Novelet: Season of The Fireworks 1

Novelet Season of The Fireworks 1
Ilustrasi novelet Season of The Fireworks 1. (Ist)

Season of The Fireworks 1

Oleh Effendy Wongso

Tentang Park Eun-Kyung

Aku masih menghimpun napas. Atmosfer sunyi masih mengambang ketika senja mulai menangkupi kebun anggur yang membentang luas di hadapan. Gelembung paru-paruku belum kuat mengembuskan wacana. Pemuda itu sendiri. Mematung serupa sano. Sejurus kutangkap kilau di kedalaman matanya. Telaga bening di sana memapar tenang. Namun kutahu riak yang mengalir sedang menghanyutkan sesuatu. Entah apa. Sesuatu yang tidak pernah dapat kutangkap karena terselubung misteri.

Pemuda itu masih berdiri, terdiam di bawah bentangan langit jingga. Sesaat genteng yang kupijak berderak saat berusaha mendekatinya diam-diam di atas atap rumah. Bukan kebiasaanku untuk mengedarkan mata pada ketinggian. Tetapi gentar itu kuredam demi menawari rasa bersalahku. Dan kucoba mengulurkan tangan persahabatan.

Sungguh, kecelakaan mobil tempo hari telah merenggut dunianya yang nyaman. Ia hilang di rimba silsilah. Terasing dari orang-orang yang dicintainya. Amnesia telah merampas kebahagiaannya. Aku merasa bersalah. Dan tidak dapat lepas tangan begitu saja setelah tragedi di jalan protokol menuju Gereja St Pons itu.

“Anyeong haseyo?”

Pemuda itu masih terdiam, juga tak memalingkan wajahnya ke arahku. Aku menggugu. Tetapi masih berusaha menggali kalimat lain agar ia dapat berkomunikasi denganku.

“Daebak, indah, ya?”

Ia hanya memalingkan wajahnya yang keperakan ditimpa sinar matahari yang sudah mencondong ke ufuk barat. Tetapi hanya sebentar sebagai spontanitas tanggapan atas visualisasi yang kuaktualkan dalam kalimat penggugah keterdiaman.

Anggur yang meranum merah merupakan topik hangat saat ini. Buah bibir para petani kebun anggur atas jerih payah dan kerja keras mereka selama ini bila berkumpul kala rehat bersama keluarga. Tetapi kalimatku membentur dinding beku hatinya. Tak sedikit pun ia menanggapi basa-basi perihal hasil bumi bahan utama untuk minuman beralkohol kebanggan masyarakat Barcelona.

Sedetik, ia memandangku dengan rupa tak berona. Demi Tuhan aku tidak berharap reaksi itu mengemuka meski telah kuduga sebelumnya bahwa ia akan melakukan hal yang sama, terdiam dengan benak yang dipenuhi kenangan babur. Dan hanya menganggap Park Eun-Kyung sebagai bagian dari fenomena yang tak perlu masuk dalam memori otaknya setelah semuanya hilang ditelan amnesia.

Tatapan kosongnya menguncupkan bibirku yang mengembang tulus. Aku sedikit kecewa atas perlakuannya yang sama dari waktu ke waktu. Dan aku duduk pelan-pelan di atas genteng atap rumah kala ia mengembalikan pandangannya pada bentangan langit yang mulai menoktahkan gemintang. Ya, Tuhan. Terlalu naif rasanya mengharap secuil tanggapan di saat luka psikis itu belum mengering dari hatinya.

Aku menggigit bibir.

Mungkin Tuhan tengah menghukum aku atas tindakan emosional dua tahun lalu saat kabur dari keluargaku di Jeju. Mungkin sosok yang sekarang terasing dari dunianya ini merupakan beban yang mesti kupikul agar tidak dapat melangkah sesuka hati lagi. Tuhan ingin aku bertanggung jawab atas beban yang ditaruh di atas pundakku. Tuhan ingin mendewasakan aku dengan kemandirian.

Tetapi lepas dari semua itu, aku merasa kehadiran pemuda amnesia ini telah mengisi hidupku dengan penuh warna. Ia telah menjadi bagian dari hidupku belakangan ini. Ia secara tidak langsung mengajari aku bagaimana bertanggung jawab. Bukannya lagi gadis dengan pikiran kanak-kanak yang hanya menghabiskan waktu berterbangan seperti burung dari satu negara ke negara lainnya.

***

“Hei, lihat. Itu bintangku!”

