Jerman Injeksi Pagu Rp 2.054 Triliun Guna Stimulus Ekonomi dari Corona

Terkini.id, Berlin – Guna memulihkan ekonomi dari pandemi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19), Pemerintah Jerman menggelontorkan pagu stimulus ekonomi senilai 130 miliar euro atau setara Rp 2.054 triliun dengan asumsi kurs Rp 15.800 per euro.

Terkait hal itu, pajak pertambahan nilai juga diturunkan untuk sementara waktu. Untuk itu, setiap keluarga juga akan menerima 300 euro untuk masing-masing anak. Bagi pembeli mobil listrik akan mendapatkan potongan harga hingga enam ribu euro.

“Besaran paket akan mencapai 130 miliar euro untuk 2020 hingga 2021. Sebanyak 120 miliar euro akan ditanggung pemerintah federal,” terang Kanselir Jerman Angela Merkel, seperti dilansir AFP, Kamis 4 Juni 2020.

Baca Juga: Vaksin Diklaim Dapat Tekan Potensi Lahirnya Varian Baru Covid-19, Ini...

Seperti diketahui, memulihkan perekonomian menjadi fokus Merkel seiring banyaknya jam kerja pegawai yang dikurangi selama pandemi virus corona. Apalagi, angka pengangguran terus naik, dan reduksional Mei 2020 menjadi yang tertinggi sejak 2015.

Jerman saat ini tidak setengah-setengah mengatasi masalah ekonomi ini. Paket stimulus sebanyak 130 miliar euro itu adalah bagian dari penyediaan anggaran hingga 1,1 triliun euro yang disepakati pada Maret 2020 lalu.

Baca Juga: Pakai Masker Harga Mati! Ini Alasan Pemda Luar Jawa-Bali Harus...

Dana paket stimulus sebanyak itu, sebut Merkel, mencakup jaminan pinjaman, subsidi, dan peningkatan jam kerja pegawai guna menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

Berdasarkan data yang dirilis Pemerintah Jerman pada Rabu 3 Juni 2020, tingkat pengangguran di Jerman naik dari 5,8 persen pada April 2020 menjadi 6,3 persen pada Mei 2020, atau hal ini setara dengan 2,8 juta orang.

Ekonomi Jerman goyah lantaran penutupan perbatasan, pekerja dilarang keluar rumah, hingga toko maupun restoran tidak beroperasi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Baca Juga: Terjadi Lonjakan 61,08 Persen Kasus Covid-19 di Luar Jawa-Bali, Pemerintah...

Selain itu, gangguan di sektor perdagangan dan perjalanan (pariwisata) juga membuat Jerman bersiap menuju resesi.

Kendati demikian, beberapa waktu terakhir Jerman sudah melonggarkan pembatasan sosial seiring penurunan kasus virus corona. Toko-toko, restoran, dan bisnis-bisnis terkait pariwisata mulai beroperasi lagi pada awal Mei 2020.

Demikian juga pabrik-pabrik yang sudah kembali berproduksi. Pemerintah juga ingin menggairahkan daya beli konsumen dengan pemotongan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 19 persen menjadi 16 persen yang diberlakukan pada 1 Juli 2020 hingga 31 Desember 2020 mendatang.

Bagikan