Senada Pemerintah, Kadin Siap Sambut New Normal

Terkini.id, Kupang – New Normal, atau kenormalan baru yang getol didengungkan Pemerintah di bawah instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi), diakuri Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Komunal stakeholder yang membawahi para pelaku usaha di Tanah Air itu mengungkapkan, siap mendukung kebijakan Pemerintah terkait penerapan New Normal.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Perempuan Nita Yudi saat telekonferensi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Jumat 29 Mei 2019.

Menurut Nita, Kadin tengah membuat antisipasi dan kesiapan apa saja yang perlu diimplementasikan guna menghadapi New Normal.

Baca Juga: Kendati dalam Masa Pandemi Covid-19, Kadin NTT Komitmen Terus Jadi...

Adapun imbauan terkait New Normal pihaknya, juga telah diteruskan terhadap pengusaha di bawah Kadin.

“Kami sudah membuat antisipasi-antisipasi atau persiapan-persiapan. Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani mengeluarkan imbauan, kita harus siap hidup berdampingan dengan Covid-19. Artinya, kita harus beradaptasi, berinovasi, dan berkreasi dengan mengikuti peraturan Pemerintah dan protokol kesehatan,” paparnya.

Baca Juga: Layanan Remitansi Asal Indonesia Ini Ekspansi ke Eropa

Nita menyampaikan, pihaknya telah bersinergi dengan Pemerintah dalam menangani Covid-19.

Pertama, sebutnya, dari segi sosial Kadin telah menghimpun donasi dari berbagai pengusaha untuk membantu penanganan virus corona di Tanah Air.

“Kedua, Kadin juga memberi saran atau masukan kepada Pemerintah terkait stimulus dan apa yang harus dilakukan Pemerintah. Yang paling terkena imbas usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Untuk itu, Pemerintah harus segera merealisasikan stimulus-stimulus terkait,” pesannya.

Baca Juga: New Normal 15 Juni, Kantor Imigrasi Mulai Buka Pelayanan Paspor

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani mengungkapkan urgensi ketepatan waktu dalam penerapan skenario New Normal dianggap penting untuk menggerakkan kembali roda perekonomian yang sempat stagnan lantaran pandemi virus corona.

Hal tersebut diungkapkannya mengingat evaluasi yang serampangan dan salah kaprah dapat mengakibatkan pelaku ekonomi kolaps serupa awal pemberlakuan kebijakan pembatasan yang dilakukan Pemerintah sebelumnya.

“Kami mengimbau Pemerintah untuk selalu melakukan evaluasi secara berkala terhadap kebijakan yang akan diterapkan. Banyak provinsi dan kabupaten atau kota beda-beda statusnya. Ada provinsi atau kabupaten dan kota yang memang sudah siap, tetapi ada juga yang butuh waktu lebih panjang untuk memasuki New Normal,” papar Rosan kepada wartawan di Jakarta, Selasa 26 Mei 2020.

Menurutnya, yang lebih penting dari kacamata pihaknya adalah melihat evaluasi dari kebijakan ini.

Misalnya, nanti dibuka lalu satu dua minggu dievaluasi dulu secara menyeluruh, dilakukan penyempurnaan sehingga apakah New Normal perlu diperlebar lagi.

Sejauh ini, Rosan mengaku pengusaha sudah diberikan sosialisasi. Dalam hal ini, ia menyebut Pemerintah juga perlu menggali sejumlah masukan dari para pengusaha. Bagi pengusaha, sosialisasi ini juga menjadi penting guna persiapan memasuki New Normal.

“Pada saat pembukaan New Normal, dari dunia usaha harus melakukan adaptasi, inovasi, dan berkreativitas. Bisnis akan berjalan tidak seperti sebelum Covid-19 karena harus ada penyesuaian-penyesuaian, seperti physical distancing. Kita harus pakai masker, rajin cuci tangan dan menggunakan hand sanitizer. Hal-hal itu harus diterapkan dunia usaha secara penuh dan total,” imbuhnya.

Menurut Rosan, setiap industri juga memiliki karakteristik berbeda.

Untuk itu, ia menyarankan agar Pemerintah juga memperhatikan kebijakan turunan terkait protokol kesehatan di masing-masing industri.

“Memang, ini akan menimbulkan cost baru kepada dunia usaha. Memang itu yang kita lakukan ke depan, kita harus terbiasa karena sekarang ada (pemberlakuan) pembatasan. Restoran yang tadinya menampung 100 orang, mungkin jadi 40-50 orang. Begitu juga pesawat, 50 persen dari seating kapasitas. Ada penyesuaian yang ujung-ujungnya berupa cost-cost tambahan. Itu juga yang harus kita lihat,” pesannya.

Di sisi lain, sebut Rosan, para pengusaha juga harus lebih jeli melihat peluang.

Karenanya, pengusaha harus selalu berpikiran positif karena harus bisa beradaptasi dengan cepat dan tepat. Karena disadari, New Normal mengharuskan semuanya hidup berdampingan dengan Covid-19.

“Kita boleh hope for the best (berharap yang terbaik), tetapi prepare for the worst (siap menghadapi hal terburuk). Kita selalu menjaga itu, tetapi karena faktor ketidakpastian tinggi akibat virus corona, maka kita melihat proses recovery (pemulihan) ini masih cukup panjang,” ujarnya.

Rosan menambahkan, pentingnya inovasi juga bakal mendorong percepatan revolusi industri 4.0.

Menurutnya, memanfaatkan teknologi di era pandemi virus corona adalah hal mutlak jika ingin berkembang.

“Kita lihat banyak warung sekarang banyak terkoneksi dengan IT dalam marketingnya. Tentu, dengan hal ini membuat kita harus lebih menyongsong teknologi dan juga industri revolusi 4.0 jadi lebih cepat. Sekarang, disarankan semua pembayaran tidak pakai uang kertas (kartal) lagi, tetapi dengan teknologi. Ini mendorong (memotivasi), semua yang berhubungan dengan teknologi jadi lebih cepat,” tutupnya.

Bagikan