Makanan Ini Populer di Indonesia tetapi Tak Dikenal Negara Asalnya Tiongkok

Makanan Ini Populer di Indonesia tetapi Tak Dikenal Negara Asalnya Tiongkok
Popularitas capcai atau kerap ditulis Cap Cay di Indonesia, khususnya di daerah-daerah dengan diaspora Tionghoa yang pesat seperti di Pontianak, Singkawang, Medan, Surabaya, dan Makassar, tidak perlu diragukan lagi. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Popularitas capcai atau kerap ditulis Cap Cay di Indonesia, khususnya di daerah-daerah dengan diaspora Tionghoa yang pesat seperti di Pontianak, Singkawang, Medan, Surabaya, dan Makassar, tidak perlu diragukan lagi.

Pasalnya, Cap Cay yang notabene dikenal sebagai Chinese Food tersebut, sudah jamak dikonsumsi berbagai kalangan, tidak hanya Tionghoa tetapi sudah menjadi menu rakyat marginal.

Sebagai masakan yang terbuat dari aneka sayur, Cap Cay identik dengan kuah kental dengan aroma gurih. Lazimnya Chinese Food lainnya, memang menu sayuran ini tidak lepas dari kontribusi rempah-rempah oriental khas Asia Timur Jauh.

Kendati demikian, meskipun terkenal di Tanah Air, akan tetapi hidangan asal Tiongkok ini justru tidak dikenal di negerinya sendiri. Kok, bisa? Ternyata, hal tersebut tidak lepas dari asal-usul Cap Cay itu sendiri.

“Dulu, pada zaman dinasti-dinasti di Tiongkok, Cap Cay sejatinya merupakan olahan spekulatif koki istana yang memasak sisa-sisa sayuran. Pasalnya, kaisar-kaisar di Tiongkok kuno enggan makan makanan sisa,” terang Marcomm and PR Waroenk Resto and Cafe Merlin Sinlae saat disambangi di Jalan WJ Lalamentik, Oebufu, Kupang, Minggu 7 Juni 2020.

Akhirnya, lanjutnya, ketimbang membuang banyak bahan sayur yang tidak habis termakan, koki istana berinisiatif mencampurkan aneka sayuran itu menjadi masakan baru.

“Kendati melahirkan menu ‘genre’ baru, tetapi persepsi tentang Cap Cay itu ‘jelek’. Jelek karena dipandang sebagai makanan buangan dan murahan. Ini lantaran dimasak dari bahan-bahan sisa, sehingga Cap Cay yang berharfiah ‘sepuluh jenis sayuran’ dalam bahasa Mandarin ini, tidak dianggap sebagai ‘masakan’. Tahu kan bagaimana elitenya makanan para kaisar dulu?” papar Merlin.

Bagaimana masyarakat Indonesia dapat mengenal Cap Cay, sebutnya, kemungkinan besar dibawa para perantau dari daerah Fujian, salah satu wilayah Tiongkok yang secara hegemoni dihuni etnik Hokkian.

Dalam perkembangannya, diaspora Hokkian inilah yang berkontribusi mengenalkan Cap Cay di Nusantara. Memang, dari manuskrip riwayat Tionghoa di Indonesia, secara umum orang Hokkian mendominasi keberadaan entitas Tionghoa di Indonesia, termasuk kebudayaan maupun kuliner yang diusungnya.

“Para imigran Tionghoa yang tiba di Indonesia turut memasak Cap Cay lantaran negeri ini kaya dengan berbagai jenis sayuran. Di sisi lain, zaman dulu pangan daging tidak begitu terjangkau di kantong mereka. Dulu, memang sejak datang dari negeri leluhurnya mereka sudah papa (prasejahtera),” imbuh Merlin.

Sehingga, tidaklah mengherankan apabila Cap Cay mudah dibuat menjadi menu andalan dalam kondisi serba kekurangan pada saat itu.

“Makanya, dalam membuat Cap Cay tidak punya pakem (aturan) khusus menyangkut jenis sayuran yang menjadi bahan masakan. Bebas, sesuai selera koki yang membuatnya. Terserah mau isinya apa, campurkan semuanya, sah-sah saja,” jelas Merlin.

Dalam perkembangannya, Cap Cay akhirnya dicampur daging sapi atau ayam, bahkan jeroan. Di beberapa warung atau gerai nonhalal, Cap Cay populer dicampur dengan daging babi.

“Cap Cay di Waroenk Oebufu dan Waroenk Seafood merupakan menu favorit pelanggan. Selain karena sudah menjadi menu ‘sejuta umat’, Cap Cay juga termasuk makanan menyehatkan. Ada dua jenis Cap Cay yang kami tawarkan, yaitu Cap Cay Goreng dan Cap Cay Kuah. Tetapi bagi pelanggan vegetarian, juga bisa memesannya tanpa daging,” imbuh Merlin.

Menurutnya, meskipun Cap Cay masuk dalam menu reguler yang dapat dijumpai secara mudah di tempat lain, tetapi makanan berbahan utama sayur-mayur berbeda bumbu dibandingkan racikan Cap Cay pada umumnya.

“Mungkin, secara umum Cap Cay semua sama termasuk bahan utama serta bahan pendukungnya seperti lauk ayam maupun daging. Tetapi, cita rasa tetap menjadi diferensiasi dan ini terletak dari bumbu khas yang kami gunakan,” ungkap Merlin.

Beberapa jenis sayuran yang biasanya dijadikan Cap Cay, sebutnya, adalah sawi putih, sawi hijau, wortel, jagung muda, jamur merang, jamur kuping, kol, kapri, buncis, bunga kol, brokoli, daun bawang, tomat, dan bawang bombai.

Sekadar diketahui, dalam beberapa versi Cap Cay diklaim pertama kali dikenal di daratan Tiongkok pada era Dinasti Qing (1644-1911). Cap Cay yang dikenal saat itu berupa potongan sayur-sayuran yang dicampur jeroan hewan ternak.

Sementara, versi lainnya mengungkapkan jika Cap Cay adalah masakan kaum imigran Tiongkok yang berkelana ke berbagai penjuru dunia. Makanan yang dimasak hari itu adalah apa yang ditemui mereka pada hari itu juga.

Pasalnya, semua bahan terutama sayuran yang ditemukan hari itu dipotong-potong, kemudian dimasak menjadi satu. Kalau sayur yang ditemukan lebih banyak, maka Cap Cay hari itu menjadi semakin mewah.

Namun, di Tiongkok sendiri masakan ini tidak dikenal. Hanya di wilayah Taisan, yang mayoritas penduduknya pengelana dan kaum imigran, istilah masakan Cap Cay ini dikenal dan ada.

Adapun versi yang populer di Amerika Serikat (AS) mengungkapkan jika kunjungan duta besar Tiongkok, Li Hung Chang ke New York pada 29 Agustus 1896, menjadi ihwal munculnya masakan Cap Cay di Negeri Paman Sam itu.

Dalam sebuah jamuan makan malam, Li Hung Chang menolak semua hidangan mewah. Ia pun menugaskan juru masak pribadinya untuk menyiapkan menu sendiri. Kokinya akhirnya menciptakan masakan yang bisa diterima lidah AS dan Eropa sehingga jadilah masakan Cap Cay itu.

Beberapa versi juga menyebutkan Cap Cay bukan berasal dari Tiongkok, melainkan masakan yang diciptakan orang Tionghoa yang tinggal di Indonesia.

Terlepas dari riwayat keberadaan makanan sedap yang masih samar dan baur itu, Cap Cay memang selalu dirindukan penikmat kuliner di Indonesia lantaran kelezatannya.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar