Ini Penganan yang Dipopulerkan Diaspora Bugis-Makassar di NTT

Ini Penganan yang Dipopulerkan Diaspora Bugis-Makassar di NTT
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang, diaspora Bugis-Makassar yang berdomisili secara turun-temurun di Kota Sasando, demikian julukan wilayah Kupang, juga jamak mengenalkan kuliner penganan, salah satu di antaranya adalah Nasi Unti. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Jika membahas kuliner, khususnya makanan Nusantara memang seperti tidak ada habisnya. Pasalnya, kuliner sudah menjadi salah satu kebudayaan di Tanah Air yang berkembang seiring penyebaran penduduk antarpulau.

Berkembangnya diaspora berbagai etnik di suatu daerah, turut membawa kearifan lokal yang sebelumnya berasal dari wilayah yang didiami. Hal itu dapat dilihat dari beragamnya kuliner nasional yang juga tersebar di berbagai provinsi Indonesia.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang, diaspora Bugis-Makassar yang berdomisili secara turun-temurun di Kota Sasando, demikian julukan wilayah Kupang, juga jamak mengenalkan kuliner penganan, salah satu di antaranya adalah Nasi Unti.

Secara harfiah merunut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Nasi Unti bisa diartikan kelapa parut dicampur dengan gula putih atau merah yang dimasak dan diberi daun pandan atau panili yang dibuat sebagai isi penganan seperti Mendut, Kue Bugis, dan Dadar Gulung.

Verba “unti” dalam bahasa Makassar dan “utti” dalam bahasa Bugis, lebih tepat diartikan sebagai “pisang”. Pisang, sebab penganan ini sejatinya menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnya.

Dalam perkembangannya, penganan yang sering disebut “Kue Bugis” oleh masyarakat Jawa dan kebalikannya oleh masyarakat Bugis-Makassar disebut “Kanre Jawa” atau makanan orang Jawa karena biasanya disantap orang Jawa sebagai sarapan pagi.

“Bahan-bahan untuk pembuatan Nasi Unti sangat sederhana, karena hanya menggunakan beras ketan putih dan serundeng kelapa parut yang dilumuri gula aren atau gula merah,” terang Manager Royal Bakery Anita Anny saat ditemui di Royal Bakery, Jalan Bundaran PU, Tuak Daun Merah, Kupang, Kamis 28 Mei 2020.

Ia menambahkan, Nasi Unti memang merupakan versi temurun dari penganan Songkolo atau Sokko di Sulawesi Selatan.

“Nasi Unti dengan Songkolo atau Sokko memang mirip, cuma yang membedakannya terletak pada isinya. Kalau Nasi Unti yang kita kenal di NTT ini hanya berisi serundeng kelapa parut yang dicampur gula aren, maka Songkolo atau Sokko itu memakai sedikit lauk seperti ikan teri atau ikan asin, atau ada juga yang menggunakan suwiran daging sapi beserta sambal. Tetapi, pada dasarnya semuanya tetap menggunakan serundeng kelapa,” papar Anita.

Ia mengatakan, Nasi Unti di Royal Bakery dibanderol terjangkau Rp 4 ribu. Pelanggan utama pihaknya, sebut Anita berasal dari berbagai kalangan, tetapi memang lebih didominasi diaspora Bugis-Makassar yang kangen makan Songkolo.

Menurut Anita, keberadaan penganan yang sudah dikenal umum di berbagai wilayah Tanah Air, terutama didiami diaspora Bugis-Makassar, sangat digemari karena pembuatannya yang tidak ribet.

Ia sendiri tidak mengetahui persis riwayat Nasi Unti yang mulai populer di Kota Kupang, tetapi menurutnya semuanya tidak terlepas dari keterkaitan keberadaan para perantau yang berdomisili di Tanah Flobamora, julukan daerah NTT.

“Apalagi kan bahan-bahannya mudah diperoleh di berbagai daerah. Selain itu, Nasi Unti juga termasuk awet dan tidak cepat basi,” ulasnya.

Sekadar diketahui, Nasi Unti yang lebih populer disebut Songkolo di Makassar tidak hanya menggunakan bahan dasar beras ketan putih tetapi bisa juga ketan hitam tergantung selera penikmat kuliner.

“Bahan pembuatan Songkolo itu dari beras ketan, bisa ketan putih atau ketan hitam. Kemudian ketan dimasak sampai lunak selanjutnya ditaburi serundeng kelapa parut goreng, serta disajikan dengan lauk ikan teri kering maupun telur asin. Tidak lupa, Nasi Unti versi Songkolo wajib diberi sambal tumis,” terang Anita.

Menurutnya, Songkolo di Makassar sangat populer sehingga dapat disantap kapan saja, tidak hanya sebagai asupan makan pagi. Bahkan, orang-orang di sana kerap menyantapnya pada dini hari.

“Makanya, di Makassar ada yang namanya Songkolo Bagadang (begadang), artinya Songkolo yang dijual hingga dini hari bagi orang yang tengah begadang. Biasanya, Songkolo Bagadang dijual 24 jam oleh pemilik warung di sana,” imbuh Anita.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Unik, Asal Usul Kue Ini Masih Diklaim Dua Daerah di Indonesia

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar