Arem-arem versus Lontong, Serupa Tetapi Tak Sama

Arem-arem versus Lontong, Serupa Tetapi Tak Sama
Tekstur Arem-arem sedikit lebih lunak dan rasanya lebih gurih. Pasalnya, penganan yang juga mirip Lalampa secara fisik itu, dibalur dengan santan. Makanya, bungkus daun pisang Arem-arem biasanya cenderung lebih berminyak. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Menjelajahi dunia kuliner, khususnya penikmat penganan Nusantara, pasti pernah mendapati anekdot lucu terkait kudapan yang berasal dari Jawa, yatu Arem-arem dan Lontong.

Pasalnya, bagi masyarakat non Jawa, memang agak sulit membedakan kedua penganan asli Indonesia ini. Meskipun sangat mudah didapati di pasaran, terutama di pasar-pasar tradisional namun kerap kedua penganan yang lazimnya sama-sama dicocol dalam sambal tradisional, Lontong dan Arem-arem sulit dipilah lantaran serupa tetapi tak sama.

Kedua penganan yang kadang-kadang juga dicocol dengan saus kacang tersebut, saat ini juga menjadi penganan pelengkap pengganti nasi. Sebut saja soto, rawon, dan menu berkuah lainnya yang umum dikonsumsi orang Indonesia.

“Bahan cair yang digunakan untuk membuat Lontong itu air. Selain itu, Lontong tidak dikukus namun direbus. Sementara, Arem-arem dikukus dan dimasak bersama santan,” beber Manager Royal Bakery Anita Anny saat ditemui di Jalan Bundaran PU, Tuak Daun Merah, Kupang, Sabtu 6 Juni 2020.

Ia menambahkan, Lontong biasanya butirannya masih asli dari beras. Berbeda Arem-arem yang biasanya ketika hendak dikukus, berasnya ditumbuk terlebih dulu,” papar Anita.

Oleh karena itu, urainya, tekstur Arem-arem sedikit lebih lunak dan rasanya lebih gurih. Pasalnya, penganan yang juga mirip Lalampa secara fisik itu, dibalur dengan santan. Makanya, bungkus daun pisang Arem-arem biasanya cenderung lebih berminyak.

Anita mengatakan, di Royal Bakery pihaknya hanya menjual Arem-arem karena dinilai siap saji. Maksudnya, penganan itu sudah berisi remah lauk daging sapi dan sayuran wortel. Sehingga, orang yang membelinya langsung memakannya tanpa harus mencari “teman” makanan lainnya.

“Ready to eat, karena sudah berisi suwiran daging sapi dan wortel. Ini beda jika membeli Lontong, yang harus disantap dengan lauk seperti soto dan lainnya. Kalau di Sulawesi Selatan, Lontong atau Buras yang merupakan entitas Bugis, mungkin disantap dengan Coto Makassar sebagai pengganti nasi,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, Lontong dan Buras yang populer di Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur yang masif dihuni diaspora Bugis-Makassar, “pure” atau murni terdiri dari beras yang dipadatkan sehingga solid dan tidak terburai. Sementara, Arem-arem yang dibanderol pihaknya Rp 5 ribu per picis tersebut secara isi dalaman mirip Lalampa atau Lemper.

“Dari segi isi dalaman, Arem-arem sama dengan Lalampa dan Lemper. Yang membedakannya, bahan utama Arem-arem adalah beras biasa namun Lalampa dan Lemper beras yang digunakan adalah beras ketan,” kata Anita.

Menurutnya, Arem-arem masuk dalam jenis kudapan jenis pastry lantaran bisa dipegang langsung dengan tangan ketika dimakan. Ia menyebut, asal penganan itu masih baur meskipun berasal dari entitas Jawa. Beberapa mengatakan berasal dari Kota Kebumen, DI Yogyakarta, dan Kota Solo lantaran sangat mudah dijumpai di daerah itu.

Anita mengungkapkan, dalam pembuatannya isi Arem-arem secara general diisi suwiran daging sapi. Kendati begitu, dalam perkembangannya penganan ini juga biasa diisi suwiran ayam atau abon sapi goreng.

“Isi dalaman dibuat terlebih dulu. Selanjutnya, beras dimasak setengah matang. Nasi setengah matang kemudian ditata pada permukaan rata, isi ditaruh di atas lalu digulung dengan nasi. Selanjutnya, gulungan dibungkus daun pisang dan kemudian dikukus hingga masak,” urainya.

Dalam perkembangannya pula, sesuai kreasi pembuatnya, ada variasi Arem-arem yang membungkus gulungan nasi dengan semacam telur dadar tipis sebelum dibungkus daun pisang, mirip Semar Mendem.

“Bahkan kreasi lain untuk isi dalaman biasanya suwiran daging sapi atau abon sapi goreng diganti tempe. Ini mungkin untuk mengakali agar Arem-arem dapat dijual lebih murah,” tutup Anita.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar