Ini Kue Indonesia yang Diklaim Salah Satu Penganan Terenak di Dunia

Kue Lapis Diklaim Salah Satu Penganan Terenak di Dunia, Ini Alasannya
Belum lama ini, jaringan kantor berita dunia CNN International yang berbasis di Amerika Serikat (AS), menobatkan Lapis Legit yang notabene turunan Kue Lapis sebagai salah satu penganan terenak di dunia. Kue unsur basah ini menempati peringkat ke-14 dari sekian banyak penganan favorit dunia lainnya. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Indonesia patut berbangga lantaran sebagai bangsa dengan kemajemukan dan pluralisme yang solider, menyimpan demikian banyak kultur, budaya, dan kekayaan lain yang mungkin tidak dimiliki negara-negara lainnya di dunia.

Khazanah itulah yang hingga saat ini mengakar dan meleluri dalam tatanan kehidupan negara di bawah naungan falsafah Pancasila ini. Dalam hal sederhana saja seperti kuliner, Indonesia adalah lumbung berbagai jenis makanan dan penganan.

Terkait penganan, ada salah satu jenis yang sudah dianggap kue “sejuta umat” yaitu Kue Lapis dan turunannya, Lapis Legit. Kue tradisional dengan corak berlapis-lapis tersebut digemari tidak hanya masyarakat di Tanah Air, tetapi juga sudah masif di konsumsi warga dunia.

“Belum lama ini, jaringan kantor berita dunia CNN International yang berbasis di Amerika Serikat (AS), menobatkan Lapis Legit yang notabene turunan Kue Lapis sebagai salah satu penganan terenak di dunia. Kue unsur basah ini menempati peringkat ke-14 dari sekian banyak penganan favorit dunia lainnya,” terang Manager Royal Bakery Anita Anny saat ditemui di Jalan Bundaran PU, Tuak Daun Merah, Kupang, Senin 8 Juni 2020.

Menurutnya, dampak positif penghargaan dunia atas kelezatan penganan tradisional dari Indonesia tersebut, memantik optimistis pelaku kuliner untuk lebih berkreasi agar kue yang dulunya dianggap “ndeso” alias kue kampung bisa “go international”.

“Tentu saja, ini kebanggaan tersendiri bagi kami yang berkecimpung dalam usaha kuliner, khususnya penganan tradisional,” beber Anita.

Ia mengungkapkan, meskipun belum mendapat penghargaan sebagai salah satu kue terenak di dunia tersebut, Kue Lapis jauh sebelumnya sudah mendapat tempat di hati penikmat kuliner, khususnya di Kota Kupang dan sekitarnya.

“Sudah digemari, bahkan di Royal Bakery kue basah ini rating penjualannya terbilang bagus, bersaing dengan penganan lainnya seperti Lalampa dan Nasi Unti yang sudah menjadi penganan ikonik pihaknya,” imbuh Anita.

Saat ditanyakan Kupang.Terkini.id apa keistimewaan Kue Lapis, ia dengan gamblang menjawab tidak lepas dari teksturnya yang lembut dan kenyal, memiliki cita rasa manis dan legit.

“Apalagi, aroma wangi santannya yang dominan turut berkontribusi terhadap kelezatan Kue Lapis ini,” ungkap Anita.

Dijelaskan, turunan Kue Lapis sangat banyak. Belum lagi kreasi kreatif yang terus berkembang sesuai versi pembuatnya.

“Di Royal Bakery sendiri, ada berbagai Kue Lapis di antaranya Kue Lapis Cokelat yang kami banderol Rp 3.500 per picis, Kue Lapis Bendera Rp 2.500, Kue Lapis Pandan Rp 2.500, dan Kue Lapis Gula Merah Rp 3.500,” papar wanita yang akrab disapa “Cik Anny” tersebut.

Ia mengatakan, Kue Lapis juga banyak dijual pelaku kuliner sekelas ibu rumah tangga lantaran kepraktisannya. Selain itu, bahan-bahannya pun sederhana, murah, dan tidak sulit ditemukan seperti tepung kanji, tepung beras, gula pasir, santan kental, panili, dan pewarna makanan.

Anita mengungkapkan sedikit “spoiler” atau bocoran mengapa Kue Lapis memiliki ciri khas berlapis-lapis dengan warna yang berlapis-lapis pula.

“Ini sekadar trik untuk menarik perhatian pelanggan, khususnya konsumen anak-anak. Makanya, seperti Kue Lapis Bendera di Royal Bakery warnanya berbeda-beda setiap lapis atau undakan, sehingga kue itu juga kerap disebut Kue Pelangi,” paparnya.

Sehingga, sebut Anita, anak-anak pada umumnya senang menyantap Kue Lapis dengan cara melepaskan setiap lapisannya. Bagi anak-anak, cara itu dianggap memiliki keasyikan tersendiri dalam menikmati Kue Lapis.

Terkait asal muasal keberadaan Kue Lapis, ia mengungkapkan sudah baur meskipun diklaim sebagai penganan tradisional yang berasal dari Negeri Khatulistiwa.

“Sudah tidak tahu berasal dari daerah mana. Yang pasti, kue ini adalah kuliner (entitas) Melayu, bahkan sangat digemari ekspatriat dari mancanegara. Di Asia Tenggara, kue ini bukan penganan asing lagi. Tetapi, jika merunut lebih jauh banyak versi sebenarnya,” kata Anita.

Meskipun diklaim berasal dari Indonesia, jelasnya, ada beberapa anggapan Kue Lapis dipopulerkan pemerintah kolonial Belanda di Nusantara. Artinya, kue ini merupakan penganan asimilatif yang dikreasikan dengan kue lainnya asal Eropa.

Sehingga, ada “turunan” Kue Lapis bernama Lapis Legit yang lebih spesifik disebut “spekuk” yang berasal dari bahasa Belanda, Spekkoek.

“Orang-orang Belanda pada zaman penjajahan dulu mengaku jika jenis kue basah Lapis Legit terinspirasi dari penganan Eropa yang populer pada saat ini. Tidak heran, jika bahan-bahan penganan versi Belanda ini dibuat dari berbagai rempah yang memang sangat disukai orang-orang Eropa kala itu,” ulas Anita.

Rempah tersebut di antaranya cengkeh, kayu manis, kapulaga, bunga pala, dan adas manis. Sehingga, rasa kue ini sangat khas dengan aroma rempah. Kue Lapis Legit yang berbahan dasar kuning telur, tepung terigu, gula, dan mentega atau margarin itu, lazimnya Kue Lapis versi Nusantara, memiliki cita rasa yang manis dengan tekstur yang lembut namun kokoh, tetapi tidak terlalu kenyal seperti Kue Lapis versi Nusantara.

Di Belanda, irisan kue ini biasanya disajikan sebagai kudapan atau hidangan pencuci mulut dalam jamuan “rijsttafel”. Rijsttafel secara harfiah dalam bahasa Belanda berarti “meja nasi”.

Itu merupakan cara penyajian makanan berurutan dengan pilihan hidangan dari berbagai daerah di Nusantara, mirip table manners yang banyak diterapkan dalam tata cara makan modern saat ini.

Cara penyajian seperti ini berkembang pada masa kolonial Hindia Belanda yang memadukan etiket dan tata cara perjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk setempat yang mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok dengan berbagai lauk-pauknya.

Cara penyajian ini sendiri populer di kalangan masyarakat “indo”, Eropa-Indonesia namun tetap digemari di Belanda dan dihidupkan lagi di Indonesia pada masa kini khususnya di restoran-restoran berkelas.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar