semua bahan tersedia mereka akhirnya meramu dan meraciknya juga, dengan letikan ide baru untuk mengencerkan bubuk kari menjadi saus yang enak yang saat itu belum terjamah kuliner manapun.

Setelah saus racikan dari bubuk kari selesai, saus yang dihasilkan ternyata beraroma terlalu tajam bagi lidah orang Inggris. Dalam frustasi dan kekecewaan alih-alih meluncurkan saus anyar, mereka akhirnya pasrah dan menyimpan satu barel saus kreasi baru di lantai bawah tanah gudang miliki Lea dan Perrins.

Lama dilupakan, beberapa tahun kemudian sewaktu berbenah untuk mencari ruang kosong di gudang, Lea dan Perrins penasaran dan mencicipi lagi saus yang disimpannya.

Alhasil, saus yang disimpan ternyata sudah mengalami fermentasi sehingga tidak lagi berbau tajam dan bisa dikonsumsi. Botol saus pertama yang diberi merek “Lea and Perrins Worcestershire Sauce” diluncurkan pada 1838, mendapat animo yang cukup bagus dari masyarakat Inggris.

Sejak saat itu, tepatnya pada 16 Oktober 1897, kecap Inggris ala “Lea and Perrin’s” diproduksi dan dibotolkan secara komersial di Worcestershire. Dalam perkembangannya, kecap itu dikenal sebagai “Worcestershire Sauce” dan dianggap kecap Inggris.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar