Szechuan Soup, Trah Kuliner Asia yang Sudah Populer Sejak Dinasti Han

Szechuan Soup, sup bercita rasa asam pedas dengan aneka isian baik seafood dan daging ayam ini sendiri sudah digemari warga Kupang, terutama diaspora Tionghoa yang sudah bermukim turun-temurun di Kota Kupang. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Terkini.id, Kupang – Salah satu jenis masakan yang paling disukai di dunia adalah makanan oriental yang berasal dari Asia. Adapun masakan kontinental yang berasal dari negara-negara Barat (Eropa), juga disukai tetapi belum bisa mereduksi kegemaran penikmat kuliner dunia mencicipi makanan oriental.

Saat ini, kepopuleran masakan oriental sudah merambah Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang notabene tempat lahirnya menu-menu kontinental. Jika ditelusuri lebih mendetail, hal tersebut tidak salah. Pasalnya, menu-menu oriental kaya akan rasa yang tidak lepas dari penggunaan rempah dan bumbu khas.

Salah satu masakan oriental yang sudah tidak asing bagi penikmat kuliner adalah Szechuan Soup yang dalam implementasinya terdiri dari dua jenis yaitu berisi seafood dan daging ayam.

Sup bercita rasa asam pedas dengan aneka isian baik seafood dan daging ayam ini sendiri sudah digemari warga Kupang, terutama diaspora Tionghoa yang sudah bermukim turun-temurun di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang.

“Makanan yang berasal dari Tiongkok ini, kami luncurkan bersamaan pembukaan Waroenk Seafood di awal 2019 lalu,” terang Marketing Communication and Public Relation Waroenk Seafood, Noncy Ndeo saat ditemui di Jalan Veteran, Fatululi, Kupang, Rabu, 27 Mei 2020.

Menurutnya, jika bicara masakan oriental maka Soup Szechuan tidak dapat dipisahkan dari “trah” kuliner Asia.

Pasalnya, apapun isinya baik berbahan seafood, daging sapi maupun ayam, bila menyebut “Szechuan”, maka penikmat kuliner sejati yang sering melanglang buana pasti tahu, sup ini merupakan salah satu menu oriental terpopuler di dunia.

Kepopuleran Szechuan Soup dapat dimafhumi lantaran peracikannya yang mudah dengan bahan-bahan yang tidak sulit diperoleh.

“Bahan-bahannya yang sederhana dan mudah diperoleh mendorong pelaku usaha kuliner, terutama yang bergerak dalam oriental cuisine, masif membuat makanan ini sebagai menu andalan mereka,” papar Noncy.

Szechuan Soup yang dijual pihaknya adalah berisi seafood yang dibanderol cukup terjangkau Rp 30 ribu per porsi. Ia mengklaim sangat terjangkau untuk menu “eksklusif” yang biasanya dibanderol selangit di resto-resto oriental.

Sekadar diketahui, masakan Szechuan Soup atau biasa disebut sup Sichuan dalam dialektika Indonesia, adalah jenis masakan yang berasal dari Provinsi Szechuan (saat ini Sichuan), Tiongkok. Masakan ini dikenal dalam kuliner Tiongkok sebagai masakan yang banyak memiliki kombinasi rasa, seperti pedas, asam, asin, dan manis.

Bumbu penting dalam masakan tersebut antara lain cabai merah. Cabai merah sendiri baru diperkenalkan ke Tiongkok sekitar 200 tahun lalu, terutama melalui perdagangan Jalur Sutra yang legendaris.

Nama sup Szechuan ini sejatinya berasal dari nama Provinsi Sichuan yang dulu disebut Szechuan. Dari sini, makanan ini merambah dan populer di provinsi lainnya di antaranya Chengdu dan Chongqing.

Sejatinya pula, Szechuan Soup telah terkenal sejak zaman Dinasti Han yang diklaim sebagai dinasti tertua di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Pada zaman Samkok (Tiga Kerajaan), masakan dari daerah ini dikenal dengan rasa manisnya. Pada zaman Dinasti Jin, tercatat rakyat daerah ini memasak makanan dengan bahan-bahan jahe, mustar, kucai, dan bawang, sehingga kemungkinan masakan mereka memiliki aroma dan rasa bumbu yang kuat.

Pada awalnya, Szechuan Soup belum mengenal rasa pedas. Sejak akhir abad ke-17 di zaman Dinasti Qing, ketika cabai merah dan bumbu rempah dari Amerika Selatan diperkenalkan ke Tiongkok, barulah bahan-bahan asing itu menambah cita rasa baru bagi masakan masyarakat di Szechuan (Sichuan).

Sejak era Qing, sudah tercatat sebanyak 38 jenis metode memasak dalam kuliner Szechuan, dalam artian Szechuan adalah metode memasak ala Szechuan, bukan seperti yang dikenal sebagai sup seperti saat ini.

Kala itu, metode memasak ala Szechuan yang bukan sekadar “soup” yang populer antara lain ditumis, direbus kering, pao (rebus dalam air), dan hui (goreng dan rebus dengan saus pati jagung). Kondisi geografi juga memungkinkan metode mengawetkan makanan dengan cara fermentasi, mengasinkan, mengeringkan, dan mengasap.

Sebelumnya, lantaran daerah Szechuan terkurung daratan sehingga masyarakatnya tidak menggunakan bahan-bahan dari laut untuk makanan. Namun, dalam perkembangannya, terutama di daerah pesisir seperti Hainan yang masyarakatnya hidup dari hasil laut maka Szechuan Soup mulai menggunakan udang, cumi, kepiting, dan lain-lain.

Sementara, di daerah daratan Tiongkok lainnya tetap menggunakan dan bahan-bahan berdasarkan yang ada seperti daging hewan ternak seperti unggas dan sapi. Adapun bahan-bahan untuk menciptakan ragam cita rasa berasal dari saus, antara lain kecap asin, cuka, saus tauco, mustar pedas, dan garam.

Masyarakat di sana jarang menggunakan rasa tunggal dalam arti tawar lazimnya masyarakat di negeri jiran mereka di Jepang, sebab kebanyakan menggabungkan dua jenis bumbu atau lebih yang juga berfungsi sebagai penyedap rasa.

Dalam perkembangan selanjutnya, Szechuan Soup dibuat dari lima wewangian bumbu, antara lain adas, lada, jintan, kayu manis, dan cengkeh. Adapun cabai merah sebagai bumbu untuk variasi rasa dipergunakan sejak akhir abad ke-17.

Uniknya, daerah Szechuan memiliki kelembapan tinggi dan sering hujan. Sehingga, cabai merah sebagai bahan masakan digunakan dalam banyak masakan panas seperti sup untuk menghangatkan tubuh, termasuk Szechuan Soup.

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Ini Cara Bedakan Telur Segar dengan Telur Busuk

Novelet: Season of The Fireworks 9

Sekilas Mirip, Ini Perbedaan Es Pallu Butung dan Pisang Ijo

Jadi Grab Merchant Pilihan, Resto di Kupang Ini Akui Penjualan Meningkat

Chicken Rice Teriyaki, Kolonialisasi Zaman Now Jepang Lewat Kuliner

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar