Lumpia, Appetizer yang Berasal dari Kuliner Tradisional Tiongkok

Lumpia, Appetizer yang Berasal dari Kuliner Tradisional Tiongkok
Secara garis besar, Lumpia ada dua jenis yaitu Lumpia basah yang direbus (biasanya berisi sayuran untuk konsumen vegetarian) dan Lumpia kering yang digoreng dengan minyak atau margarin. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Menu dengan cita rasa lezat, sejatinya pasti akan tetap dicari pelanggan yang pernah mencicipinya, apapun jenisnya baik menu pembuka atau appetizer maupun menu utama atau tengah (main course) dan menu penutup (dessert).

Terkait appetizer, di Tanah Air sendiri kurang dimaknai sebagai bagian dari table manners atau etika makan selayaknya yang banyak diterapkan masyarakat Eropa. Hal ini terjadi lantaran di Indonesia, kegiatan bersantap dikenal general dengan makan utama saja.

Padahal, sejatinya jika memanuti table manners, penikmat kuliner khususnya yang makan di restoran, wajib menghadirkan appetizer untuk disantap sebelum lanjut ke sesi makan utama dan makanan penutup di pengujung jamuan makan.

Kalaupun ada, appetizer biasanya hanya dikonsumsi dalam sarapan pagi berupa penganan yang disandingkan kopi atau teh hangat di rumah. Jadi, meskipun fungsi sebenarnya sebagai appetizer tetapi di Indonesia sudah dianggap penganan yang lazim dikenal seperti saat ini, dimakan pagi atau sore hari sebagai teman “ngopi”.

Kendati demikian, saat ini kita tidak membahas table manners tetapi lebih fokus terhadap salah satu jenis appetizer yang masif dikonsumsi orang Indonesia, yaitu Lumpia.

Lumpia yang sudah dianggap sejenis camilan, kue, atau makanan kecil memang sudah tidak asing lagi di lidah masyarakat se-Nusantara. Buktinya, appetizer ini dapat dijumpai dengan mudah dalam etalase penjual kue berdampingan dengan penganan lainnya, seperti Lalampa, Nasi Unti, Onde-onde, dan masih banyak lainnya.

“Lumpia berasal dari Tiongkok, namun dalam perkembangannya saat berasimilasi di daerah-daerah yang dihuni etnik Tionghoa, penganan ini pun dikreasikan dalam berbagai varian, terutama isi dalamannya,” papar Manager Royal Bakery Anita Anny saat ditemui di Royal Bakery, Jalan Bundaran PU, Tuak Daun Merah, Kupang, Senin 1 Juni 2020.

Anita menambahkan, meskipun di kalangan grassroot atau akar rumput menyantap Lumpia sebagai penganan biasa, tetapi di kalangan Tionghoa, kuliner ala Negeri Tirai Bambu tersebut masih dikonsumsi sebagaimana fungsinya sebagai appetizer dalam artian makanan pembuka.

“Ini dapat dilihat dari jamuan makan bersama di meja bundar pada acara nikahan, biasanya Lumpia selalu ada bersanding dengan paket dimsum lainnya,” ungkapnya.

Di Kota Kupang, sebut Anita, Lumpia dianggap penganan biasa sehingga menjadi salah satu kue untuk sarapan pagi atau sore.

“Di Royal Bakery, kami menyediakan Lumpia dalam tiga jenis isian, di antaranya Lumpia Ebi berisi udang Rp 5 ribu per picis, Lumpia Cokelat-Keju Rp 5 ribu, dan Lumpia Ayam Rp 4.500,” bebernya.

Menurut Anita, apapun penyebutannya baik appetizer maupun penganan, Lumpia tergolong istimewa. Istimewa lantaran kuliner ini paling banyak varian isi dalamannya. Secara umum, kulit kerak Lumpia selamanya sama namun isinyalah yang membedakan.

“Isinya paling variatif di antara penganan lain, bisa diisi udang atau ebi, ayam, daging sapi, cokelat, keju, sayur dan bahan lainnya sesuai selera pembuatnya. Tetapi, kulit kerak pembungkusnya tetap sama, yaitu dibuat dari tepung terigu dan putih telur,” katanya.

Keberadaan asal kuliner ini, lanjut Anita, memang masih simpang siur. Namun, bagi penikmat kuliner oriental cuisine, Lumpia diklaim berasal dari Tiongkok.

Sekadar diketahui, Lumpia atau kadang-kadang disebut “lun pia” dalam bahasa Mandarin dan “long pia” dalam dialektika Inggris dengan penyebutan formal sebagai “springroll” merupakan akar dari kuliner tradisional Tionghoa di Tiongkok. Lumpia yang saat ini menjadi ejaan orang Indonesia merupakan lafal dari bahasa Hokkian, salah satu suku di Tiongkok.

Secara garis besar, Lumpia ada dua jenis yaitu Lumpia basah yang direbus (biasanya berisi sayuran untuk konsumen vegetarian) dan Lumpia kering yang digoreng dengan minyak atau margarin.

Di Indonesia, Lumpia yang paling terkenal adalah Lumpia Semarang dengan isian rebung, telur, daging ayam, atau udang. Sementara, untuk versi rumahan Lumpia jamak diisi kari bihun atau keju ragout.

Lumpia lazim disantap dengan cabai rawit, namun beberapa pelaku kuliner membuat sambal olahan dari campuran cuka dan cabai merah layaknya sambal versi Jalangkote atau Pastel di Sulawesi Selatan.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar