Ini Penganan Tradisional Favorit yang Mengambil Nama Tokoh Pewayangan

Ini Penganan Tradisional Favorit yang Mengambil Nama Tokoh Perwayangan
Seperti penganan tradisional favorit lainnya, tidak dapat dinafikan jika Semar Mendem populer seiring perkembangan diaspora Jawa di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Sosok Semar sebagai tokoh Punakawan yang dituakan dan dihormati, tentu tidak asing bagi penyuka wayang. Semar sendiri dalam dunia pewayangan Jawa adalah sesosok titisan dewa yang sering mengajarkan kebajikan, terutama hal-hal yang membawa pencerahan bagi semua orang di sekitarnya.

Sementara, Punakawan yang berasal bahasa Jawa atau Panakawan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, merupakan sebutan umum untuk para pengikut kesatria dalam khazanah kesusastraan Indonesia, terutama etnik Jawa.

Pada umumnya, para Punakawan ditampilkan dalam pementasan wayang baik wayang kulit, wayang golek, ataupun wayang orang sebagai kelompok penebar humor untuk mencairkan suasana. Tak sekadar “guyon” dan menebar tawa, para Punakawan juga berperan penting sebagai penasihat nonformal kesatria yang menjadi asuhan mereka.

Disimbolkan sebagai seorang arif, Semar sering dijadikan panutan dengan semua kritik dan kebenaran sebagai masukan kepada pemimpin yang penuh dengan kekuasaan.

Semar dalam berbagai literasi juga digambarkan sebagai karakter dewa yang pada awalnya berlomba dengan tokoh perwayangan lainnya, yaitu Togog untuk membuktikan seberapa besar kedigdayaan mereka.

Dikisahkan, sebagai sesama dewa mereka berlomba untuk memakan gunung. Akibatnya, mereka berdua lantas dihukum untuk turun ke dunia sebagai pelayan di dua kerajaan yang berbeda.

Semar sebagai pelayan, memiliki sifat kritis dan berani memberi masukan berupa kebenaran kepada majikannya, para Pandawa. Kendati demikian, usulannya kadang-kadang juga tidak selalu diindahkan atau disepahami majikannya.

Di dunia kuliner Nusantara, juga ada penganan tradisional bernama serupa, meskipun secara esensial dan pemaknaan terkait filsafat sangat jauh berbeda, yaitu Semar Mendem.

Bagi penikmat kuliner, jajanan pasar berbentuk persegi panjang dengan kenikmatan khas ini tentu juga bukan kudapan asing. Jika pernah menyambagi Surakarta, terutama di Kota Solo, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, pasti mudah menemukan penganan tersebut.

Seperti penganan tradisional favorit lainnya, tidak dapat dinafikan jika Semar Mendem populer seiring perkembangan diaspora Jawa di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang.

“Semar Mendem terbuat dari beras ketan, di dalamnya berisi abon sapi atau abon ayam, mirip-mirip lemper,” terang Manager Royal Bakery Anita Anny saat ditemui di Jalan Bundaran PU, Tuak Daun Merah, Kupang, Kamis 4 Juni 2020.

Bedanya, urai Anita, kalau lemper dibungkus daun pisang selanjutnya dikukus sebentar baru bisa dinikmati. Sementara, Semar Mendem dibungkus dengan dadaran tepung dan telur.

“Semar Mendem, sejatinya dinikmati bersama saus santan kelapa yang biasanya dinamakan ‘areh’. Semar Mendem versi Royal Bakery kami tambahkan cabai rawit sebagai pelengkap,” bebernya.

Anita menambahkan, Semar Mendem terasa legit karena dibuat dari ketan beraroma gurih. Untuk penganan yang terbilang ‘padat’ tersebut, ia mengatakan dibanderol cukup terjangkau Rp 5.800 per picis.

“Isi dalamannya suwiran ayam, tetapi ada juga penjual yang mengisinya dengan abon sapi. Ini tergantung selera dan menyesuaikan kondisi daerah, seperti misalnya di Bali tentu Semar Mendem berisi abon sapi jarang dijual karena kurang peminat,” imbuhnya.

Selain bahan-bahan tadi, Anita mengatakan penganan ini juga disertai campuran kuah kental semacam pasta yang terbuat dari santan kelapa. Sehingga, itulah yang berkontribusi membuat Semar Mendem terasa enak dan yummy.

Terkait riwayat penamaan yang menggunakan tokoh pewayangan Semar, Anita menjelaskan, tidak ada kaidah yang pasti dari mana asal makanan ini dinamakan Semar Mendem.

“Tetapi, setahu saya, ada yang berasumsi lantaran tokoh Semar digambarkan dalam karakter berperawakan gemuk dan suka makan, makanya makanan ini juga berbentuk agak ‘gendut’ mirip Semar, sehingga disebut Semar Mendem,” ujarnya.

Yang pasti, sebut Anita, sebagai bangsa yang majemuk dengan mengusung banyak kearifan lokal, khususnya Jawa, maka beberapa makanan memang tidak dapat dipisahkan dari filosofi di mana kuliner itu berasal.

“Dalam penamaan Semar, ada kata ‘Mendem’. Mendem dalam bahasa Jawa berarti ‘mabuk’. Secara simbolis ini dapat menggambarkan kelezatan penganan itu, sehingga jika dimakan orang akan ‘mabuk kepayang’ atau ketagihan untuk menyantapnya kembali,” urainya.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar