Cerpen: Cinta Bersemi di Brussels

Cerpen Cinta Bersemi di Brussels
Ilustrasi Cerpen Cinta Bersemi di Brussels. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Cinta Bersemi di Brussels

Oleh Effendy Wongso

Brussels – Belgium, 2001

Prolog

Grotte Markt di pusat kota tua Brussels tampak anggun disinari temaram cahaya rembulan dari langit barat. Jajaran bangunan klasik berasitektur Mediterania masih memamerkan keindahan khas Negeri Liliput*, Belgia. Sudah seminggu saya di sini, segalanya masih tampak lawas. Menghadirkan serangkaian kenangan dalam ingatan.

Ini oleh-oleh terbaik dari sana!

***

Jennifer van deer Meyde. Gadis berambut pirang dengan sepasang mata kelerengnya yang biru. Dia adalah gotik yang sesungguhnya. Sebuah keindahan natural tak berbanding.

“Hei, your hair like Tintin!”

Gadis itu mengacak rambut saya. Seminggu lalu, gadis bertubuh lampai itu mulai mencecar saya. Dia merupakan salah seorang panitia pelaksana Festival Kesenian Remaja Internasional di Brussels. Setelah press conference di Indoor Stadium of Heysel , stadion sepakbola termegah kebanggaan kesebelasan nasional Belgia, sehari sebelum pentas festival, dia mulai mengekori saya. Sampai pentas berakhir. Mengganggu sekali.

“You know that? A Hérge’s comical story.”

Tentu saja ulahnya itu bikin Erina kesal. Rekan saya, redaktur budaya mading sekolah itu sampai memasang wajah kecut semasam mangga muda bila bertemu Jennifer. Sedari dulu dia bilang kepada saya, kalau selama ini tidak suka dengan gadis-gadis Barat. Mereka terlalu bebas, freedom style. Gayanya suka-suka. Tidak seperti orang Timur yang masih kaleman.

Tentu saja tidak sepenuhnya benar. Saya bilang, untuk urusan hati orang bule lebih fair ketimbang orang Asia. Mereka tidak pernah mau menutupi unek-unek yang menjadi ganjalan dalam hati sehingga menjadi penyakit. Makanya orang Barat tampak awet muda karena tidak menyimpan dendam.

Tapi gadis Batak itu tetap menolak. Memprotes saya dengan cara berjalan langkah cepat seperti dikejar genderuwo. Dia masuk ke salah satu toko suvenir di rue du Heuvel Colline, di salah satu ujung dari bangunan selasar Grand Place Brussels, tanpa mempedulikan saya lagi.

“What the hell with her?” Jennifer tersinggung, dan dia mencibir setelah punggung Erina menirus di rimba manusia dalam toko yang senantiasa sarat pengunjung itu.

“Mungkin lagi haid.” Saya jawab sekenanya , dalam bahasa Inggris tentu saja. “Biasa, penyakit perempuan.”

Jennifer mengangguk mafhum. “Oh, I see.”

“I hope you don’t be angry.”

“Of course not.”

Dan, astaga!

Gadis itu merangkul lengan saya di akhir kalimatnya. Saya gelagapan. Tentu bukan karena kebaikan hatinya yang mau berbesar hati memaafkan Erina. Tapi karena kepalanya yang sudah menyandar di bahu saya. Dia menggelayut manja. Kibasan rambut pirangnya yang menyebarkan harum itu menyapu wajah saya.

Ya, Tuhan, tolong saya!

Senja itu, tanpa Erina yang entah menghilang ke mana, tapi saya yakin dia sudah kembali ke Hotel Ibis Grand Place, berdua kami menyusuri jalan di Rue des Bouchers, dimana jajaran restoran makanan laut di daerah Saint Hubert Royal Galleries itu menggugus menggiurkan. Meneteskan liur kami.

“Kamu pernah cobain mosselen, Rio?”

“Apa itu?”

“Kerang khas Belgia.”

“Belum pernah.”

“Kita cobain, yuk. Don’t worry. Aku yang traktir. Kamu kan tamuku.”

Gadis itu menarik tangan saya setengah menyeret. Dia masuk ke salah satu restoran yang sudah mengaroma dengan wangi makanan. Perut saya tiba-tiba keroncongan.

“She’s your girlfriend?”

“Just a friend.”

“Don’t be lie.”

Jennifer mendesak saya di meja makan. Dia ingin tahu soal hubungan saya dengan Erina. Dia mengunyah steak kerang dengan lahap.

“Aku dan dia satu sekolah. Kami redaktur mading dan majalah sekolah di Jakarta.”

“Aku sudah tahu. Kamu kan sudah menceritakannya kemarin.”

“So, what you mind?”

“She’s look very jealous. Pasti bukan teman biasa kalau dia bersikap antipati begitu kepadaku.”

“Untuk apa aku bohong sih, Jenny?”

Yeah, I know. Tapi, dia kelihatan….”

“Dia memang begitu, Jenny. Rada reseh. Jangan diambil hati.”

“Tapi, aku tidak enak hati. Jangan-jangan aku nanti dianggap orang ketiga perusak hubungan kalian.”

“Oh, my God. You must believe me, Jenny. How many times….”

“Okay. Don’t be angry, Rio. Aku kan cuma sekadar bertanya. Kalau memang tidak betul begitu, ya syukurlah. Berarti aku bisa tenang mengajakmu ‘date’.”

Date?! Hah! Hal itu merupakan acara perkenalan untuk membina keakraban pertemanan di lingkungan remaja Barat. Saya sedikit risih dengan kalimat itu. Sebab, kalau di Indonesia itu merupakan ritual berpacaran, kencan. Tapi saya akhirnya mengangguk menanggapi.

Nyaris sampai tengah malam kami menghabiskan waktu di jalan-jalan kota tua Brussels. Menyaksikan bangunan gotik, gaya arsitektur seni pahat dan lukis pada abad XII sampai dengan XVI di Eropa, yang menyebar di sepanjang sudut-sudut kota tua ini. Beberapa saat berhenti di Monumen Mannequin-pis, sebuah patung tembaga berbentuk bocah lelaki yang sedang ‘pipis’.

“Sejarah patung bocah ini unik sekali lho, Rio.”

“Oya?”

“Pokoknya unik, deh.”

“Uniknya karena apa?”

Saya memandang patung bocah lelaki setinggi kurang lebih tiga puluh sentimeter itu, yang sepanjang hari mengucurkan air mancur dari kemaluannya persis seperti sedang ‘pipis’.

“Begini. Konon, pada waktu Perang Dunia Pertama, persis di Monumen Mannequin-pis ini pernah dipasangi bom berkekuatan ledak besar oleh pasukan musuh untuk menghancurkan pusat Kota Brussels. Saat sumbu bom itu sudah disulut, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang mengencingi sumbu bom tersebut. Akhirnya bom itu tidak jadi meledak, dan Brussels selamat dari kehancuran. Nah, untuk mengenang jasa bocah lelaki tidak dikenal itu, penduduk Kota Brussels mendirikan monumen ini. Namanya, Mannequin-pis atau ‘Bocah yang Sedang Kencing’. Tapi, itu legenda. Entah benar atau tidaknya, aku tidak mengerti.”

Kami berputar-putar sampai lelah. Saya pamit setelah jam di pergelangan saya sudah menunjuk angka sebelas. Dia menolak untuk saya antar ke kediamannya di jantung kota, Avenue Louise. Saya cegat taksi menuju Hotel Ibis Grand Place setelah melambai pada gadis berambut pirang itu.

***

Denyut kehidupan di Kota Brussels masih berdetak. Di balik kaca jendela kamar hotel, dari kejauhan saya melihat La Boutique Cafe masih bersinar dengan cahaya penerangannya yang temaram. Beberapa pasang remaja asyik bercengkerama di mejanya masing-masing, dengan ditemani lilin-lilin tirus yang menyala seperti kunang-kunang.

“Candle light dinner!”

Saya menoleh kaget. Erina sudah berdiri di belakang saya. Dia duduk dengan gerak gegas di gigir ranjang. Saya sentuh saklar lampu di sisi kiri bufet setelah menyeret langkah dari ambang jendela. Lampu dinding menyala. Wajah Erina masih semuram siang tadi!

“Sori, saya masuk tanpa permisi.”

“Ti-tidak apa-apa.”

“Kamu belum tidur? Masih mikirin….”

Saya duduk di samping gadis berwajah oval itu. “Siapa?”

Dia menundukkan kepala, memilin-milin bilah anak rambutnya yang menjuntai di bahu. Belum menjawabi pertanyaan saya.

“Jenny….”

“Asyik ya punya pacar bule?”

“Maksudmu….”

“Bisa ber-‘candle light dinner’ setiap malam. Lalu, dengerin ‘Unchained Melody’ dari piano sang pianis sambil ngetos sampanye di kafe. Uh, romantis sekali!”

“Hei, tapi kami hanya….”

“Eit, jangan bilang gadis berambut emas itu hanya teman.”

“Ta-tapi….”

“Anak-anak juga tahu, kok!”

Astaga! Ini prasangka yang belum berdasar sama sekali meskipun kasusnya beralibi. Tentu saja. Anak-anak cewek adik kelas kami di SMA Regina Pacis yang sepuluh ‘ekor’ itu asal ngomong menebar jala gosip.

“Gandengan tangan. Apalagi?”

“Kamu salah paham….”

“Sepanjang jalan kenangan. Mengitari Bruparc – Brussels Parc, singgah di Cinepolis nonton film Hollywood, makan hamburger dan minum es krim di Quick, lalu….”

Saya menyentuh bahu Erina yang masih menggerimiskan kalimat dari bibirnya.

“Hei, hei. Kami tadi tidak pernah ke sana. Apalagi nonton!”

“Kemana juga tidak ada yang melarang, kok!”

“Tapi, swear! Jenny anaknya memang gaul….”

“Hanya orang gila saja yang tidak tahu kalau gadis agresif itu tergila-gila karena kasmaran sama kamu!”

“Erina Karla Tambunan. Kamu kenapa, sih?”

“Salah minum obat!”

Gadis prenjak itu beranjak. Meninggalkan kamar saya dengan disertai satu debuman keras pada daun pintu. Saya terlongong tidak mengerti. Gadis itu memang seperti salah minum obat!

***

Saya sama sekali tidak pernah menyangka kalau gadis Belgia itu dapat mengutarakan isi hatinya selancar seluncuran es di Zurich. Ternyata, dugaan Erina tepat mengena ke sasaran.

Mendadak saya teringat kalimat yang disampaikan Erina malam kemarin.

“Hanya orang gila saja yang tidak tahu kalau gadis agresif itu tergila-gila karena kasmaran sama kamu!”

Tapi, tentu saja bukan perkara gampang kalau saya menanggapi perasaan hatinya yang secepat lesatan anak panah dari tembakan busur itu. Ini masalah dua kultur yang berbeda! Juga karena dalam hati dan benak saya sudah ada nama lain.

Seseorang yang selama ini selalu saya mimpikan!

Tadi pagi gadis bermata biru itu kembali mengusiki saya. Dia membawa burger dan kentang goreng serta soda susu dari Quick, kedai hamburger lokal khas Belgia, mirip McDonald’s. Setelah sarapan pagi hasil bawaannya yang tidak habis kemakan, dia ingin ngajak jalan ke Basilique Koekelberg, gereja termashyur di Belgia. Mengabadikan gambar berdua dengan berlatar lanskap agung itu sebagai kenangan sepanjang masa!

Dan, lagi-lagi saya tidak kuasa menolaknya. Dia menarik tangan saya seperti kebiasaannya. Setengah menyeret, memaksa saya masuk ke Golf GTI-nya. Melajukan mobil dengan santai sampai ke pelataran besar yang dijejali turis dan pedagang suvenir. Masuk ke dalam gereja yang bernuansa klasik. Setelah puas melihat-lihat, di pekarangan gereja megah itu, dia berterus terang bilang suka sama saya. Sama sekali tidak canggung. Justru, saya yang rikuh. Kemekmek seperti orang yang salah minum obat!

Malam ini, saya menceritakan semua kejadian tak terduga itu kepada Erina, setelah dua guru pembimbing dan anak-anak SMA Regina Pacis yang mewakili Indonesia ke event tahunan itu – mereka membawakan tarian Lenong Betawi, sudah pada tidur karena kecapekan.

“Nah, apa lagi?” Erina setengah mencibir. “Dia cantik. Mirip Lindsay Lohan. Tembak saja!”

Tawa saya hendak menyeruak. Bukan karena kalimat yang dia ucapkan. Tapi karena mimik parasnya yang menyeringai lucu. Apalagi dia berlipat tangan dengan wajah yang dibuang berpaling.

“Terima saja. Hitung-hitung, memperbaiki ‘keturunan’!”

“Astaga, Rin. Siapa juga yang mau ‘menikah’?”

“Ras unggul. Jenis blaster biasanya….”

“Hei, memangnya herder apa?”

“Oh, come on. Jangan bertingkah pura-pura lagi….”

“Pacar bule, ih tidak kebayang deh….”

“Apa salahnya?”

“Tidak salah, sih. Tapi, ini bukan ‘ide’ yang baik….”

“Siapa bilang? Jennifer van deer Meyde tidak malu-maluin untuk dijadikan oleh-oleh ‘calon menantu’ buat orang tua kamu.”

“Hei, memangnya dia suvenir khas Brussels yang bisa diboyong seenak hati ke Indonesia?”

Saya terbahak. Gadis itu manyun. Wajahnya muram seperti biasa. Tapi dia jadi kelihatan manis dengan mimik muka oval begitu. Unik. Sepasang pipinya yang memerah itu jadi seperti buah tomat.

“Lagian, dunia entertainment di negeri kita kan lagi ngetren wajah-wajah indo-blaster…..”

“Sekarang oriental Korea!”

“Tapi….”

“Aduh, Erina. Kenapa kamu suka bikin skenario sendiri tentang hubungan asmara fiktif antara Mario Hertasning dengan Jennifer van deer Meyde itu, sih?”

“Tapi, Jenny suka sama kamu!”

“Suka bukan berarti cinta. Tahu tidak, bule memang begitu. Tidak pernah mau menutup-nutupi dan memendam perasaan. Kalau ada apa-apa, langsung bilang. Langsung nembak. Sedari kecil mereka memang sudah terbiasa dengan iklim fair begitu.”

“Seperti cacing kepanasan begitu kamu bilang Jenny tidak cinta kamu?”

“Mau ular kepanasan juga kek, gadis bule itu pembawaannya memang begitu. Mau apa lagi? Memangya harus ditanggapi semua? Hei, aku tidak mau ber-‘poligami’ seratus pacar bule.”

Saya lihat Erina berusaha menahan tawanya. Mungkin dia malu karena sejak kehadiran gadis berambut pirang dengan nama panggilan ‘Jenny’ itu, dia misuh-misuh tiga kali satu hari, persis seperti anjuran minum obat dari apotik.

“Tapi selama ini….”

“Selama ini saya hanya menganggap dia teman. Teman baik.”

“Ta-tapi, gandengan tangan….”

“Bagi bule, jangankan gandengan tangan, ciuman pun dianggap biasa.”

“Ja-jadi, ka-kalian sudah saling nge-kiss?!”

“Tentu saja belum. Kamu pikir bibir saya ini karet penghapus apa, bisa dengan sembarangan menghapus lipstik orang?”

Gadis dengan sepasang lentik bagus pada pelupuk matanya itu sudah tidak dapat menahan tawa. Saya lihat dia sudah terpingkal. Untung malam ini anak-anak ganjen yang berjumlah sepuluh ekor itu sudah dibuai mimpi. Kalau tidak, pasti mereka akan berulah lagi dengan sifat latennya. Mengusili hidup orang lain!

“Eh, Rio. Kenapa sih kamu tidak kepingin punya pacar bule?”

“Tidak mau ya, tidak mau!”

“Memangnya kenapa?”

Saya tidak tahu harus menjawab apa. Lima detik saya membisu sebelum akhirnya menjawab juga dengan kalimat sekenanya.

“Karena aku cinta produk negeri sendiri.”

“Hah, kamu nasionalis sekali!”

“Iya, dong.”

“Kalau begitu, siapa dong produk dalam negeri pujaan kamu itu?”

Saya kembali kemekmek. Membatu atas pertanyaan Erina yang seringan balon udara.

“Nantilah, di Jakarta kamu akan tahu sendiri.”

“Kenapa tidak sekarang saja kamu sebut namanya?”

Saya tersipu. Mungkin bukan waktu yang tepat bila saya ungkapkan perasaan ini padanya. Selain karena sudah jauh larut malam dan kecapekan, saya juga belum punya keberanian untuk mengatakan siapa sebenarnya sang idaman hati.

“Oh, come on, Rio. Jangan rahasia-rahasiaan begitu, dong!”

“Sudahlah, Rin. Nanti di Jakarta juga kamu akan tahu, kok.”

Gadis itu masih mendesak. Tapi saya sudah memutuskan untuk tidak mengatakan siapa si Dia itu.

Karena segalanya pasti tidak akan terduga.

***

Epilog

Grotte Markt di pusat kota tua Brussels masih tampak anggun. Sisi-sisi bangunannya yang disinari cahaya fajar yang memerah saga membayang seperti kesatria dari masa lampau. Saya terhenyak, tergebah dari lamunan. Pagi sudah menyapa bumi di belahan barat Eropa ini. Brussels perlahan benderang disapa sang mata dewa dari langit bagian timur.

Siang ini rombongan akan kembali ke Tanah Air. Gadis berambut emas itu berjanji akan datang mengantar kami ke bandara. Via telepon yang berdering di kamar hotel malam kemarin juga, dia menyampaikan akan memberikan oleh-oleh dengan seribu kenangan yang tak terlupa kepada saya.

Sebuah ciuman madu, begitu katanya. Tapi saya menolak dan bilang terima kasih. Cukup cium jauh atau cium pipi saja. Karena kalau tidak, seseorang akan marah besar kepada saya.

Dan misuh-misuh tiga kali satu hari, persis seperti anjuran minum obat dari apotek

Keterangan:

*Bersama Andorra, Liechtein, Luxembourg, dan San Marino, Belgia yang terdiri dari tiga etnis besar (Belanda, Perancis, dan Jerman) biasa juga disebut sebagai negara liliput di Eropa. Liliput, karena luas daerahnya yang sangat kecil tidak sampai 20 ribu kilometer persegi, dengan jumlah penduduknya yang kurang lebih 10 juta jiwa.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Unik, Asal Usul Kue Ini Masih Diklaim Dua Daerah di Indonesia

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar