Ini alasan Marie Cau Terpilih Jadi Wali Kota Transpuan Pertama di Perancis

Terkini.id, Kupang – Terpilih sebagai Wali Kota Tilloy-Lez Marchienes, Perancis, Marie Cau sontak jadi buah bibir di Negeri Menara Eiffel. Tidak hanya di Perancis, tetapi transpuan ini juga menjadi sorotan berbagai media besar dunia.

Pasalnya, Marie Cau merupakan wali kota transgender pertama di Perancis. Seperti diketahui, transgender atau transpuan arti lain dari waria, masih belum dapat diterima banyak kalangan lantaran pranata tertentu, terutama komunal nonsekuler.

Atas kemenangan Marie Cau sebagai wali kota, para aktivis hak-hak kesetaraan khususnya komunal transgender, menyebut kemenangan Marie Cau sebagai sebuah terobosan.

Baca Juga: Youtuber Ferdian Paleka Dipolisikan Lantaran Prank Sembako Sampah kepada Transpuan

Usai menerima selempang kehormatan, Marie Cau mengungkapkan komitmennya untuk meningkatkan kondisi lingkungan dan sosial kota yang dipimpinnya agar lebih baik.

Sekadar diketahui, ia secara meyakinkan merengkuh kemenangan dalam satu putaran pada pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) di Perancis pada 15 Maret 2020 lalu.

Baca Juga: Didera Wabah Corona, PSK Transgender di Negara Ini Terancam Kelaparan

Manifesto “Deciding Together” yang diusung Marie Cau, mendapatkan respons suara mayoritas dari total 550 di kota yang berbatasan dengan Belgia itu.

Pelantikan politisi yang saat ini berusia 50 tahun tersebut dilaksanakan dua bulan setelah Pemilu, normalnya adalah lima hari lantaran pandemic virus corona.

Marie Cau sendiri mengatakan sama sekali tidak terkejut ataus kemenangan yang diraihnya, yang saat inaugurasi mengenakan setelan busana berwarna biru.

Sebagai seorang insinyur, ia mendeskripsikan sosoknya sebagai leader perusahaan yang memiliki minat terhadap pertanian dan lingkungan dan bukan karena ia transgender.

Wali kota baru itu mengungkapkan, penduduk memilihnya lantaran mereka sepakat dengan program pertanian keberlanjutan, ekonomi lokal, dan isu lingkungan yang diusungnya.

“Warga tidak memilih saya karena transgender. Mereka memilih karena program dan nilai-nilai manifestasi demi kesejahteraan. Rakyat ingin perubahan, itu saja,” beber Marie Cau.

Ia menambahkan, memiliki impian menjadikan kotanya sebagai daerah percontohan. Nantinya, warga bisa melakukan hal yang tidak bisa dikerjakan Pemerintah.

Marie Cau akan segera menjabat, seperti diberitakan AFP, Senin 25 Mei 2020, dengan tantangan terberatnya adalah virus corona yang tengah mewabah.

Kendati demikian, pejabat publik ini mengaku tidak risau. Pasalnya, ia sudah memiliki tim impian guna menunjang segala program kampanyenya. Ia mengatakan, tim itu berasal dari berbagai kelompok umur, gender, ataupun ras yang beragam.

Pernyataan Marie Cau yang menjelaskan ia dipilih bukan karena faktor status fisiknya dibenarkan salah seorang warga Tilloy-Lez-Marchiennes, Herve Fontanel.

“Marie Cau sudah tinggal di sini selama 20 tahun. Jadi, kami tahu bagaimana ia bekerja. Jika ia mampu membangun ikatan, begitu juga dengan wilayah Tilloy,” tegasnya.

Tetangga Fontanel, Marie-Josee Godefroy, juga sependapat. Menurutnya, tentu kota kecil yang mereka diami selama turun temurun akan semakin sejahtera dan berbicara banyak dalam persaingan global.

Visibilitas trans Marie Cau dikenal karena nama tengah ketiganya, dengan 15 tahun sejak masa perubahannya sebagai transpuan, ia mengaku tidak mendapatkan diskriminasi dari warga di kotanya.

“Ini aneh. Orang-orang (lain yang transpuan) tentu menjadi perhatian, meski ada beberapa kesalahan yang saya buat tentunya,” bebernya.

Pasangannya sekaligus penasihat kota, Nathalie Leconte mengatakan, selama ini Marie Cau tidak takut menceritakan seperti apa dirinya di hadapan orang-orang.

“Oleh karena itu, saya terkejut dengan besarnya atensi yang diberikan media begitu ia memenangi pemilihan ini,” ujar Leconte.

Marie Cau mengatakan, ia merasa terkejut karena orang juga terkejut. Ia menuturkan, situasinya akan segera normal karena ia dipilih sebagai hasil dari kampanyenya.

Meski begitu, ia mengakui dampak kemenangannya begitu besar. Menurutnya, ini menunjukkan transgender bisa memiliki kehidupan politik yang normal.

Sementara itu, Menteri Persamaan Gender Perancis, Marlene Schiappa mengucapkan selamat atas kemenangan Marie Cau sebagai Wali Kota Tilloy-Lez-Marchiennes.

Adapun Co-President SOS Homophobie, Veronique Godet mengatakan, kemenangan Marie Cau menjadi tolok-ukur dalam histori trans maupun perpolitikan di Perancis.

“Kita bisa melihat sekarang, banyak warga trans mulai menjalani emansipasi dan menjabat di tempat yang sebelumnya tidak dianggap,” jelas Giovanna Rincon dari Acceptess-T.

Bagikan