Masyarakat NTT Resmi Beraktivitas dalam New Normal pada 15 Juni

Terkini.id, Kupang – Pandemi novel coronavirus disease 2019 (Covid-19) yang masih mewabah di seantero wilayah Indonesia, dalam beberapa bulan terakhir telah melumpuhkan perekonomian rakyat.

Banyak sektor yang terimbas, bahkan kolaps lantaran adanya pembatasan kegiatan yang selama ini menjadi kebijakan Pemerintah guna menekan pandemi virus corona.

Kendati demikian, untuk kembali membangun sendi-sendi perekonomian yang lumpuh, pemangku kepentingan Pemerintah baik pusat maupun daerah mengambil jalan tengah yang dianggap mumpuni, yaitu New Normal.

Baca Juga: Ini Peran Kesbangpol dalam Upaya Penanggulangan Covid-19 di NTT

Dalam era New Normal, masyarakat dapat produktif bekerja dan beraktivitas lagi seperti biasa namun tetap mematuhi protokol kesehatan guna menekan penyebaran Covid-19. Artinya, masyarakat tidak lagi harus memusuhi virus corona tetapi mengambil sikap berdamai dan hidup berdampingan dengan virus yang diklaim berasal dari Wuhan, Hubei, Tiongkok tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam siaran persnya yang dibacakan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Jelamu Ardu Marius di Kupang, Selasa 26 Mei 2020.

Baca Juga: Dorong Percepatan Vaksinasi untuk Lansia, Ini yang Dilakukan Pemerintah

“Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat meminta masyarakat untuk masuk dan hidup dalam tatanan kehidupan baru yang disebut New Normal,” kata Marius.

Kendati begitu, sebut Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT itu, Gubernur NTT meminta masyarakat untuk menerapkan pola dan budaya hidup baru dalam konteks kehidupan New Normal. Hal itu diimplementasikan dengan pendekatan dan tingkat kedisiplinan yang tinggi.

“Jika sebelumnya tidak akrab dengan masker dan cuci tangan, maka harus mulai membiasakan untuk hidup dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. Ini seperti menggunakan masker setiap keluar rumah, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak (physical distancing), dan menghindari kerumunan,” papar Marius.

Baca Juga: Kabar Baik, 37.430 Warga TTU Telah Divaksin Termasuk Booster untuk...

Dengan pola dan budaya baru tersebut, imbuhnya, maka budaya komunal yang selama ini menjadi landasan masyarakat NTT agar disesuaikan dengan kondisi Covid-19.

“Meskipun tidak menciptakan kerumunan orang, tetapi harus menjaga jarak fisik antara kita,” kata Marius yang meneruskan pesan Gubernur NTT yang juga merupakan politisi dari Partai Nasdem tersebut.

Dengan penerapan New Normal itu, juga berarti aktivitas masyarakat dapat mulai dijalankan sebagaimana biasanya. Namun, tetap dalam koridor dan penerapan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat.

Marius mengatakan, terhitung mulai 15 Juni 2020, seluruh aktivitas pemerintahan dan sosial mulai diberlakukan kembali. Aktivitas perkantoran dibuka, demikian juga aktivitas pendidikan di sekolah-sekolah. Selain itu, jalur moda transportasi baik darat, laut, dan udara resmi dibuka.

“Semua resmi dimulai pada 15 Juni 2020, tetapi Gubernur NTT meminta protokol kesehatan selalu dijaga,” pesan mantan Kepala Dinas Pariwisata NTT tersebut.

Marius mengatakan, Gubernur NTT menegaskan masyarakat NTT merupakan orang yang terbiasa untuk bertarung dan survive. Sehingga, tentu tahu bagaimana menjaga atau memproteksi diri dan kesehatannya.

Kendati begitu, Gubernur NTT mengimbau para bupati dan wali kota untuk melindungi kelompok rentan seperti kelompok usia lanjut dan anak-anak. Sementara itu, golongan anak muda juga didorong untuk menggunakan kesempatan membangun NTT dengan menjaga kesehatan dan imun yang baik.

“Gubernur menyampaikan, NTT tidak bisa mengikuti protokol Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) secara lurus (kaku) dengan protokol yang sangat ketat,” imbuh Marius.

Pasalnya, sebut Marius, keterbatasan anggaran dan fasilitas kesehatan di daerah tidak memungkinkan masyarakat hanya pasif berdiam di rumah. Selain itu, kondisi Indonesia tidak sama dengan Italia, Ekuador, dan negara lainnya.

“Gubernur NTT juga menyampaikan kepada para kepala desa dan tokoh masyarakat di desa agar tidak lagi menerapkan pembatasan desa atau penutupan akses masuk keluar desa,” pesannya.

Meskipun secara resmi kebijakan tersebut baru akan berlangsung pada 15 Juni 2020, namun khusus untuk daerah atau kabupaten yang bebas Covid-19, sudah dapat melaksanakan kegiatan seperti biasa.

Marius mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan rapid test di kabupaten Zona Merah guna melihat kecenderungan kurva penyebaran virus corona di NTT.

Hingga saat ini, sebaran kasus positif Covid-19 di NTT ada di 10 kabupaten dan kota, dengan total 85 kasus. Dari angka tersebut, sembilan pasien dinyatakan sembuh.

Bagikan