Aku menjerit, sontak berdiri dari dudukku di atas genteng atap rumah sembari mengarahkan telunjukku ke sebuah bintang yang paling bersinar di layar kelam langit. Namun pemuda itu tak bergeming. Hanya menolehkan kepalanya sekilas.

“Sungguh! Itu bintangku! Aku tidak bohong!”

Sebuah penegasan yang sia-sia. Tetapi aku masih berusaha mengajaknya berdialog. Paling tidak supaya ia dapat menanggapiku sebagai sahabat yang bersahaja, yang menawarkan dan mengulurkan tali persahabatan dengan ramah beberapa hari ini. Bukannya gadis biang pelantak hidupnya!

“Hei, tahu tidak kenapa bintang yang bersinar paling terang itu merupakan bintangku?”

Ia masih tergugu. Tetapi pertanyaan yang kulontarkan barusan sedikit mengenduri raut wajahnya dari kemurungan. Mungkin ia penasaran. Mungkin jawaban yang bakal aku paparkan akan melelatukan sedikit ingatan pada memori otaknya. Sehingga jatidirinya terkuak sedikit demi sedikit. Entahlah.

“Bintang itu aku namai Yong-Gamhan Salam Park Eun-Kyung (Park Eun-Kyung Si Pemberani).”

Ia kembali mengarahkan sepasang mata bagusnya ke arahku. Demi Tuhan, tak pernah kulihat ia sehidup ini. Telaga yang tadinya tenang telah sedikit beriak, menghadirkan gelombang kecil dengan kecipratnya yang minor. Aku jadi bersemangat.

“Ya, namanya adalah Park Eun-Kyung Si Pemberani. Lucu, ya? Tahu kenapa bintang itu aku beri nama begitu?”

Ia masih menatapku. Pipiku memanas tiba-tiba. Mungkin aku telah salah menafsirkan sorot sepasang mata elang itu. Entahlah. Yang pasti sinar di matanya telah membenderang. Seperti gemintang di langit yang sudah menghampar indah. Barangkali ia sedang menunggu uraian kalimat penjelas atas pertanyaan yang kulontarkan.

“Kisah penamaan bintang itu cukup unik. Hm, suatu ketika aku pernah tersesat di pinggir hutan saat mengikuti wisata tur liburan sekolah bersama teman-temanku. Karena terlalu senang dan bersemangat menyusuri lanskap alam yang indah, aku malah tersasar dan meninggalkan kamp kami. Tahu tidak, saat itu aku menangis meraung-raung. Aku pikir, tamatlah riwayatku.”

Tak ada jawaban atas reaksi dari kalimat yang kurentetkan. Terlebih secuil bulan sabit yang melengkung di bibirnya.

“Aku tersesat di hutan yang mahaluas. Mungkin sebentar lagi akan menjadi santapan lezat binatang buas di hutan. Aku ketakutan setengah mati,” beberku, berhenti sejenak sembari masih menatap bintang kejora itu.”

Ia masih takzim menyimak.

“Tahu tidak, ketika menengadah ke langit, aku melihat bintang kejora itu. Bintang kejora itu sangat terang dibandingkan bintang-bintang yang lainnya. Ketika memandangnya berlama-lama, bintang kejora itu seolah berkata kepadaku: ‘Park Eun-Kyung, jangan takut. Saya akan membimbingmu keluar dari hutan ini. Kamu harus bersemangat. Ayo, semangat! Jangan berputus asa. Ikutlah saya. Saya akan menjadi pedoman dan penunjuk jalan bagi kamu.’ Berkat jasa bintang kejora itu, akhirnya aku dapat keluar dari hutan,” paparku.

Ia juga masih terdiam seperti tadi.

“Nah, aku kemudian berkumpul bersama teman-teman lainnya di kamp. Karena terkesan, bintang kejora itu pun aku namai Yong-Gamhan Salam Park Eun-Kyung (Park Eun-Kyung Si Pemberani). Nah, setelah kejadian itu, aku terus mencari-cari bintang kejora itu ke manapun aku pergi. Setiap malam aku selalu menunggunya di luar rumah. Tetapi, Park Eun-Kyung Si Pemberani ternyata bandel. Tidak setiap hari ia menampakkan dirinya.”

Sekilas aku mengamati wajahnya dari ekor mataku. Tak bergeming, ia masih mematung dan tak membalas satu patah kata pun.

“Kadang-kadang aku menunggunya sampai dua-tiga hari. Kamu termasuk orang yang beruntung karena dapat melihatnya langsung pada hari ini. Hei, jangan menertawaiku atas stori yang mungkin kamu anggap norak nantinya. Tetapi, sungguh. Bintang kejora itu sudah aku anggap bagian dari hidupku. Ia adalah sahabatku jika hatiku tengah risau. Ia akan menemaniku semalam-malaman hingga aku tidak kesepian. Hahaha. Kadang-kadang aku ngobrol dengan Park Eun-Kyung Si Pemberani itu. Hei, mungkin orang sudah menganggapku gila. Tetapi, Park Eun-Kyung Si Pemberani itu memang sahabat yang paling setia selain Kak Baek Hyeon.”

Simpul di bibir pemuda itu terurai. Ia tersenyum. Ya, Tuhan! Terima kasih atas anugerah yang telah Engkau berikan. Keindahan senyum itu melebihi apa pun juga!

“Setiap melihat Park Eun-Kyung Si Pemberani, setiap menunggunya keluar menampakkan diri, maka aku menemukan sebuah makna yang akhirnya kupahami sebagai sebuah anugerah yang sengaja diperlihatkan Tuhan kepadaku. Mau tahu apa itu?”

Pemuda itu masih mematung. Namun rona di wajahnya sudah tidak menggamang. Sepertinya ia mengangguk saat kubeberkan lektur kalimat tentang keajaiban alam semesta nova. Tetapi trauma otak yang dialaminya memaksanya untuk diam. Dan hanya menyimak dengan takzim.

“Tuhan telah memaparkan nilai yang sesungguhnya mampu kita mafhumi sebagai karunia. Dalam penantian, penungguan saat-saat indah munculnya Park Eun-Kyung Si Pemberani, semua itu merupakan keindahan yang tidak ternilai harganya. Aku menemukan kebahagiaan tersendiri ketika menunggu buah anggur tumbuh dan meranum. Menunggu saat-saat memetik buah anggur tersebut. Menunggu saat buah anggur itu diracik menjadi minuman anggur. Menunggu Park Eun-Kyung Si Pemberani muncul pada malam-malamku di perkebunan anggur ini. Entah menunggu hari ini, besok, lusa, dua atau tiga hari.”

Belum ada sepatah kata pun dari bibirnya. Tetapi matanya yang membola itu sudah lebih dari cukup untuk menjawabi, ia sedang menyimak semua kisahku tentang Park Eun-Kyung Si Pemberani.

“Yang pasti, dari penantian-penantian itu aku menemukan renda harapan. Harapan yang akan membawa kita pada hari-hari yang lebih baik. Aku jadi bersemangat untuk hidup. Dan aku jadi lebih bisa mengerti, napas yang telah ditiupkan Sang Pencipta kepadaku dan pada setiap manusia memiliki makna yang hakiki. Jauh lebih besar daripada yang telah kita pahami selama ini.”

Aku terus mengucurkan kalimat untuk menggugah keterdiamannya meskipun senyumnya sudah lebih dari cukup.

“Oke, mungkin saat ini kamu tidak tahu siapa diri kamu. Dari mana kamu berasal. Siapa keluargamu. Tetapi, kamu masih memiliki satu hal yang paling mendasar. Yaitu, kamu masih diberi kesempatan untuk hidup. Kamu masih diberi kesempatan untuk menanti dan menunggu, mencari dengan sabar dan tabah jati diri kamu yang sesungguhnya. Entah, mungkin satu tahun. Mungkin dua tahun. Sepuluh tahun, barangkali. Tetapi, tidak peduli bagaimana proses penantian itu. Yang pasti, hidup bagi kita masih panjang. Menjelang hari-hari yang baru merupakan sebuah keajaiban.”

Sepasang mata pemuda itu berbinar. Ada lesung indah di sudut bibirnya kala rekahan senyumnya mengembang. Beban yang seolah diletakkan di pundakku kupahami benar sebagai anugerah. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain untuk jalan dan langkah hidupku selanjutnya. Entahlah. Tetapi satu hal yang paling mendasar kurasakan kini kala kejujuran mesti terungkap dan diletakkan pada tempat teratas. Bahwa, aku telah jatuh hati terhadap pemuda di hadapanku!

Ya, aku telah jatuh cinta!

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Novelet: Season of The Fireworks 9

Novelet: Season of The Fireworks 8

Novelet: Season of The Fireworks 7

Novelet: Season of The Fireworks 6

Novelet: Season of The Fireworks 5

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar