Ingat, WHO Tekankan Masker Kain Wajib 3 Lapis

Jangan Lupa Pakai Masker, Penularan Corona Diklaim Bisa Melambat 60 Persen
Ahli Bedah di Brigham and Women?s Hospital di Boston dan Profesor di Harvard University Amerika Serikat (AS), Dr Atul Gawande mengatakan setiap orang harus bertanggung jawab serius dengan mengenakan masker. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Jenewa – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) membuat perubahan ketentuan terkait penggunaan masker dalam masa pandemi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19).

Pedoman baru ini dinilai lebih sejalan dengan banyak negara di seluruh dunia yang telah menjalankan pembatasan sosial hingga lockdown.

“Kami ingin menjelaskan, pedoman yang diterbitkan ini adalah pembaruan dari apa yang kami anjurkan berbulan-bulan lalu. Masker hanya boleh digunnakan sebagai bagian dari strategi komprehensif dalam memerangi Covid-19,” terang Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Jumat 5 Juni 2020 lalu.

Menurutnya, hanya sekadar menggunakan masker tidak akan melindungi diri dari virus corona jika tidak menjalankan protokol physical distancing, rajin cuci tangan dengan sabun, dan lainnya.

Kalau demikian, apa panduan barunya? Pemimpin Teknis WHO Maria Van Kerkhove, merekomendasikan masyarakat yang sehat tetap memakai masker kain di tempat-tempat umum. Tetapi, tetap konsisten menjaga jarak fisik itu yang sulit dilakukan.

“Sehingga, masker kain diwajibkan setidaknya terdiri dari tiga lapis dengan material yang berbeda. Akan tetapi, untuk kelompok masyarakat yang rentan seperti di atas 60 tahun dan memiliki penyakit komorbid seperti diabetes, kolesterol, diminta menggunakan masker medis yang berfungsi sebagai proteksi. Selain itu masker medis juga bisa digunakan untuk orang-orang yang memiliki tanda-tanda positif Covid-19,” pesannya.

Maria Van Kerkhove menambahkan, masker kain nonmedis juga harus diperhatikan kemudahan untuk bernapas. Ia mengatakan banyak jenis kain yang tersedia sehingga sulit mengambil standardisasi yang pas.

Ia mengatakan, WHO mencatat kemampuan bernapas atau perbedaan tekanan di seluruh masker kain harus di bawah 49 Pa/cm2 untuk masker medis. Tetapi, untuk masker nonmedis perbedaan tekanan yang dapat diterima harus di bawah 100 Pa.

Selain itu, WHO menghitung faktor kualitas filter yang disebut “Q” yang merupakan fungsi filtrasi dan breathability, dengan nilai yang lebih tinggi menunjukkan efisiensi keseluruhan yang lebih baik. Menurut konsensus para ahli WHO, minimal untuk masker kain buatan sendiri adalah Q3.

WHO menegaskan, masker ini hanya untuk pengendalian sumber, bukan perlindungan pribadi. Artinya, mereka dapat membantu mencegah orang yang memakai masker tidak menyebarkan virus. Namun, itu bukan berarti terhindar dari virus.

Oleh karena itu, penting mengenakan masker harus selalu disertai dengan seringnya mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Bukti yang kami miliki melalui penelitian ini, dengan tiga lapisan dan dalam kombinasi itu, masker kain benar-benar dapat memberikan penghalang mekanistik. Jika seseorang terinfeksi virus corona, itu bisa mencegah tetesan atau droplet melewati masker yang digunakan. Dengan demikian pula, masker yang digunakan bisa mencegah menginfeksi orang lain,” ungkap Maria Van Kerkhove.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Vaksinasi Covid-19, Optimistis dan Harapan Baru di Tengah Pandemi

Pastikan Keamanan, Pembuatan Vaksin Diawasi Secara Ketat

Mundur Januari 2021, BPOM Pastikan Vaksin Covid-19 Tertunda

Tepis Mitos Salah, Guru Besar FKUI Ini Bilang Vaksin Aman

Festival Kesehatan, Urgensi Kampanye Hidup Sehat dalam Masa Pandemi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar