AirAsia Indonesia Bakal Setop Terbang Hingga 3 bulan, Ini Alasannya

AirAsia Indonesia Bakal Setop Terbang Hingga 3 bulan, Ini Alasannya
Menimbang tingkat permintaan atas layanan penerbangan berjadwal yang belum membaik di Tanah Air, membuat manajemen AirAsia Indonesia dengan kode sahan CMPP di Bursa Efek Indonesia (BEI), bakal menghentikan penerbangan reguler hingga tiga bulan ke depan. Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Jakarta – Menimbang tingkat permintaan atas layanan penerbangan berjadwal yang belum membaik di Tanah Air, membuat manajemen AirAsia Indonesia dengan kode sahan CMPP di Bursa Efek Indonesia (BEI), bakal menghentikan penerbangan reguler hingga tiga bulan ke depan.

“Ini menjadi opsi terbaik kami saat ini. Sebab, perpanjangan masa penghentian sementara memang dilakukan atas dasar alasan operasional. Selain itu, perpanjangan masa pembatasan sosial di beberapa wilayah dan semakin ketatnya ketentuan penerbangan, menyebabkan tingkat permintaan atas layanan penerbangan berjadwal belum juga membaik,” terang Corporate Secretary AirAsia Indonesia Indah Permatasari Saugi kepada wartawan di Jakarta, Rabu 3 Juni 2020.

Indah menjelaskan, pihaknya memperkirakan jangka waktu penghentian atau pembatasan operasional akan berlangsung antara satu hingga tiga bulan. Ini diungkapkan manajemen AirAsia Indonesia melalui keterbukaan informasi yang dipublikasikan pada Rabu 3 Juni 2020.

Layanan penerbangan reguler CMPP, sebutnya, akan menyesuaikan pengoperasian penerbangan berjadwal rute internasional dan domestik secara bertahap.

“Direncanakan akan dimulai pada 8 Juni 2020 pada rute tertentu. Perseroan dapat kembali mengoperasikan penerbangan secara terbatas jika dinilai memungkinkan,” ungkap Indah.

Menurutnya, keadaan saat ini dengan adanya pandemi virus corona, lockdown di luar negeri, dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sangat berdampak signifikan terhadap keuangan perusahaan, terutama arus kas.

“Hal ini juga berdampak pada penghentian operasional sebagian antara satu hingga tiga bulan. Kontribusi pendapatan dari kegiatan operasional yang terhenti atau mengalami pembatasan operasional tersebut terhadap total pendapatan (konsolidasi) pada tahun lalu berkisar antara 51 persen hingga 75 persen,” imbuh Indah.

Oleh karena itu, ia memperkirakan pandemi Covid-19 akan berdampak terhadap penurunan total pendapatan (konsolidasi) untuk periode yang berakhir per 31 Maret 2020 dengan tahun buku per 31 Januari sebesar 25 persen hingga 50 persen.

Sementara itu, penurunan laba bersih diperkirakan dapat mencapai lebih dari 75 persen. Tidak hanya itu, pandemi Covid-19 berdampak pada pemenuhan kewajiban pokok dan bunga utang, dengan nilai kewajiban tersebut senilai Rp 2 triliun.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Bank Indonesia Umumkan Penjualan Eceran April Turun 16,9 Persen

Layanan Remitansi Asal Indonesia Ini Ekspansi ke Eropa

Bos Sanrio Pencipta Hello Kitty Mundur, Wariskan Jabatan ke Cucunya

Saatnya Bersih-bersih Saham di Pasar Modal, Ini Alasannya

20 Persen Kredit Produktif BPR Berpotensi Terdampak Corona

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar