Novelet: Season of The Fireworks 2

Novelet Season of The Fireworks 2
Ilustrasi novelet Season of The Fireworks 2. (Ist)

Season of The Fireworks 2

Oleh Effendy Wongso

Elegi Pendar Bintang

Aku masih berkutat melawan penyakitku ketika kenyataan getir itu mengentakku suatu hari. Sebetulnya harapan itu sudah punah sejak vonis repertum dokter sebulan lalu. Meningoenchepalitis yang kuidap sudah melantakkan segalanya. Namun, aku masih menabur asa pada impian yang kerontang.

Dengan naifnya mengharap pemuda itu dapat menemaniku sampai menjelang ajal menjemput. Mungkin aku terlalu picik menyikapi kenyataan yang baru kuperoleh, gadis itu merupakan kekasih dari pemuda yang paling aku cintai, justru pada saat-saat terakhir hidupku.

Mungkin juga aku terlalu egois untuk dapat memiliki Gu Jun Pyo sepenuhnya, meskipun Tuhan hanya mengizinkan aku bernapas tidak berapa lama lagi.

Myeongdong masih meniupkan atmosfer yang sama. Udara yang meliuk hangat terasa berat di paru-paru. Aku dan Geum Jan Di keluar bersama. Melabuhkan langkah kaki pada poros jenjang prominade yang melintang di atas kanal. Serangkaian birama sepat largisimo yang telah mengaduk benak tepat untuk dibasuh tempias partikel air yang dibawa semilir angin basah dari kanal.

Gadis itu mematung seperti biasa. Ketegarannya menghalau tangis yang hendak pecah dari pelupuk mata. Kupandangi lamat wajahnya yang menunduk. Air kanal yang hitam keperakan ditimpa temaram lampu merkuri di depan kami mengalir tenang. Seperti alur pikiran kami yang merambat getas di dalam benak masing-masing. Terdiam tanpa sepotong kata patah pun sehingga memubazirkan puluhan menit sua langka kami.

Ia menyender di gigir pagar besi kanal, mencoba menyikapi ambangan sunyi dengan paruh senyum paksanya. Tetapi semuanya sia-sia. Untaian lara yang bersimfoni tetap memaksa menghadirkan telaga bening di sepasang pipiku. Layaknya seorang hawa, ia dapat meraba kedalaman isi hatiku meski telah kututupi dengan tirai dusta.

“Park Eun-Kyung,” tegurnya dengan suara lunak. “Kamu jangan membohongi hatimu sendiri!”

Aku mengangkat wajah setelah sedetik menghimpun napas. Disambutnya tatapan mataku yang binar dengan embusan udara yang keluar dari sepasang pelepah tipis bibirnya.

Sesaat ia memejam, entah untuk apa. Tetapi kutangkap kilau yang terpancar dari sepasang mata ekuatornya tadi. Bukti penderitaannya yang terpendam lama. Sebuah penantian yang rasanya berabad. Yang telah dipampas dari pelukannya saat pemuda itu sudah tergapai tangan.

“Aku tidak pernah mencintai, Gu Jun Pyo!”

Gadis itu terkekeh. Cukup untuk menampik alasanku tanpa harus dijelaskan dengan serentetan kalimat. Ia mendongak. Seperti kebiasaannya. Mencoba membenturkan pandangannya pada langit kelam, jauh di atas sana.

Mungkin saja ada pendar bintang yang turun dan melintas tepat di atas kepala kami. Tetapi malam ini semuanya jauh dari harapan. Awan gemawan menutup layar langit yang senantiasa berhiaskan laksaan gemintangnya yang ajaib.

Barangkali langit malah akan meniriskan rinai hujan. Mungkin Tuhan belum mengizinkan ia mendapat jawaban pasti tentang ikrar masa lalu lewat penampakan bintang jatuh, yang pernah diucapkannya bersama pemuda yang kini tengah mengalami derita trauma otak akut amnesia.

“Gu Jun Pyo mencintaimu,” tegasnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arahku. Tulus berharap. “Dia sangat mencintaimu, Park Eun-Kyung!”

“Anak bodoh,” uraiku, menderaikan tawa di ujung kalimat. “Anak itu memang bodoh, Geum Jan Di. Hei, dia pikir dengan perhatian lebih yang kuberikan selama ini….”

Geum Jan Di menyergah. Alisnya bertaut, penggambaran amarah yang meruap atas kekerasan hatiku. “Dia mengatakannya sendiri kepadaku!”

Aku mengurai simpul bibir, tersenyum dengan rona tawar. Namun, makna yang terpancar dari sumringah itu bukannya penegasan yang bijak. Dan bodohnya, aku selalu menyangka dapat mengibuli gadis itu dengan seperangkat dusta. Tetapi ternyata aku salah. Gadis itu tak bergeming. Ia cermat mengamati. Bahwa aku tengah bersandiwara.

“Dia jatuh cinta kepadaku, memang iya,” dustaku untuk kesekian kalinya. “Tetapi bukan berarti aku harus mencintainya juga. Kamu tahu kenapa aku baik kepadanya?”

Tubuh gadis mungil di sampingku menegak. “Kenapa?”

“Karena aku merasa berutang kepadanya. Aku merasa bertanggung jawab moral mengembalikan ingatannya. Ia amnesia karena aku. Kalau bukan karena aku, ia tidak mungkin melupakan kamu!”

“Itu insiden. Jangan mengurai dalih tentang kecelakaan mobil di Barcelona, Park Eun-Kyung. Lepas dari semua itu, Gu Jun Pyo memang mencintai kamu.”

“Jangan memaksaku untuk menerima cintanya, Geum Jan Di. Aku tidak suka memaksakan diri mencintai orang yang tidak kusukai.”

“Tetapi….”

“Gu Jun Pyo milikmu. Aku minta maaf….”

“Maaf kenapa?”

“Aku secara tidak langsung sudah bikin hidup kamu menderita. Kecelakaan mobil itu, sudah menyebabkan ia amnesia sehingga melupakan kekasihnya yang bernama Geum Jan Di di Seoul. Sekarang, mau tidak mau aku harus mengawal dia menemukan kembali identitas dirinya yang sesungguhnya. Ia bukan Dae-Hyun. Tetapi dia adalah Gu Jun Pyo. Gu Jun Pyo!”

Dae-Hyun adalah sebutan yang kuberikan kepada Gu Jun Pyo. Artinya, tampan dan berwibawa. Pemuda itu memang tidak tahu namanya. Ia melupakan semuanya, bahkan cintanya yang safa, Geum Jan Di.

“Tetapi….”

“Geum Jan Di, seharusnya kamu bahagia. Orang yang kamu cintai telah kembali ke Seoul. Hei, bukankah itu yang kamu inginkan kan? Sama sepertimu, aku juga bahagia karena sudah dapat mewujudkan impianku yang tertunda gara-gara kecelakaan mobil di Barcelona itu.”

“Maksudmu?”

“Kini aku terbebas dari beban-beban yang menghantuiku siang dan malam. Mau tahu kenapa? Karena sekarang Gu Jun Pyo sudah lepas dari tanggung jawabku. Ia telah menemukan orang yang tepat. Kamulah orang itu, Geum Jan Di. Kamulah orang yang dapat merawat Gu Jun Pyo sampai pulih dari amnesia. Itu berarti aku dapat berkeliling dunia tanpa dibebani oleh pesakit Gu Jun Pyo.”

“Tetapi….”

“Percayahlah, Geum Jan Di. Sedari dulu aku memang tidak pernah mencintai Gu Jun Pyo. Kalaupun selama ini aku sudah memberikan perhatian istimewa kepadanya, hal itu tidak lain disebabkan tanggung jawab moralku untuk memulihkan ingatannya. Saat Gu Jun Pyo jatuh hati kepadaku, aku pun berpura-pura menerima cintanya. Geum Jan Di, aku tidak ingin melukai hatinya pada waktu itu. Makanya, aku berbohong mencintai dirinya. Setelah membaca coretan kamu di dinding pondokan di Barcelona tempo hari, maka ketika itu juga aku merasa merdeka. Aku jadi bersemangat untuk mencari kamu, sang penulis kisah penantian itu. Setelah bertemu dengan kamu, aku benar-benar merasa bahagia. Berarti aku dapat melanglang buana. Nah, besok aku akan terbang ke luar negeri. Doakan aku supaya selamat, ya?”

“Park Eun-Kyung….”

Aku memejam. Pelupuk mataku dibanjiri airmata. Sepoi angin malam yang malas merangkak membuai tengkuk. Tidak terlalu dingin. Tetapi giris yang aku rasakan membekukan hati. Aku menggigit bibir. Tidak kuasa lagi menahan airmata.

“Park Eun-Kyung….”

Aku belum berani berpaling. Airmata ini harus kusembunyikan. Bukan untuk apa. Aku tidak ingin gadis itu sampai tahu kalau aku sebenarnya mencintai kekasihnya yang amnesia.

“Kami akan menunggumu pulang!”

Aku mengangguk tanpa mengangkat muka. Sebersit rasa mengaduk-aduk hati. Kenangan manis bersama Gu Jun Pyo babur di benakku. Mendadak gamang dengan keputusanku yang pura-pura. Tetapi aku harus berbohong. Geum Jan Di sudah sangat menderita. Ia sudah kehilangan kebahagiaannya saat tragedi di Barcelona itu. Aku telah merampas kebahagiaannya. Aku telah merampas kekasihnya. Maka aku tidak pantas memiliki hati Gu Jun Pyo meski pemuda itu tulus mencintaiku!

“Park Eun-Kyung….”

Tuhan tolong!

Jangan biarkan airmataku jatuh di hadapan Geum Jan Di. Biarkan aku belajar tegar seperti gadis itu.

“Aku sudah ikhlas, Park Eun-Kyung!”

Aku kembali memejam. Hatiku semakin berdarah. Inikah ketulusan cinta yang terpancar dari hati seorang hawa? Inikah karya purna dari langit yang dicetuskan pada diri seorang Geum Jan Di! Sungguh. Aku kerdil dalam keagungan cintanya! Dan sama sekali tidak berminat untuk merebut hati kekasihnya meski hal itu semudah membalik telapak tangan!

“Tolong jangan usik keberangkatanku dengan nama Gu Jun Pyo lagi, Geum Jan Di!”

Airmatanya menitik. Keharuan merayapi dinding-dinding malam. Geum Jan Di, gadis mungil dengan semangat gergasi itu meneteskan airmata! Aku tersenyum sinis. Cinta merapuhkan hati kami berdua. Gu Jun Pyo meluluhlantakkan tembok ketegaran kami. Cinta memang telah mengerdilkan kami. Romantisme membabur. Melukai hati kami berdua.

“Kamu akan melukai hati Gu Jun Pyo, Park Eun-Kyung!”

“Aku tidak ingin kamu terluka!”

“Aku ikhlas, aku ikhlas!”

“Tetapi aku tidak dapat menerima orang yang tidak aku cintai!”

Aku menggigit bibir. Mengelak ketika sorot mata beningnya itu hendak membaca isi hatiku yang sesungguhnya lewat kedua bola mataku. Sebuah kesia-siaan. Sebab gadis itu menggeleng, menolak uraian dalih yang kucetuskan dengan suara sember.

“Kamu telah menyiksa hatimu, Park Eun-Kyung!”

Aku menggeleng. Mengharap rinai hujan akan segera turun malam ini sehingga airmataku tersamar oleh tirai-tirainya yang basah. Tetapi langit masih menggantungkan uapan air itu. Enggan mewujudkan permintaan hatiku. Malah mengarak gumpalan hitam itu menjauh dari hadapan. Dan menyibakkan gemintang yang sudah samar menoktah.

“Sudahlah, Geum Jan Di. Aku memang tidak mencintai Gu Jun Pyo, kok.”

“Tetapi….”

“Fighting, bersemangatlah, Geum Jan Di. Aku yakin ingatan Gu Jun Pyo akan pulih kalau kamu terus menyertainya. Aku harap kamu dapat bersamanya setiap hari. Mungkin dengan begitu kenangan kalian berdua akan menguak sedikit demi sedikit di serabut kelabu otaknya. Oke?”

“Tetapi….”

“Aku mohon penuhi permintaan terakhirku itu, Geum Jan Di. Jagalah Gu Jun Pyo. Sertai dia setiap hari. Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu mau mendengar semua permintaanku itu.”

“Park Eun-Kyung….”

“Geum Jan Di, fighting, bersemangatlah!”

“Tetapi….”

“Sudahlah. Tidak ada tetapi-tetapian lagi. Sudah larut malam. Besok pagi aku sudah harus berangkat. Nah, sekarang janji. Di antara kita tidak boleh ada yang berpaling saat melangkah, terlebih-lebih menangis. Jadi, aku akan menghitung satu-dua-tiga. Setelah itu kita masing-masing berbalik. Aku ke kanan dan kamu ke kiri. Janji, tidak boleh ada yang menangis!”

Gadis itu mengangguk. Rambutnya yang mayang terkibas angin malam. Ia membalik badan dengan langkah berat. Aku menggigit bibir. Ragu dengan keputusan yang kubuat sendiri, untuk tidak saling mengingkari peraturan yang telah disepakati bersama tadi.

Dan ketika melangkah, airmataku semakin menderas.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Novelet: Season of The Fireworks 9

Novelet: Season of The Fireworks 8

Novelet: Season of The Fireworks 7

Novelet: Season of The Fireworks 6

Novelet: Season of The Fireworks 5

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar